Sabtu, 29 Agustus 2015

Regional

Mewarnai Peradaban Liyangan

Rabu, 22 Februari 2012 | 09:44 WIB

Indira Permanasari dan Aloysius B. Kurniawan

KOMPAS.com - Penggalian di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kabupaten Temanggung, menemukan jejak permukiman Mataram Kuno yang terkubur letusan Gunung Sindoro. Temuan ini sangat penting karena selama ini jejak Mataram Kuno berupa candi.

Petunjuk awal bahwa di sekitar Liyangan pernah berdiri perkampungan kuno ditunjukkan dengan penemuan arang-arang kayu bekas tiang rumah serta anyaman bambu dan ijuk yang juga telah menjadi arang. Semua jejak budaya itu ditemukan enam sampai delapan meter di dalam timbunan pasir dan batuan.

Arkeolog dari Balai Arkeolog Yogyakarta, yang meneliti Situs Liyangan, Sugeng Riyanto, mengatakan, Liyangan adalah bekas pedusunan yang pernah berkembang pada masa Mataram Kuno. Selain itu, Liyangan juga menjadi satu-satunya situs yang mengandung data arkeologi berupa sisa rumah dari masa Mataram Kuno.

Dari jejak temuan yang ada, Sugeng dan peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta lainnya berupaya merekonstruksi rumah-rumah di Mataram Kuno, yakni berbentuk rumah panggung yang didirikan di atas fondasi batuan andesit dan berlantai kayu setebal enam sentimeter hingga delapan sentimeter. Sedangkan atapnya terbuat dari ijuk dengan rangka bambu. Namun, rekonstruksi utuh rumah panggung itu sulit dilakukan karena sebagian jejaknya rusak akibat penambangan.

Penemuan alat-alat kebutuhan sehari-hari menunjukkan kawasan ini dahulu kala memang sebuah tempat hunian. Benda- benda yang banyak ditemukan antara lain pipisan dan gandik yang merupakan alat penggerus obat-obatan pada zaman dahulu.

Pipisan dan gandik ditemukan tersebar di reruntuhan candi. Di kompleks ini pula ditemukan semacam petirtaan atau mata air yang menjadi tempat utama pengambilan air untuk kebutuhan ritual keagamaan.

Tak hanya situs permukiman, kawasan yang berada di lereng Gunung Sindoro ini diduga juga menjadi area pertanian.

Sugeng menyebutkan, masyarakat yang menghuni kawasan itu pada masa lalu telah menguasai teknologi pertanian. Ini ditandai dengan temuan bangunan mirip talud tebing yang dibangun dari kubus-kubus batu dan ”konstruksi” talud dari boulder yang menempel pada talud tebing.

Meskipun belum diketahui fungsinya, diduga bangunan tersebut merupakan hasil rekayasa lingkungan yang berkaitan dengan pertanian. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya sejumlah yoni di sekitarnya yang tak kontekstual dengan bangunan candi. Yoni-yoni tersebut berkaitan dengan kegiatan pertanian sebagai perlambang kesuburan.

Terkubur

Melihat tumpukan material yang menguburnya, diduga kuat perkembangan peradaban ini terhenti akibat letusan Gunung Sindoro. Penanggalan bambu terarangkan di Liyangan yang dilakukan Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan letusan itu kemungkinan terjadi pada 971 Masehi dengan penyimpangan 112 tahun.

Material yang mengubur kompleks Liyangan ini merupakan aliran piroklastik atau awan panas Sindoro. ”Kompleks ini terkubur dalam satu kali periode letusan karena tak ada perlapisan yang menunjukkan perulangan aliran piroklastik,” ujar Helmy Murwanto, geolog Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta. Volume letusan yang sangat besar mengisi lembah dan meluap ke permukiman.

Penemuan Situs Liyangan memperkuat hipotesis bahwa deretan pegunungan Merapi, Sindoro, Sumbing, dan Dieng menjadi semacam poros berkembangnya permukiman Mataram Kuno. Jawa Tengah berkembang menjadi pusat budaya klasik pada abad 7-10.

Budaya yang dipengaruhi kebudayaan India itu mencapai perkembangan pesat di wilayah Kedu dan Prambanan. Poros Kedu-Prambanan itu kini meliputi daerah-daerah yang termasuk wilayah Kabupaten Magelang (Jawa Tengah) dan Kabupaten Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta), khususnya sekitar Prambanan.

Kabupaten Temanggung yang terletak di sebelah utara Kabupaten Magelang juga merupakan daerah penting pada masa lalu. Di wilayah itu ditemukan cukup banyak candi dan prasasti dari masa Mataram Kuna.

Apalagi, di dekat situ ditemukan pula Prasasti Rukam di Desa Petarongan, Kecamatan Parakan, di kawasan lereng Gunung Sindoro.

Prasasti Rukam ini merupakan satu-satunya prasasti yang secara jelas menggambarkan dampak letusan gunung api terhadap peradaban di masa lalu.

"Munculnya letusan-letusan gunung yang kemudian mengubur peradaban meyakinkan masyarakat saat itu bahwa tanah- tanah di tempat itu tak diberkati Tuhan sehingga mencari daerah lain," kata Ketua Balai Arkeologi Yogyakarta Siswanto. (ROW/ANG/AIK)

Ikuti perkembangan Ekpedisi Cincin Api di: www.cincinapi.com atau melalui Facebook: ekspedisikompas atau twitter: @ekspedisikompas

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Tri Wahono
Sumber: