Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan di Jakarta, Selasa (24/1), mengatakan, bulan Februari menjadi puncak dari masa paceklik. ”Saat ini, pergerakan kenaikan harga beras sudah sangat terasa. Ini sudah menjadi pola tahunan sehingga masyarakat tidak perlu panik. Januari-Februari selalu menjadi titik kritis karena harga mencapai puncaknya,” ujarnya.
Dia mengatakan, meski terus naik, harga beras diperkirakan tidak akan menembus level
Saat ini, harga beras di sejumlah wilayah Rp 7.500-Rp 9.000 per kg. Dari pemantauan Kompas, harga beras kualitas medium di Merauke, pekan lalu, berkisar Rp 8.500 per kg, sementara di Karawang Rp 8.200 per kg. Berdasarkan pantauan dari Kementerian Perdagangan di sejumlah kota besar, harga rata-rata beras pada pekan pertama Januari tercatat 7.970 per kg.
Harga beras termurah ada di Gorontalo, yakni Rp 6.250 per kg, dan termahal di Manokwari, Rp 11.000 per kg. Harga beras rata- rata tahun 2011 tercatat Rp 7.372 per kg, naik Rp 860 per kg dari tahun 2010. Harga beras rata-rata tertinggi tahun 2011 pada Desember, yakni Rp 7.802 per kg, sementara harga terendah pada Mei, yakni Rp 7.040 per kg.
Rusman menambahkan, harga beras kualitas rendah sudah melampaui harga pembelian pemerintah (HPP). Harga beras termurah berkisar Rp 6.500 per kg, sementara HPP beras Rp 5.060 per kg. Karena itu, ia mengusulkan agar kenaikan HPP sekitar 28 persen tahun ini.
HPP masih mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2009 tentang Kebijakan Perberasan. Dalam ketentuan tersebut, pemerintah menetapkan HPP gabah kering panen (GKP) tingkat petani Rp 2.640 per kg dan GKP di penggilingan Rp 2.685 per kg. Harga gabah kering giling (GKG) di penggilingan Rp 3.300 per kg dan di gudang Bulog
Secara terpisah, Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan, untuk menstabilkan harga beras, pihaknya terus menggelar operasi pasar. Sepanjang tahun 2011, operasi pasar beras sebanyak 351.358 ton. Jumlah itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 yang 44.000 ton.
”Operasi pasar dilakukan berdasarkan permintaan dari pemerintah daerah. Masalahnya, ada beberapa pemerintah daerah yang tidak mau operasi pasar meski harga beras naik. Padahal, kami selalu siap untuk operasi pasar. Semuanya tergantung dari pemerintah daerah,” ujarnya.
Sepanjang tahun ini, pemerintah menargetkan tidak mengimpor beras. Pemerintah bahkan menargetkan surplus 2 juta ton. Impor selama tahun 2012 adalah sisa impor tahun 2011.
Tahun 2011, Bulog mengimpor beras hingga 1,9 juta ton untuk mencukupi stok beras nasional. Sebanyak 1,3 juta ton sudah masuk gudang Bulog, sisanya akan masuk pada Februari hingga Maret. Target penyediaan stok tahun ini 4 juta ton, atau lebih tinggi daripada permintaan pemerintah, yakni 2 juta ton. Stok itu dari public service obligation (PSO) 3,6 juta ton dan sisanya 400.000 ton dari komersial.

