KOMPAS/P. RADITYA MAHENDRA YASA
Anak-anak terpaksa harus menyeberangi Sungai Jragung saat akan ke sekolah di Desa Jragung, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Sabtu (11/2/2012). Tidak adanya akses jembatan telah menghambat aktivitas perekonomian warga serta menyulitkan siswa saat akan pergi ke sekolah.
DEMAK, KOMPAS.com — Parsimah terseok-seok menyeberangi Sungai Jeratun saat mengantarkan anaknya ke sekolah di Desa Jranggung, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Sabtu (11/2/2012) pagi tadi.
Menyeberangi sungai selebar 30 meter memang setiap hari dilakukan Parsinah, seperti halnya ratusan warga lain yang akan keluar dari dusun mereka yang terisolasi karena tidak adanya jembatan. Dan, rutinitas seperti itu sudah dijalani warga negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini.
Dalam keadaan arus sungai yang normal, mereka mencari alur yang dangkal saat melintasinya. Namun, begitu air meluap seperti saat musim hujan ini, menyeberang sungai yang mau tidak mau harus mereka lakoni itu bisa menjadi ancaman maut.
Untuk sedikit mengurangi risiko terseret arus, mereka biasa menggunakan batang pisang sebagai sampan karena tidak ada perahu atau jasa penyeberangan yang tersedia.
Bagaimana dengan anak-anak sekolah? Selama bertahun-tahun itu pula puluhan anak juga harus menyabung nyawa saat akan pergi sekolah di SD Jranggung 03 yang berjarak 100 meter dari sungai. Sejumlah orangtua bahkan harus mengantarkan anak mereka dengan menggendongnya di punggung.
Melintasi sungai di Jranggung yang kerap menimbulkan banjir ini, menurut warga, menjadi salah satu pilihan untuk menyingkat perjalanan. Sebab, jika harus melewati jalan setapak desa, jarak tempuhnya berlipat-lipat hingga lebih dari lima kilometer.
Tentu saja, keterisolasian itu bukan hanya menyusahkan aktivitas warga yang sebagian besar petani. Perekonomian desa pun terhambat. Sering kali hasil panen mereka berupa jagung, kacang, dan tembakau terlambat dijual karena sungai banjir.
Asroton, salah satu perangkat desa, mengungkapkan, keterisolasian itu sebenarnya sudah lama menjadi keprihatinan masyarakat. Mereka bahkan merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah negeri ini.
"Masyarakat sangat membutuhkan jembatan agar mereka mudah beraktivitas dengan aman," kata Asroton.

