Sabtu, 26 Juli 2014

News / Regional

NU Jatim Sesalkan Peristiwa Pembakaran di Sampang

Jumat, 30 Desember 2011 | 01:56 WIB

SAMPANG, KOMPAS.com - Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama  (PWNU) Jawa Timur KH Mutawakil Alallah menyesalkan peristiwa pembakaran rumah dan mushala di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang di Kabupaten Sampang, Kamis (29/12/2011).

“Saya sebenarnya belum tahu detail kejadian pembakaran di Sampang, tapi saya menyesalkan kejadian tersebut,” ujar Mutawakil seperti dikutip Tribunnews, Kamis (29/12/2011).

KH Mutawakil mengimbau kepada masyarakat supaya bersikap tenang dan tidak mudah terpancing provokasi. Dan meminta masyarakat bersikap waspada. “Masyarakat harus selalu waspada. Jangan sampai dimanfatkan pihak ketiga yang sengaja melakukan provokasi. Hati-hati dengan pihak yang ingin memecah belah Islam,” tutur Mutawakil.

Sebelumnya, massa membakar empat rumah, mushala dan toko hingga rata dengan tanah pada Kamis pagi. Bangunan tersebut milik empat orang yang masih satu keluarga. Pembakaran pertama menimpa rumah dan mushala, serta toko milik K Tajul Muluk, di Kampung Nangkrenang. Pembakaran kedua terjadi di rumah Iklil Almilal, kakak kandung Tajul. Kemudian rumah Khoirul Ummuh, ibu kandung Iklil dan rumah Ummuh Hanik, adik kandung Tajul.

Akibat pembakaran itu, seluruh perabot di empat rumah itu tidak terselamatkan dan hangus tak tersisa. Sementara ratusan massa yang membakar menghilang dan sampai sekarang belum ditangkap.

Menurut keterangan sumber di lokasi kejadian, selama tiga bulan ini Tajul Muluk bersama istri dan anaknya mengungsi ke Malang, lantaran diancam bunuh warga karena dianggap menyebarkan ajaran yang dianggap menyimpang. Tajul adalah pimpinan pondok pesantren Miftahul Huda dengan santri 130 orang, rumah, toko dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Selama Tajul di Malang, ponpes dipasrahkan kepada Alimullah Muhin (22), santri asal Desa Blu’uran, Kecamatan Omben, yang rumahnya dibakar massa, pertengahan Desember 2011 lalu.

Sehari sebelum kejadian, jalan setapak menuju ponpes Miftahul Huda dan sudah diputus warga. Sekitar pukul 08.00 WIB, Alimullah mendengar kabar, jika ponpes akan dibakar.  Kemudian Alimullah meminta sebanyak 20 santri yang menginap di asrama dipulangkan. Ali dan pengajar lainnya mengungsi ke rumah Nurhalimah, pengikut ajaran Tajul, yang rumahnya terletak sakitar 200 meter sebelah timur ponpes.

Kapolsek Omben dan anggotanya berikut anggota Koramil Omben, yang mengetahui adanya pembakaran langsung bergerak menuju lokasi. Namun di tengah jalan dihadang ratusan massa dengan celurit dan gobang, sehingga kapolsek dan anggota koramil mundur.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyatakan, peristiwa pembakaran di komplek pesantren itu berawal dari masalah keluarga dan kini merembet luas. “Dulu sudah dilakukan pendekatan beberapa kali dengan tokoh masyarakat. Tapi, kok ada kejadian di sana (Omben, Sampang),” kata Soekarwo usai rapat paripurna di DPRD Jatim, Kamis (29/12/2011).

Guna mengatasi kejadian di Sampang, Soekarwo sudah meminta kepada Kapolda Jatim Irjen Polisi Hadiatmoko supaya dalam melakukan pengamanan atas kejadian di Sampang secara persuasif.


Editor : Asep Candra
Sumber: