Minggu, 23 November 2014

News / Regional

Daerah Terpencil (1)

Pinogu, Surga yang Terpencil

Kamis, 29 Desember 2011 | 09:47 WIB

Terkait

GORONTALO, KOMPAS.com -- Pinogu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, yang terdiri dari empat desa, Pinogu, Bangiyo, Pinogu Permai, dan Dataran Hijau. Desa berpenduduk 2.040 jiwa ini berada di pedalaman hutan kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Semua tanaman pertanian dan perkebunan di tanah Pinogu tumbuh subur, tapi sayang tidak bisa dijual ke luar.

Letak Pinogu sebenarnya tidak terlalu jauh, yakni hanya sekitar 30 kilometer dari Desa Tulabulo, Kecamatan Suwawa Timur, yang menjadi satu-satunya pintu masuk menuju Pinogu. Ada tiga cara menuju Pinogu, yakni lewat udara dengan helikopter, berjalan kaki menembus hutan dan melewati lereng gunung, atau naik ojek dengan ongkos sekali jalan Rp 500.000. Bagi kebanyakan warga Pinogu, keluar dan kembali ke desa mereka hanya mungkin dilakukan dengan berjalan kaki.

Perlu fisik prima dan mental baja untuk berjalan kaki menuju Pinogu. Bagi yang belum terbiasa, perlu waktu 9-10 jam berjalan kaki ke Pinogu. Menembus hutan, menyeberangi anak sungai dan Sungai Bone, mendaki dan menyusuri lereng bukit, serta siap-siap digigit lintah di sepanjang perjalanan.

Akhir pekan lalu, Kompas berkesempatan berkunjung ke Pinogu berjalan kaki bersama sekitar 90-an pegawai dari berbagai dinas di Pemerintahan Kabupaten Bone Bolango. Berjalan kaki sejak Jumat (23/12/2011) pukul 07.45 Wita, tiba di Pinogu pada pukul 17.30. Sebagian anggota rombongan ada yang tiba pukul 21.00 dan bahkan ada yang tiba keesokan hari.

Setelah tiba di Pinogu, kentara sekali jika daerah tersebut amat subur dan serba hijau. Di sana-sini berbagai jenis tanaman perkebunan tumbuh segar, seperti kopi, kakao, kemiri, durian, jagung, serta hamparan sawah yang sebagian baru mulai ditanam.

"Semua jenis tanaman di Pinogu tidak menggunakan pupuk sama sekali sebab tanahnya sangat subur. Beras kami adalah beras organik. Sayangnya, kebanyakan hasil panen di sini tidak bisa dijual ke luar karena tingginya biaya angkut," ungkap Kepala Desa Pinogu Harun Maini.


Penulis: Aris Prasetyo
Editor : Nasru Alam Aziz