Jumat, 22 Agustus 2014

News / Regional

Produksi Pertanian

Beras Jatim Dipasok ke Indonesia Timur

Senin, 17 Oktober 2011 | 12:23 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com- Musim kemarau yang melanda beberapa kabupaten di Jawa Timur, bahkan ada yang mengalami gagal panen. Kendati demikian Jatim masih surplus produksi beras, sehingga bisa memasok ke beberapa daera di wilayah Indonesia bagian timur.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jatim Wibowo Eko Putro di Surabaya, Senin (17/10/2011), mengatakan, beras lokal Jatim yang dikirim ke beberapa daerah seperti Kupang, Nusa Tenggara Timur sebanyak 17.500 ton, Jayapura, Papua sebanyak 4.510 ton, Jakarta 3.900 ton, Timika Papua 3.630 ton, Palangkaraya 1.600 ton, Batulicin 800 ton, dan Banjarmasin 700 ton.

Pengiriman beras ke beberapa daerah hingga September 2011, berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim dan Balai Besar K arantina Surabaya. Dari semua tujuan ekspor beras antarpulau itu, sebanyak 40 persen didistribusikan untuk rumah tangga, 30 persen ke penggilingan padi, distributor 17 persen, Bulog 8 persen, dan pedagang 5 persen.

Wibowo menambahkan, kendati kekeringan di beberapa daerah hingga kini belum mempengaruhi produksi padi Jatim. Hal ini karena areal tanam padi yang gagal panen akibat kekeringan tidak terlalu luas. Tanaman padi yang mengalami puso 37.664 hektar atau 1,93 persen dari total luas tanam 1.955.407 hektar.

Langkah untuk menutupi kekurangan produksi akibat kekeringan dengan memperluas areal tanam padi 161.000 hektar dan 100.000 h ektar di antaranya dari program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K).

Luas lahan padi yang puso lebih kecil dari upaya perluasan lahan, jadi bencana kekeringan tak pengaruhi produksi padi dan tidak mengancam ketahanan pangan Jatim, ujarnya.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Jatim, hingga Agustus 2011, terdapat 1.453 hektar sawah mengalami kekeringan di Kabupaten Trenggalek, Pacitan, Tulungagung, Mojokerto, Lamongan dan Sum enep.

Daerah yang mengalami gagal panen antara lain Mojokerto 18 hektar, Tulungagung 9 hektar, Tuban 6 hektar, Bojonegoro dua hektar dan Trenggalek satu hektar.


Penulis: Agnes Swetta Br. Pandia
Editor : Marcus Suprihadi