Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 00:07 WIB
Gubernur Jabar Ajak Lawan Separatisme
Ratih Prahesti Sudarsono | Agus Mulyadi | Kamis, 9 Februari 2012 | 19:40 WIB
|
Share:
Didit Putra Erlangga Rahardjo/KOMPAS Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, mengajak masyarakat provinsi itu untuk melawan separatisme, dan menghindari pihak-pihak yang mencoba memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Ia juga mengingatkan agar senantiasa memperkuat 4 pilar, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Humas Pemprov Jawa Barat, dalam siaran pers Kamis (9/2/2012) ini, Heryawan mengatakan itu dalam seminar nasional Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan Ormas Buah Batu Corps (BBC) di Hotel Horison Kota Bandung, Kamis ini.

"Kita harus lawan habis tindakan sparatisme yang ingin memecah-belah NKRI. Semua berasal dari tanah yang sama, yakni tanah Indonesia. Meski kita terpisah-pisah oleh lautan, berbeda bahasa dan budaya namun tetap NKRI," tegasnya.

Gubernur juga memaparkan adanya upaya provokasi di dua wilayah di Indonesia, oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yakni Aceh dan Papua. Untuk itu sebagai Gubernur Jawa Barat, ia rela bila kedua provinsi tersebut mendapat perhatian lebih dari pusat.

"Saya rela Aceh dan Papua diberi otonomi khusus, bahkan Jabar yang penduduknya paling banyak, mendapat anggaran lebih kecil daripada dua daerah itu. Tak mengapa, karena semua itu dilakukan demi menjaga keutuhan NKRI," jelas Heryawan.

Ia pun berpesan agar masyarakat dapat menjaga pilar-pilar demokrasi, karena sejatinya makna yang tertuang pada Bhineka Tunggal Ika yang menjadi salah satu pilar, adalah mewujudkan kebersamaan dalam perbedaan bukan menjadikan perbedaan menjadi simpul perpecahan.

Lebih lanjut Heryawan menyatakan, keberagaman Indonesia yang terdiri lebih dari 17.000 pulau dan memiliki 68 bahasa, sangat dikagumi masyarakat dunia. Karena dari sekian perbedaan yang ada, masyarakat Indonesia bisa hidup rukun dan damai.

Lain halnya dengan bangsa lainnya di dunia, di mana mayoritas bangsanya bersifat homogen, sehingga tak terlalu membutuhkan tenaga ekstra untuk menyatukan.

"Aplikasi dari kebangsaan adalah memajukan bangsa di segala bidang, baik pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya, sampai teknologi," katanya.