Sentra Manggis Sukabumi Masuki Masa Produktif - Kompas.com

Sentra Manggis Sukabumi Masuki Masa Produktif

Kompas.com - 25/01/2012, 23:23 WIB

SUKABUMI, KOMPAS.com - Sentra perkebunan manggis di Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Jabar tengah memasuki masa produktif dari pohon-pohon yang ditanam. Selama musim panen berlangsung, tingkat produksi bisa mencapai satu ton per hari.

"Masa paling produktif pohon manggis adalah saat berusia 20 hingga 30 tahun. Sebagian besar pohon yang ada di wilayah ini berusia 20 tahun. Jadi kuantitas buah yang dihasilkan pun banyak. Secara kualitas juga sedang bagus," kata Ima Subirma, Ketua Gabungan Kelompok Tani Karya Tani di Desa Bojong, Rabu (25/1/2012).

Ia menuturkan, masa panen manggis dala m satu tahun terbagi dalam tiga tahap, dalam rentang waktu empat hingga lima bulan. Musim panen tahap pertama usai pada akhir Desember lalu. Sedangkan masa panen tahap kedua diperkirakan terjadi pada akhir Februari.

Selama panen tahap pertama lalu, hasil t erbanyak dalam satu hari adalah 70 koli, dengan masing-masing koli seberat 16 kilogram, atau totalnya 1,1 ton. Hasil tersebut didapat dari sekitar 25.000 batang pohon manggis. Nyaris 80 persen pohon-pohon itu menghasilkan buah, lanjut Ima.

Organisasi pet ani tersebut telah bekerjasama dengan sedikitnya empat perusahaan di Jakarta yang memasarkan manggis dari Desa Bojong ke luar negeri, seperti Hong Kong, Taiwan, China, dan Singapura. Buah yang diekspor adalah buah dengan kualitas terbaik. Sedangkan buah d engan kualitas di bawahnya dipasarkan ke berbagai daerah di Pulau Jawa.

Sudirman, salah seorang pengepul manggis, menuturkan pembeli datang langsung ke desa yang mayoritas penduduknya memiliki pohon manggis itu. Bahkan, perusahaan pengekspor manggis sudah mulai berani menitipkan dana kepada para pengepul, yang berfungsi sebagai uang muka, kata dia.

"Manggis dengan kualitas terbaik untuk ekspor, dihargai sampai Rp 11.000 per kilogram. Sedangkan untuk pasar dalam negeri, harganya sekitar Rp 3.500 hingga Rp 5.000 per kilogram, tergantung kualitas," ujar Sudirman.

Pola modern
Sudirman mengatakan, pasar luar negeri mulai terbuka sejak tahun 1990, meski saat itu, pola pertanian masih tradisional. Baru sekitar sepuluh tahun berikutnya, pemerintah mulai turun tangan dengan mengajarkan pola pertanian yang lebih modern dengan standar prosedur baku, misalnya dengan mengatur jarak antarpohon, dan sistem pengairan irigasi tetes.

Ade Suherman, petani yang memiliki sekitar 50 pohon manggis mengatakan, pupuk yang digunaka n adalah pupuk organik, berasal dari kotoran ayam dan sapi. Menurut dia, eksportir tidak mau menerima buah yang menggunakan pupuk berbahan kimia.

"Buah kualitas ekspor, menurut Ade, dijual ke tengkulak dengan harga mencapai Rp 6.000 per kilogram. Sedangkan buah untuk pasar lokal dibeli seharga Rp 3.200 per kilogram. Harga tersebut sudah bagus karena modal yang dikeluarkan petani tidak banyak," ujarnya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukabumi, produksi manggis cenderung meningkat dalam periode 2008-2010. Pada 2008, produksinya sebesar 594 ton. Pada 2010, jumlah itu melonjak jadi 1.706 ton. Produksi terbanyak di kabupaten ini pada 2010 berasal dari Kecamatan Cikembar, yaitu 1.496 ton.


EditorRobert Adhi Ksp

Terkini Lainnya

Polisi Belum Menyerah Tangani Kasus Novel Baswedan

Polisi Belum Menyerah Tangani Kasus Novel Baswedan

Nasional
Dituduh Korupsi, Fahri Hamzah Sebut Nazaruddin Lagi Marah dan Depresi

Dituduh Korupsi, Fahri Hamzah Sebut Nazaruddin Lagi Marah dan Depresi

Nasional
Polisi: Pastikan Dulu Kepulangan Rizieq, Baru Rencanakan Penjemputan

Polisi: Pastikan Dulu Kepulangan Rizieq, Baru Rencanakan Penjemputan

Megapolitan
Belum Terima Surat Penarikan Produk Albothyl, Tenaga Farmasi Kebingungan

Belum Terima Surat Penarikan Produk Albothyl, Tenaga Farmasi Kebingungan

Megapolitan
Wiranto: Akan Selalu Ada Migran Selama Masalah Keamanan di Asia dan Timur Tengah Berkecamuk

Wiranto: Akan Selalu Ada Migran Selama Masalah Keamanan di Asia dan Timur Tengah Berkecamuk

Nasional
Pengusaha Angkot Mau Lanjutkan Program OK Otrip tetapi Ada Syarat

Pengusaha Angkot Mau Lanjutkan Program OK Otrip tetapi Ada Syarat

Megapolitan
Polisi Tembak Mati HR, Spesialis Begal dengan Senjata Api di Jakarta Barat

Polisi Tembak Mati HR, Spesialis Begal dengan Senjata Api di Jakarta Barat

Megapolitan
Pria Jepang Berjuluk 'Pabrik Bayi' Menangkan Hak Asuh 13 Anak

Pria Jepang Berjuluk "Pabrik Bayi" Menangkan Hak Asuh 13 Anak

Internasional
Wiranto Sebut Empat Hal Ini Jadi Ancaman Pilkada Serentak 2018

Wiranto Sebut Empat Hal Ini Jadi Ancaman Pilkada Serentak 2018

Nasional
Ketua DPR: Silakan Persatuan Wartawan Indonesia Gugat UU MD3 ke MK

Ketua DPR: Silakan Persatuan Wartawan Indonesia Gugat UU MD3 ke MK

Nasional
Dana Desa Paling Banyak Dikorupsi, Polisi Minta Masyarakat Aktif Awasi

Dana Desa Paling Banyak Dikorupsi, Polisi Minta Masyarakat Aktif Awasi

Nasional
Dirjen Bina Marga: Kemarin Kami Tegur Keras, Sekarang Evaluasi Waskita

Dirjen Bina Marga: Kemarin Kami Tegur Keras, Sekarang Evaluasi Waskita

Megapolitan
Sopir Angkot OK Otrip yang Bau 'Ketek' dan Gondrong Akan Diberi Sanksi

Sopir Angkot OK Otrip yang Bau "Ketek" dan Gondrong Akan Diberi Sanksi

Megapolitan
Parpol Dilarang Kampanye Pemilu Sebelum 23 September Mendatang

Parpol Dilarang Kampanye Pemilu Sebelum 23 September Mendatang

Nasional
Borong Pangan Murah, Warga Bawa Karung hingga Diantar Becak

Borong Pangan Murah, Warga Bawa Karung hingga Diantar Becak

Megapolitan

Close Ads X