Kamis, 17 April 2014

News / Regional

Lahan Pertanian Kota Malang Terancam Habis

Sabtu, 11 Februari 2012 | 11:41 WIB

Baca juga

MALANG, KOMPAS.com - Bangunan pertokoan dan perumahan di Kota Malang, Jawa Timur, beberapa tahun ini terus menjamur. Hal tersebut berakibat pada berkurangnya lahan pertanian. Otomatis, produksi hasil pertanian juga berkurang.

"Dalam ada beberapa tahun ini, luas lahan pertanian setiap tahunnya terus mengalami pengurangan. Hal itu jelas mempengaruhi produktivitas hasil pertanian yang ada," jelas Kepala Dinas Pertanian (Dintan) Kota Malang, Ninik Suryantini, Sabtu (11/2/2012). Dengan kondisi demikian, pemerintah Kota Malang tidak berani mencanangkan target produktivitas pertanian pada 2012.

"Kalau produksi perhektare tetap sesuai target. Tapi kalau luas lahan jelas berkurang," jelasnya.

Ninik membeberkan, dari data Dintan Kota Malang, pada 2007 silam, luas lahan pertanian masih sekitar 1.550 hektare. Data terakhir pada 2010 terus menyusut dan tinggal 1.400 hektare saja.

"Tahun 2012 ini, luas lahan sudah tinggal 1.300 hektare. Itu data sementara yang kami miliki," akunya.

Ditanya soal produktivitas pertanian yang ada di tahun 2011, sebanyak 6,7 ton per hektarenya. "Jumlah itu naik 5 persen dibanding tahun sebelumnya. Itu sesuai target produktivitas per hektare dari pemerintah pusat," ujarnya.

Untuk 2012 ini, Dintan Kota Malang tak berani mencanangkan target akumulatif pada 2012 ini. Karena masih menunggu validasi data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang sebelum menentukan target produksi. "Kami masih menunggu validasi data dari BPS," katanya.

Lebih lanjut Ninik mengatakan, meski produktivitas pertanian di Kota Malang secara keseluruhan menurun, pihaknya tetap yakin tak akan mempengaruhi ketahanan pangan. "Karena, Kota Malang mengandalkan daerah lain seperti Kabupaten Malang atau Blitar untuk memenuhi kebutuhan padi," katanya.

Ditanya, apa penyebab berkurangnya lahan pertanian di Kota Malang, Ninik menjawab, karena disebabkan peralihfungsian lahan pertanian menjadi kawasan pertokoan dan menjamurnya perumahan.

"Makanya, Dintan mengusulkan kepada Badan Perencanaan Pembangunan daerah (Bappeda) Kota Malang, soal penetapan lahan abadi atau biasa disebut sabuk hijau dalam Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) 2011-2012," katanya.

Ninik menambahkan, pihaknya mengusulkan untuk melindungi kawasan pertanian yang tersisa agar tidak berubah fungsi jadi pertokoan dan perumahan. Karena dari lima kecamatan yang ada, untuk Kecamatan Klojen sudah tidak ada lagi lahan pertanian yang tersisa. "Selain Klojen, yang masih tersisa lahan pertanian di antaranya, di Kecamatan Sukun, Lowokwaru, Kedungkandang dan Blimbing. Saat ini Dintan Kota Malang sudah menyiapkan anggaran senilai Rp 1,2 miliar untuk program pertanian," katanya.


Penulis: Yatimul Ainun
Editor : Pepih Nugraha