Senin, 22 Desember 2014

News / Regional

Malam Nanti, Ritual Cupu Panjolo

Senin, 3 Oktober 2011 | 13:42 WIB

GUNUNG KIDUL, KOMPAS.com — Ritual untuk membaca tanda-tanda iklim dan alam untuk keperluan prediksi pertanian nanti malam akan digelar di Dusun Mendak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ritual ini dikenal sebagai Cupu Panjolo yang akan diikuti sekitar 2.000 pengunjung.

Warga sekitar mulai berdatangan sejak Senin (3/10/2011) siang. Mereka membawa berbagai macam bahan makanan dan ayam yang digunakan untuk syukuran malam nanti. Di rumah yang akan dijadikan tempat pembukaan Cupu Panjolo, kesibukan mempersiapkan makanan sudah terasa.

Waktu pembukaan Cupu Panjolo selalu pada malam Selasa Kliwon. Kini, Cupu Panjolo tak hanya dianggap memprediksi iklim alam, tetapi juga dianggap mampu memberi tanda-tanda perkembangan iklim politik dan pemerintahan. Karena itu, acara ini kini dikunjungi banyak orang.

"Acara dimulai malam nanti, tidak pasti jamnya, tergantung rangkaian acaranya," kata Dwijo Sumarto (69), trah Kyai Panjolo yang kini ketempatan Cupu Panjolo. Ritual akan dimulai dengan syukuran bagai orang-orang yang merasa terkabulkan nazarnya tahun lalu.

Kemudian dilanjutkan dengan ritual pengantar untuk membuka mori yang membalut tiga buah cupu yang dulu milik Kyai Panjolo, diyakini sekitar 550 tahun lalu. Selama satu tahun, cupu yang terbalut mori dibiarkan di tempat khusus yang tidak sembarangan orang bisa melihatnya.

Tengah malam, biasanya baru dimulai pembukaan lembar demi lembar kain mori. Dari ratusan lembar mori yang setahun bersemayam di rumah Dwijo Sumarto itulah akan muncul gambar atau muncul benda-benda tertentu.

Misal gambar pulau, gambar pistol, bercak darah, bisa juga kulit padi, kulit kacang, lumpur, tokoh-tokoh wayang, dan lain-lain. Dari gambar-gambar yang muncul itulah, masyarakat kemudian menafsirkan situasi pertanian atau bahkan politik pada periode satu tahun ke depan.   


Penulis: Amir Sodikin
Editor : Robert Adhi Ksp