Jumat, 18 April 2014

News / Travel

Wisata Air "Kota Seribu Sungai" Kian Menggeliat

Rabu, 12 Oktober 2011 | 12:24 WIB

Baca juga

Oleh Hasan Zainuddin    BERSANTAI di pinggiran Sungai Martapura, Jalan Pierre Tendean sambil menikmati jagung rebus atau jagung bakar menjadi pilihan sebagian warga untuk berekreasi di kota yang berjuluk "kota seribu sungai" Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sementara warga lainnya, memilih menikmati masakan atau kuliner khas Suku Banjar yakni soto Banjar sambil menikmati musik panting jenis musik tradisional setempat.

Tetapi tak sedikit pula warga justru memilih berziarah di makam Habib Basirih atau mengunjungi masjid tertua Sultan Suriansyah sebagai obyek wisata keagamaannya, yang juga merupakan bagian dari wisata sungai di ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan tersebut. Sedangkan para pendatang bahkan dari mancanegara lebih banyak memilih bercengkrama di Pasar Terapung Sungai Barito atau ke Pasar Terapung Lokbaintan, sebuah obyek wisata yang sudah dikenal luas di kalangan wisatawan baik di Tanah Air maupun di luar negeri.

Bagi wisatawan yang suka dengan binatang kota ini juga menyediaan obyek wisata air, yaitu ke Pulau Kembang. Di sini terdapat ratusan bahkan mungkin ribuan ekor kera abu-abu berekor panjang yang terbilang jinak dan bersahabat dengan wisatawan. Wisatawan bisa menyaksikan Bekantan (Nasalis larvatus) atau hidung panjang yang ada di Pulau Kaget tidak jauh dari kota yang telah bertekad menjadikan keberadaan air sebagai modal utama membangun kepariwisataan itu.

Susur sungai menggunakan "klotok" (perahu bermesin) atau speedboat juga seringkali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa itu. Wisatawan bisa melihat aktivitas warga, terlihat banyak warga mandi, cuci, bersikat gigi di atas lanting. Atau, melihat industri perkayuan dan industri rumah tangga yang banyak ditemui di pesisir sungai seperti di Desa Berangas, Alalak, Kuin, dan di Desa Mantuil.

Melihat kelebihan-kelebihan obyek wisata itu membuat Pemerintah Kota (Pemkot) setempat memanfaatkan sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi. Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin Muryanta di Banjarmasin, Selasa (11/10/2011), mengakui pemerintah kota (pemkot) setempat telah menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.

"Kami akan menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi kota karena itu kami akan terus benahi sungai," katanya.

Menurut Muryanta, wilayah kota Banjarmasin seluas 72 kilometer persegi minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.  

Sementara di wilayah ini hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil. Sungai besar tercatat seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura. Jumlah sungai kecil yang membelah Kota Banjarmasin tercatat 74 buah sehingga kota ini dijuluki "kota seribu sungai". Jika membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim, jelas tidak mungkin. Oleh karena itu, potensi yang ada saja digunakan untuk meraih kemajuan tersebut.

"Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota, oleh karena itu tak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan," katanya.

Ia mencontohkan dua kota yang terbilang maju menjadikan sungai sebagai daya pikat ekonomi seperti Denpasar atau Yogyakarta. Begitu juga kota lain di luar negeri seperti Bangkok, Hongkong, atau Venesia di Italia, bahkan sekarang Malaysia mulai ikut-ikut membenahi sungai sebagai daya pihak ekonomi tersebut.    

Melihat kenyataan itu maka wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan dan keinginan tersebut agaknya memperoleh tanggapan positif dari Pemerintah Provinsi Kalsel maupun pemerintah pusat. Pemprov Kalsel berjanji akan mengucurkan dana untuk pembenahan obyek wisata sungai di bilangan Jalan Jafri Zam-Zam, dan pemerintah pusat melalui Dirjen Sumber Daya Air akan membantu pembenahan sungai di Jalan Pierre Tendean.

Tahap awal untuk menjadikan sungai sebagai obyek pembangunan tersebut, Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Sungai dan Drainase terus mengupayakan normalisasi sungai. Upaya normalisasi tersebut dilakukan pembersihan sungai dari bangunan-bangunan yang ada di atasnya. Sebagai contoh dan sudah dibebaskan bangunan sepanjang sungai di Jalan Sudirman, Jalan Pire Tendean, Jalan Pembangunan, Jalan Veteran, Jalan Teluk Dalam, dan beberapa bangunan lainnya di pinggir sungai.

Bahkan puluhan miliar rupiah sudah dikeluarkan untuk pembangunan siring dan dermaga untuk fasilitas wisata di jalan Sudirman dan Pire Tendean, yang telah terbukti memberikan keindahan kota. Di kedua siring tersebut ditanam aneka tanaman hias, lampu-lampu hias serta tempat bagi wisatawan untuk bercengkrama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.

Untuk mewujudkan komitmen menjadikan sungai sebagai obyek wisata sudah pula dilontarkan Wali Kota setempat, Haji Muhidin yang di berbagai kesempatan selalu memuji-muji wisata airnya yang kini kian digandrungi para wisatawan.

"Untuk menambah kesemarakan wisata air tersebut, Pemkot menambah lagi satu lokasi wisata baru," kata Kepala Bagian Humas Pemkot Banjarmasin Kurnadiansyah menambahkan.

Lokasi wisata baru tersebut berada di Kawasan Jalan Jafri zam-zam, karena lokasinya yang cukup strategis, di tepian Sungai dan berdekatan dengan stadion 17 Mei Banjarmasin, fasilitas olahraga termegah di Kalsel. Keinginan Pemkot menjadikan kawasan tersebut sebagai obyek wisata terungkap dari kunjungan Wali Kota Banjarmasin, H Muhidin beberapa hari lalu ke kawasan tersebut.

Wali kota menilai, kata Kurnadiansyah, wilayah itu sangat potensial untuk dijadikan obyek wisata, mengingat adanya sungai Karokan yang cukup indah. Selain itu juga ada stadion yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan olahraga bagi masyarakat, baik pagi atau sore hari. Di lokasi tersebut juga ada sebuah bangunan yang tadinya untuk rumah dinas wali kota, tetapi karena terbentur tata ruang, fasilitas itu menjadi terlantar, dan kini dibenahi sebagai fasilitas wisata keluarga.

Kepala Dinas Bina Marga Banjarmasin Ir Fajar Desira menyebutkan bahwa arah pembangunan jalan dan jembatan yang dikelolanya mengarah kepada pembangunan kota sebagai kota wisata air.

"Kita akan buat jembatan yang ada di kota ini dengan bentuk melengkung, yang artinya jembatan dibangun tidak bakal mematikan keberadaan sungai, dengan bentuk yang demikian maka sungai akan tetap bisa dilalui perahu khususnya perahu wisata," kata Fajar.

Bahkan untuk mendukung kemajuan wisata sungai pihaknya kini sedang menyelasaikan pembangunan jalan darat ke arah obyek wisata air seperti di Kuin Kecil atau ke Sungai Gampa. Berbagai kalangan menyambut baik keinginan Pemkot Banjarmasin  menjadikan sungai sebagai daya pikat ekonomi tersebut dan diharapkan hal itu bisa terwujud dan gilirannya bisa menyejahterakan warga kota ini.


Editor : kadek
Sumber: