google
Suparwono sedang bersalaman dengan Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, di salah satu acara di Lampung.
MENGGALA, KOMPAS.com -- Sebagian orang mendamba memiliki tubuh kekar dan tinggi. Namun, tidak halnya dengan almarhum Suparwono (27) dan keluarganya.
Seperti dituturkan Sugito (65), ayahanda Suparwono, tidak mudah bagi anaknya itu untuk melakukan keseharian dalam hidup. Ia bercerita, semenjak lututnya cidera saat berupaya menjadi pemain basket profesional, aktivitas anaknya berkurang drastis. Suparwono sering mengeluhkan sakit apabila berjalan. Bahkan, ia juga tidak sanggup berdiri lama. Dengan kondisi ini, ia tidak bisa bekerja seperti orang normal.
"Pendapatannya hanya dari undangan-undangan oleh gubernur dan bupati. Bisa dapat Rp 5 juta hingga Rp 8 juta sekali diundang untuk acara. Tetapi, ini tidak sering. Kadang, 2 sampai 3 bulan penuh menganggur," tutur Sugito, Kamis (23/2/2012) di Menggala, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung.
Anaknya pernah berangan-angan untuk berkeliling Indonesia, yang terbaru mengunjungi Kalimantan. Namun, kondisi fisiknya menyulitkan rencana itu. Untuk naik pesawat pun harus pesan khusus jauh-jauh hari.
"Ia tidak bisa duduk di bangku biasa. Kepalanya terantuk saking tingginya. Makanya, biasanya ia disiapkan bangku khusus di tengah," kata Sugito.

