SLAWI, KOMPAS.com- Kondisi industri logam, terutama industri pembuatan alat-alat rumah tangga, di wilayah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, cenderung lesu dari wa ktu ke waktu. Hal itu mengakibatkan para pekerja di industri tersebut beralih profesi atau terpaksa bekerja serabutan, karena penghasilan dari usaha logam sudah tidak mencukupi untuk hidup.
Sentra industri logam di Kabupaten Tegal antara lain di Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal , dengan jumlah industri lebih dari 50 unit. Mardiyah (45), pemilik usaha pembuatan kotak meteran listrik dari logam, Minggu (9/10/2011), mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, industri logam terus menurun.
Hal itu akibat tingginya persaingan, baik dari perajin dalam negeri maupun persaingan dengan produk impor dari China. Sejak lima tahun terakhir, permintaan kotak meteran listrik terus turun, akibat munculnya produk sejenis dari plastik.
Dulu, ia mengaku mampu menjual sekitar 6.000 kota meteran listrik per bulan, namun saat ini hanya sekitar 2.000 unit per bulan. Dalam setahun terakhir, harga bahan baku besi juga naik dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per kilog ram. "Tenaga kerja terpaksa dikurangi, dari sebelumnya 11 orang menjadi tujuh orang," ujarnya.
Hal itu, lanjut Mardiyah, mengakibatkan sejumlah pekerja kehilangan pekerjaan. Mereka terpaksa bekerja serabutan, seperti menjadi tukang becak dan buruh bongkar muat. Bahkan, beberapa karyawannya juga terpaksa mendobel pekerjaan menjadi tukang parkir pada malam hari, karena upah dari usaha logam tidak memadai.
Rata-rata, upah membuat satu unit kotak meteran listrik Rp 600 hingga Rp 800 per orang. Upah itu sudah bertahan lebih dari lima tahun terakhir. Saat pertama kali memulai usaha pembuatan kota meteran listrik pada 1986, ia memberi upah untuk pembuatan satu kotak meteran listrik Rp 500 per orang. "Kenaikannya sedikit sekali, karena perajin terbentur kenaikan harga bahan baku," tambahnya.
Pada saat itu, dengan harga bahan baku besi Rp 700 per kilogram, ia bisa menjual kotak meteran listrik Rp 1.500 per unit. Setiap satu kilogram besi, bisa digunakan untuk membuat dua kotak meteran listrik. Namun saat ini, dengan harga bahan baku Rp 6.000 per kilogram, harga jual kotak meteran listrik juga hanya Rp 6.000 per unit.
Zaenal Abidin (57), perajin pembuat dandang (panci menanak nasi) di Desa Pesarean juga terpaksa memberhentikan lima tenaga kerjanya, karena usaha logam tidak stabil. Bahkan selama setahun terakhir, ia hanya menerima limpahan pekerjaan dari perajin lain.
Susanto (34), mantan pekerja pada industri pembuatan kompor minyak tanah mengaku memilih beralih profesi menjadi pe ngumpul barang bekas, seperti plastik, logam, dan kertas. Hal itu ia lakukan, karena industri kompor minyak di tempatnya bekerja sudah gulung tikar. Ia juga kesulitan untuk mencari pekerjaan pada industri logam lainnya, karena kondisi mereka juga lesu.
San awi (53), mantan perajin kotak meteran listrik, justru beralih pekerjaan menjadi tukang becak. Ia sempat memiliki usaha sendiri, dengan jumlah produksi sekitar 200 unit per pekan. Namun, ia tidak mampu mengimbangi kenaikan harga bahan baku, sehingga terpa ksa menutup usahanya.
Dengan sisa uang yang dimilikinya, ia membeli becak Rp 800.000. Saat ini, ia memilih menggeluti profesi sebagai tukang becak, dengan penghasilan sekitar Rp 30.000 hingga Rp 50.000 per hari. Tidak jarang, ia juga menjadi kuli bongkar m uat, dengan upah Rp 20.000 sekali bongkat muat.

