SALATIGA, KOMPAS.com- Tur tujuh kota yang diselenggarakan oleh beberapa lembaga seperti Indonesia Corruption Watch, Komisi Pemberantasan Korupsi, Transparency International Indonesia, Club Speak, serta musisi sindikat penghuni bumi (simponi), Sabtu (17/12/2011) sampai di Kota Salatiga, Jawa Tengah.
Bekerja sama dengan Pusat Studi Antikorupsi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, tim mengajak siswa sekolah di Salatiga untuk berani bersuara dan berhenti menyontek.
Acara dibuka oleh lantunan lagu dari Slank berjudul Hidup Sederhana yang dibawakan oleh vokalis simponi yang juga pemeran Arai dalam film Sang Pemimpi, Rendy Ahmad. Siswa dari lima sekolah di Salatiga juga diingatkan kembali bagaimana kampus terbesar di kota itu, UKSW, pernah sangat terkenal karena kekritisannya terhadap pemerintahan Orde Baru.
Sebut saja Arief Budiman serta George Aditjondro yang akhirnya harus hengkang dari UKSW namun namanya masih dikenal luas hingga kini.
Koordinator Divisi Pendanaan dan Kampanye Publik ICW, Illian Deta Arta Sari, mengatakan, dari kota-kota yang sudah dilalui seperti Brebes, Cirebon, Semarang, rata-rata siswa mengaku pernah menyontek. Sangat jarang, bahkan hampir tidak ada siswa yang tidak pernah menyontek.
"Kami ingin para pelajar ini bisa memulai untuk menghilangkan bibit-bibit korupsi sejak dini, dimulai dari diri sendiri, dengan tidak berbuat curang seperti menyontek atau menembak untuk mendapatkan SIM atau KTP," kata Illian.
Selain itu, para siswa juga diajak untuk berani bersuara, jika menemukan hal-hal yang tidak benar di sekitar mereka. Selama ini, banyak orang-orang yang mengetahui terjadinya kecurangan tetapi tidak berani, karena ada pembungkaman dan berbagai tekanan.
"Cari teman seperjuangan. Kalau tidak laporkan. Laporan yang berdasar pada bukti-bukti akan sangat berguna. Identitas si pelapor juga bisa dirahasiakan sehingga aman," kata Illian.
Salah seorang siswa SMA Negeri 1 Salatiga, Etika Puri (17), mengatakan, menyontek sudah menjadi kebiasaan di sekolah karena dilakukan secara beramai-ramai. "Tergantung guru pengawasnya. Kalau killer, ya kita nggak berani. Tapi setelah ini, kalau bisa saya tidak mau nyontek lagi," tutur Etika.

