Jumat, 1 Agustus 2014

News / Regional

Ini Kronologi Peristiwa Mesuji Versi Polri

Rabu, 21 Desember 2011 | 15:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution hari ini, Rabu (21/12/2011), memaparkan kronologi peristiwa di Kabupaten Mesuji, Lampung, yang sempat dilaporkan sejumlah warga Lampung ke Komisi III DPR RI, pekan lalu.

Menurut Saud, di Lampung terdapat dua peristiwa berbeda, yaitu pada 2010 dan 2011. Peristiwa Mesuji pertama terjadi pada 6 November 2010, yaitu penertiban masyarakat perambah di lahan hutan sawit tanpa izin.

"Penertiban dan sosialisasi ini dilakukan oleh tim terpadu bentukan Gubernur Lampung. Tim itu terdiri dari Polda Lampung, Pemda, Kanwil BPN, dan personel TNI sebanyak 153 orang," ujar Saud dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu.

Salah satu tempat yang ditertibkan adalah lahan perkebunan sawit Register 45 PT Silva Inhutani pada 6 November 2010 tersebut. Saat itu operasi penertiban dilakukan oleh 60 personel dari anggota kepolisian dengan dipimpin oleh Ajun Komisaris Besar Priyo Wira. "Massa dari masyarakat yang akan ditertibkan melakukan perlawanan sehingga terjadi bentrok antara petugas dan massa," sambungnya.

Saat bentrokan, kata Saud, Ajun Komisaris Besar Priyo nyaris dibacok oleh seorang warga, Nyoman Sumarde. Akibatnya, ia mengeluarkan tembakan terhadap Nyoman. Hal ini memicu kemarahan warga dan terjadi bentrokan yang lebih besar. Akibatnya, satu warga, Made Asta, tewas tertembak. "Saat Kapolres melakukan negosiasi, massa tetap anarki. Tertembaklah Made Asta di perut, dan meninggal dunia," urainya.

Menurut Saud, saat ini pelaku penembakan Made Asta belum diketahui karena proyektil dan senjata yang digunakan saat itu tengah dicocokkan. Dia mengatakan, kasus ini masih dalam penyelidikan.

Peristiwa Mesuji Lampung II masih di Kabupaten Mesuji, Lampung. Saud mengungkapkan, bentrokan terjadi saat masyarakat berunjuk rasa di areal PT Barat Selatan Makmur Investindo (PT BSMI).

Peristiwa yang terjadi pada 10 November 2011 itu berawal dari aksi penjarahan sejumlah warga di perkebunan sawit. Petugas keamanan perusahaan kemudian melaporkan aksi itu kepada polsek setempat. Saat dilaporkan, dua warga berusaha melarikan diri, yaitu Hendri dan Dani. Oleh karena itu, petugas keamanan setempat mengamankan motor yang ditinggalkan keduanya.

Dalam pemaparan kronologi ini, Saud juga menunjukkan sebuah video versi polisi mengenai peristiwa itu, menunjukkan warga datang dengan senjata tajam untuk menyerang areal perkebunan perusahaan itu. "Petugas keamanan di sana laporkan ada penjarahan. Saat dikejar, dua orang dari massa, Dani dan Hendry, melarikan diri. Tertinggallah motor dan diambil Polsek untuk olah tempat kejadian," tutur Saud.

Namun, di saat yang sama, ketika akan olah tempat kejadian tersebut, kata Saud, 14 anggota polisi dihadang oleh 100 orang, massa warga Mesuji. Mereka mempertanyakan keberadaan Hendry dan Dani yang dianggap hilang setelah peristiwa itu. Akibatnya, bentrokan pun terjadi. Dalam aksi ini, seorang pria bernama Suratno (20) terkena luka tembak.

Penembakan itu membuat amarah warga memuncak. Sekitar 300 warga, kata Saud, kemudian datang dan menyerang areal perusahaan perkebunan sawit tersebut. "Massa beringas menyerang, dan anggota kami mencoba evakuasi karyawan. Saat itu massa bertambah menjadi 300 orang dengan membawa senjata tajam untuk menyerang petugas," urainya.

Dari bentrokan tersebut, masyarakat yang terkena luka tembak bertambah sebanyak empat orang, yaitu Muslim, Robin, Rano Karno, dan Harun. Sementara itu, satu orang tewas tertembak, bernama Zaelani. Dalam bentrokan ini, tutur Saud, juga terdapat aksi pembakaran oleh warga terhadap 96 mes karyawan perusahaan, satu pos induk satpam, 29 mes karyawan divisi satu, 5 mes asisten manajer gudang bahan bakar, dan sejumlah gudang lainnya.


Penulis: Maria Natalia
Editor : Erlangga Djumena