SURYA/SUGIHARTO
Foto hasil jepretan seorang petugas BKSDA menunjukkan seekor monyet yang ditemukan di bekas gudang kaca di Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA, KOMPAS.com - Penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) dan Siaga Satu serangan monyet di Sidoarjo, Jawa Timur, dinilai terlalu berlebihan, karena hanya akan meresahkan warga.
Ketua Pro Fauna Indonesia, Rosek Nurhadi mengatakan, serangan monyet itu memang meresahkan, tetapi belum pada tingkat yang luar biasa, karena jumlah monyet juga belum pasti. ''Pro Fauna minta pada semua pihak tetap tenang dan tidak berlebihan menyikapi kasus serangan monyet ke warga,'' kata Rosek kepada Kompas.com, Kamis (16/2/2012).
Kata Rosek, beberapa hari lalu pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan semua institusi di Sidoarjo untuk mencari solusi yang tepat mengatasi serangan monyet ekor panjang. ''Kami juga sudah menawarkan rehabilitasi untuk monyet yang sudah ditangkap warga sebelum dikembalikan ke habitat mereka,'' tambahnya.
Meskipun sudah meresahkan warga monyet-monyet itu tidak boleh diperlakukan seenaknya karena akan semakin membuat mereka marah. Tim Pro Fauna juga sudah menyarankan pada Pemkab Sidoarjo untuk tetap menggandeng BKSDA, Balai Karantina, tim dokter hewan dan kepolisian untuk mengatasi serangan monyet.
Di sisi lain, polisi harus mampu mengusut kasus serangan monyet itu secara pidana, khususnya pada pemilik monyet yang mengakibatkan keresahan warga. ''Pantauan kami sementara, monyet ekor panjang yang meresahkan warga dipastikan masuk satwa yang belum dilindungi,'' ujarnya.
Sebelumnya, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah menyatakan status KLB serangan monyet di Kecamatan Taman, karena selama lebih dari seminggu terjadi serangan monyet di kecamatan tersebut. Tercatat 26 orang digigit dan dicakar monyet. Para korban harus dirawat di Rumah Sakit Siti Khodijah Kecamatan Sepanjang.
Bupati juga menyatakan menetapkan status siaga I bagi Kabupaten Sidoarjo atas serangan monyet itu.
