MEDAN, KOMPAS.com — Setelah pelabuhan hancur diterjang tsunami tahun 2005, Kabupaten Mandailing Natal bakal memiliki pelabuhan baru di Desa Palimbungan, Kecamatan Batahan.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Mandailing Natal Harlan Batubara, Rabu (8/2/2012), mengatakan, pembangunan sudah memasuki kajian analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) dan desain engineering detail (DED).
”Targetnya pada 2013 pelabuhan sudah dibangun,” tutur Harlan.
Pembangunan pelabuhan baru di tepi barat Pulau Sumatera itu merupakan proyek Kementerian Perhubungan dengan dana APBN sebesar Rp 183 miliar. Pelabuhan akan memiliki dermaga sepanjang 70 meter dengan kedalaman sekitar 8 meter saat air pasang.
”Kami sudah menyiapkan lahan seluas 25 hektar dari hibah masyarakat,” tutur Harlan.
Sejak tsunami tahun 2005, praktis tak ada kegiatan kepelabuhanan lagi di Mandailing Natal. ”Pelabuhan ini sangat penting bagi Kabupaten Mandailing Natal,” tutur Harlan.
Aktivitas perekonomian terutama pengangkutan kelapa sawit dan minyak mentah kelapa sawit (CPO), bisa dilakukan melalui laut.
Saat ini, kata Harlan, puluhan truk kelapa sawit melintas di jalan kabupaten menuju empat pabrik kelapa sawit di Mandailing Natal. Selain menyebabkan kemacetan, truk juga membuat jalan gampang rusak.
”Apalagi ke depan bakal tumbuh lagi pabrik-pabrik kelapa sawit baru,” kata Harlan.
Dengan adanya pelabuhan itu, transportasi hasil bumi bisa dilakukan lewat laut. Pelabuhan juga diharapkan bisa menghubungkan Mandailing Natal dengan Sibolga dan Teluk Bayur.
