Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 00:17 WIB
Antisipasi Abu Semeru, Jam Belajar Dikurangi
Yatimul Ainun | I Made Asdhiana | Kamis, 9 Februari 2012 | 21:49 WIB
|
Share:
YATIMUL AINUN Siswa SDN Argoyuwono 1, Ampelgadeng, Kabupaten Malang, saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas yang menggunakan masker, untuk mengantisipasi abu Gunung Semeru, Kamis (9/2/2012).

MALANG,KOMPAS.com - Antisipasi abu vulkanik Gunung Semeru mulai dilakukan oleh warga yang tinggal di lereng Gunung Semeru, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Warga mulai diminta untuk memakai masker setiap mau keluar rumah. Begitu juga siswa SD/SMP satu atap, Desa Argoyuwono, Kecamatan Ampelgading.

"Alhamdulillah, sudah ada pemberian masker ke siswa kami disini. Karena kalau tak pakai masker, kami khawatir banyak siswa yang tak masuuk sekolah karena sakit. Tapi sampai saat ini belum ada siswa yang sakit akibat gugusan lava pijar Gunung Semeru," jelas Slamet Mulyono, Kepala Sekolah SDN/SMPN satu atap Argoyuwono 1, Kamis (9/2/2012).

Di SDN/SMPN setempat, untuk SMPN ada 106 siswa dan untuk SDN sebanyak 223 siswa. Pihak Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kabupaten Malang, memberikan masker ke seluruh siswa yang ada.

Sejak diberikan masker, para siswa serta para guru langsung memakai masker dalam kegiatan belajar mengajar. "Kalau sudah memakai masker kami lebih tenang. Karena sejak 3 hari ini, cuacanya cukup panas. tak seperti hari sebelumnya," kata Slamet kepada Kompas.com.

Untuk abu vulkanik katanya memang belum terasa. Tapi sudah mulai terasa pada tanaman dan buah-buahan serta sayur-sayuran yang ditanam warga setempat. "Sejak dua hari ini, kami selaku kepala sekolah membuat kebijakan baru soal jam masuk dan pulang sekolah. Karena siswa tidak kuat panas," katanya.

Menurut Slamet, di SDN/SMPN satu atap itu, sebelumnya pulang sekolah pada pukul 12.15 WIB. "Dua hari ini dipulangkan pada pukul 11.30 WIB. Mulai masuk sekolah pada pukul 07.00 WIB. sebelumnya pada pukul 07.15 WIB. Karena semakin siang, cuaca semakin panas. Kasihan siswanya," kata Slamet.

Cuaca panas menyengat diakui Yeyen Puspitasari, siswa kelas 6. "Sejak kemarin, teman-teman tak kerasan di kelas. Cuacanya panas. Walau ada di dalam kelas cukup panas. Padahal sebelumnya cuacanya sejuk. Apalagi saat masuk ke dalam kelas," katanya.

Dengan cuaca mulai panas itu, Yeyen dan para siswa lainnya di sekolah setempat mengaku, mulai terasa terganggu saat mengikuti belajar mengajar. "Semoga cuaca cepat normal," harapnya.