AMBON, KOMPAS.com -- Penyelesaian masalah Porto dan Haria tidak pernah menyentuh akar masalah. Penyelesaian yang dilakukan kerap mengedepankan cara-cara normatif dengan pengerahan aparat keamanan, padahal perdamaian yang tercipta dengan cara-cara tersebut hanya bersifat sementara.
Demikian disampaikan sosiolog dari Universitas Pattimura, Tony Pariella, menyikapi bentrokan yang terjadi kembali antara warga Porto dan Haria, dua desa di Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, pada Jumat (10/2/2012).
Sepanjang tahun 2011, setidaknya sudah lima kali bentrokan kedua desa itu terjadi. Bentrokan pun tidak kali ini saja yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian materiil. Pada bentrokan akhir Maret 2011, misalnya, enam rumah rusak, dan bentrokan akhir November 2011, seorang warga tewas tertembak.
Menurut Tony, perlu penyelesaian yang utuh dan cerdas, antara lain dengan mengidentifikasi dan menyelesaikan penyebab bentrokan. Selain itu, karena warga kedua desa ini menganut agama yang sama, pelibatan tokoh agama sangat penting. "Perjanjian perdamaian pun perlu diikat dengan doa, ditambah juga dengan adat," kata Tony.
