Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 08:32 WIB
Bayi Ini Lahir dengan Usus Terburai
Ahmad Faisol | Pepih Nugraha | Rabu, 22 Februari 2012 | 18:39 WIB
|
Share:

Ahmad Faisol
Bayi malang ini lahir dengan kondisi usus terburai. Hingga kini orang tuanya tak sanggup membawanya ke RSUD dr Saiful Anwar Malang karena tidak punya uang untuk biaya hidup selama dirawat.

TERKAIT:

SITUBONDO, KOMPAS.com— Nasib bayi perempuan dari pasangan suami istri Saiful Badri (29) dan Siti Ramla (26), warga Kampung Pasar Nangka, Desa/Kecamatan Jangkar, Situbondo, Jawa Timur, ini memprihatinkan. Bayi berusia empat hari itu terlahir dengan kondisi usus terburai ke luar atau dalam bahas medisnya disebut Gastro Schisis.

Selain usunya terburai, bobot bayi perempuan ini sekitar 1,5 kg. Dia lahir prematur dan melalui proses persalinan normal dengan lahir di tempat praktik bidan desa tempat tinggalnya. Karena usunya terburai keluar, bidan desa itu menyarankan agar dibawa ke RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo.

"Atas saran bidan desa, pihak keluarga langsung membawa ke RSUD. Anak saya sudah tiga hari dirawat di ruang khusus anak," kata Saiful, (22/2/2012).

Humas RSUD Iir Nadiroh mengatakan, kondisi bayi tersebut cukup memprihatikan karena hampir 50 persen usus halusnya keluar dari lubang sebesar 4 centimeter yang berada di pusarnya. Karena keterbatasan fasilitas, pihaknya akan merujuk bayi mungil ini ke RS dr Saiful Anwar Malang atau ke RS dr Soetomo Surabaya.

"Karena orang tuanya merupakan warga miskin, RSUD Situbondo akan menanggung semua biaya medis dan ambulans selama dirawat di Malang atau di Surabaya. Tapi kami masih menunggu keputusan orang tuany," katanya.

Iir Nadiroh menambahkan, sejak masuk rumah sakit pada 19 Februari lalu, pihaknya sudah menyarankan agar anak Badri segera dirujuk ke Malang. Namun, hingga hari ini tidak ada keputusan dari pihak keluarga, sehingga bayi itu tetap tergolek di ruang perawatan perinatologi. Meski biaya medisnya gratis, Saiful belum bisa berbuat banyak karena mengaku tidak kuat menanggung biaya hidup selama di Malang atau Surabaya.

"Saya mau saja dirujuk ke Malang, namun dari mana biaya hidup untuk keluarga yang ikut ke Malang? Saya bingung sekarang harus mencari pinjaman uang kemana lagi ini," katanya yang berprofesi sebagai nelayan.