Rabu, 22 Oktober 2014

News / Regional

Program Padat Karya Pascaerupsi Merapi Berakhir

Kamis, 22 Desember 2011 | 21:02 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Program padat karya pascaerupsi Gunung Merapi dan Sekretariat Tim Pemulihan Kegiatan Ekonomi Masyarakat berakhir, dan ditutup Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Sujana Royat di Yogyakarta, Kamis.

Dalam penutupan tersebut Sujana menyerahkan buku "Best Practices" dan Laporan Akhir Kegiatan Padat Karya kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, Boyolali, Klaten, dan Magelang.

Sujana mengatakan kegiatan padat karya dipilih sebagai suatu langkah strategis untuk mengisi masa transisi dari kondisi darurat ke tahap pemulihan. Kegiatan itu bertujuan agar masyarakat memiliki pendapatan dari kerja yang bermartabat, dan perlahan mulai bangkit membangun kehidupan mereka kembali.

"Dengan menjalankan kerja berupa perbaikan awal dan sederhana terhadap rumah warga yang terkena bencana, prasarana dan fasilitas umum serta pembersihan lahan-lahan usaha penduduk agar prasarana dan fasilitas umum bisa berfungsi kembali, meskipun belum sepenuhnya," katanya, Kamis (22/12/2011).

Menurut dia, sasaran padat karya adalah penduduk yang terkena dampak bencana pada lokasi yang telah ditetapkan, yakni Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Klaten, Magelang, dan Boyolali. Pendanaan untuk program padat karya terdiri atas dua tahap.

Tahap pertama diambilkan dari dana tanggap darurat yang dikelola Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebesar Rp15 miliar dan dilaksanakan pada 13 Desember 2010 sampai akhir Desember 2010.

Kegiatan tersebut menyerap total tenaga kerja sebanyak 18.294 orang di 10 kecamatan yang tersebar di empat kabupaten (Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten).

Tahap kedua berasal dari dana hibah lembaga donor pemerintah Australia, Denmark, Belanda, Inggris, Amerika Serikat (AS), dan Uni Eropa yang dikelola Bank Dunia melalui "PNPM Support Facility" sebesar 4,3 juta dolar AS.

Program itu menggunakan skema PNPM Mandiri Perdesaan dan PNPM Mandiri Perkotaan dengan area kerja 235 desa di empat kabupaten dan satu kota (Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, Klaten, dan Kota Yogyakarta).

"Kegiatan ini dilaksanakan mulai Agustus hingga Desember 2011, dengan perencanaan dimulai pada awal tahun. Kegiatan tersebut telah menyerap sekitar Rp 33,412 miliar dengan total hari orang kerja sebesar 978.889 hari dan total angkatan kerja sebanyak 203.968 orang dengan kegiatan pembersihan dan perbaikan infrastruktur ringan seperti perbaikan jalan, lapangan, dan normalisasi saluran," katanya.

Sekretaris Daerah Provinsi DIY Icshanuri dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Bappeda DIY Tavip Agus Rayanto mengatakan, kegiatan itu memberikan manfaat yang begitu besar bagi seluruh masyarakat khususnya di DIY.

"Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada semua pihak yang telah melaksanakan kegiatan padat karya pola PNPM mandiri. Kami berharap dengan penutupan kegiatan itu bukan berarti menghentikan pembangunan kehidupan masyarakat yang lebih baik, melainkan dapat menjadi acuan dan referensi untuk melanjutkan perubahan yang lebih baik di masa yang akan datang," katanya.


Editor : Benny N Joewono
Sumber: