Selasa, 23 September 2014

News / Regional

GUNUNG KIDUL

Video Pesta Seks Pelajar Beredar di Gunung Kidul

Rabu, 1 Februari 2012 | 05:19 WIB

GUNUNG KIDUL, KOMPAS.com — Sebuah video pesta seks pelajar kembali beredar. Kali ini terjadi di Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Dalam video tersebut terdapat tujuh anak laki-laki serta dua perempuan melakukan pesta mesum di hutan Semampir, Desa Semugih Rongkop, yang diduga kuat diabadikan dengan kamera ponsel oleh salah satu pelaku.

Video berdurasi 00:51 tersebut menayangkan siswa-siswi salah satu sekolah negeri di kawasan Rongkop. Bahkan, video berformat 3GP tersebut terbagi dalam tiga bagian.

Video itu dengan jelas menggambarkan ketujuh anak laki-laki tersebut sedang asyik menikmati minuman keras, sementara pada gambar selanjutnya tampak seorang gadis sedang disentuh oleh beberapa laki-laki. Di sisi lain, seorang gadis ABG juga terlihat menggelayut di pundak salah satu anak laki-laki. Terlihat, salah satu anak laki-laki, masih mengenakan baju berwarna coklat pramuka yang disinyalir seragam sekolah, melihat aksi nakal beberapa temannya tersebut. Mereka pun terlihat nakal, setelah seperti terhalusinasi minuman keras.

"Ini videonya sangat tidak lazim dilihat oleh banyak orang, dan dilakukan oleh orang berusia belasan, keterlaluan dan merusak generasi," ujar salah satu sumber yang tak berkenan disebutkan namanya, kepada Tribun Jogja, Selasa (31/1/2012).

Ia mengaku, video tersebut sudah beredar di kalangan warga. Bahkan, melalui teknologi Bluetooth, banyak orang dengan mudah mengaksesnya. Bahkan, ia mengaku sudah ada pertemuan warga desa terkait adanya video tersebut.

Kasatreskrim Polres Gunung Kidul Ajun Komisaris Heru Muslimin mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan peredaran video pesta seks pelajar SMA di Rongkop tersebut. Sejauh ini, pihaknya akan menyelidiki dan mengklarifikasi dengan pihak sekolah terkait. Untuk sementara waktu, pihaknya juga mendapatkan laporan bahwa beberapa siswa di sekolah tersebut sudah dikeluarkan karena terlibat di dalam video tersebut.

Sementara itu, pemerhati sosial Gunung Kidul, Tri Asmiyanto, menyarankan agar pemerintah kabupaten melakukan langkah konkret untuk menyikapi masalah kenakalan remaja tersebut. Pasalnya, perilaku generasi muda saat ini sangat memprihatinkan, apalagi melihat beberapa kasus yang sangat fatal ini. Pihaknya mendorong pemerintah setempat untuk lebih berperan dengan pemberian pelajaran kesehatan produksi (kespro) bagi pelajar, dan harus diberikan secara tuntas di sekolah.

"Sejauh ini, pendidikan semacam ini sangat diperlukan. Banyak pelajar yang nakal. Namun, itu tidak semua. Maka dengan bimbingan, akan menjadikan mereka lebih baik," harapnya.

Walaupun demikian, Tri menambahkan, keputusan instansi mengeluarkan pelajar yang terbukti melakukan tindakan asusila tersebut bukan suatu keputusan yang baik.

"Harus dicari akar permasalahannya, jangan sampai dengan memberi keputusan tersebut, justru tidak ada efek yang signifikan," tandasnya. (Ais/Romualdus Pius)


Editor : Latief
Sumber: