Sabtu, 30 Agustus 2014

News / Regional

PERKEBUNAN

Sentra Manggis Sukabumi Masuki Masa Produktif

Rabu, 25 Januari 2012 | 23:23 WIB

SUKABUMI, KOMPAS.com - Sentra perkebunan manggis di Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Jabar tengah memasuki masa produktif dari pohon-pohon yang ditanam. Selama musim panen berlangsung, tingkat produksi bisa mencapai satu ton per hari.

"Masa paling produktif pohon manggis adalah saat berusia 20 hingga 30 tahun. Sebagian besar pohon yang ada di wilayah ini berusia 20 tahun. Jadi kuantitas buah yang dihasilkan pun banyak. Secara kualitas juga sedang bagus," kata Ima Subirma, Ketua Gabungan Kelompok Tani Karya Tani di Desa Bojong, Rabu (25/1/2012).

Ia menuturkan, masa panen manggis dala m satu tahun terbagi dalam tiga tahap, dalam rentang waktu empat hingga lima bulan. Musim panen tahap pertama usai pada akhir Desember lalu. Sedangkan masa panen tahap kedua diperkirakan terjadi pada akhir Februari.

Selama panen tahap pertama lalu, hasil t erbanyak dalam satu hari adalah 70 koli, dengan masing-masing koli seberat 16 kilogram, atau totalnya 1,1 ton. Hasil tersebut didapat dari sekitar 25.000 batang pohon manggis. Nyaris 80 persen pohon-pohon itu menghasilkan buah, lanjut Ima.

Organisasi pet ani tersebut telah bekerjasama dengan sedikitnya empat perusahaan di Jakarta yang memasarkan manggis dari Desa Bojong ke luar negeri, seperti Hong Kong, Taiwan, China, dan Singapura. Buah yang diekspor adalah buah dengan kualitas terbaik. Sedangkan buah d engan kualitas di bawahnya dipasarkan ke berbagai daerah di Pulau Jawa.

Sudirman, salah seorang pengepul manggis, menuturkan pembeli datang langsung ke desa yang mayoritas penduduknya memiliki pohon manggis itu. Bahkan, perusahaan pengekspor manggis sudah mulai berani menitipkan dana kepada para pengepul, yang berfungsi sebagai uang muka, kata dia.

"Manggis dengan kualitas terbaik untuk ekspor, dihargai sampai Rp 11.000 per kilogram. Sedangkan untuk pasar dalam negeri, harganya sekitar Rp 3.500 hingga Rp 5.000 per kilogram, tergantung kualitas," ujar Sudirman.

Pola modern
Sudirman mengatakan, pasar luar negeri mulai terbuka sejak tahun 1990, meski saat itu, pola pertanian masih tradisional. Baru sekitar sepuluh tahun berikutnya, pemerintah mulai turun tangan dengan mengajarkan pola pertanian yang lebih modern dengan standar prosedur baku, misalnya dengan mengatur jarak antarpohon, dan sistem pengairan irigasi tetes.

Ade Suherman, petani yang memiliki sekitar 50 pohon manggis mengatakan, pupuk yang digunaka n adalah pupuk organik, berasal dari kotoran ayam dan sapi. Menurut dia, eksportir tidak mau menerima buah yang menggunakan pupuk berbahan kimia.

"Buah kualitas ekspor, menurut Ade, dijual ke tengkulak dengan harga mencapai Rp 6.000 per kilogram. Sedangkan buah untuk pasar lokal dibeli seharga Rp 3.200 per kilogram. Harga tersebut sudah bagus karena modal yang dikeluarkan petani tidak banyak," ujarnya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukabumi, produksi manggis cenderung meningkat dalam periode 2008-2010. Pada 2008, produksinya sebesar 594 ton. Pada 2010, jumlah itu melonjak jadi 1.706 ton. Produksi terbanyak di kabupaten ini pada 2010 berasal dari Kecamatan Cikembar, yaitu 1.496 ton.


Penulis: Herlambang Jaluardi
Editor : Robert Adhi Ksp