Jumat, 29 Agustus 2014

News / Regional

Tabung Gas Idealnya di Luar Rumah

Sabtu, 17 September 2011 | 02:31 WIB

TANJUNG REDEB, KOMPAS.com- Berurusan dengan kompor sama dengan berhadapan dengan risiko kebakaran. Karena itu antisipasi untuk mengurangi  risiko kebakaran menjadi kepastian. Salah satu pencegahan yang perlu diperhatikan adalah penempatan kompor di dalam rumah.

Dalam workshop safety at home yang digelar dalam rangkaian 14thIndonesian Fire & Rescue Challenge (IFRC), dijelaskan bahwa posisi kompor ideal berada di dekat dinding rumah.   “Kompor paling aman ditempatkan di dekat dinding,” ujar International Assessor Jeff Simskin, melalui dr David W saat berbagi wawasan dengan para peserta di Hotel Bumi Segah, Jumat (16/9). 

Pengetahuan safety itu menjawab pertanyaan peserta tentang antisipasi kebakaran dalam skala rumah tangga. Selain soal posisi kompor, peserta juga bertanya tentang penanganan kebakaran.   Kendati sudah memiliki alat pemadam portable di rumah, Jeff menyarankan jika api kebakaran sudah cukup besar, maka tinggalkan rumah dan telepon petugas pemadam kebakaran melalui nomor telepon 113.

Dimana tempat ideal menyimpan tabung gas? Dia mengatakan  idealnya ditempatkan di luar rumah dan jangan dalam posisi tertidur.  Lalu berapa jarak  ideal antara tabung gas dari dinding rumah dan antisipasi gangguan tikus dan potensi kehilangan?

Tidak ada batasan ideal antara dinding rumah dan tabung gas di luar rumah, sepanjang selang tersambung dengan baik. Untuk mengantisipasi tikus dan gangguan kehilangan, tabung gas ditempatkan dalam tempat yang tidak bisa dilewati tikus.  “Sebagai contoh,  dapur di tambang  tak ada tabung gas dalam dapur. Di rumah saya juga.  Jarak tak masalah, yang penting di luar rumah. Kita bisa gembok atau pasang kasa untuk menghindari tikus,” ujar dr David menambahkan.  

Materi safety at home menarik perhatian para peserta dari Penggerak PKK Kabupaten Berau, Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XI DIM 0902, Persatuan Istri Karyawan (Periska) PT Berau Coal dan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Berau. Talk show ini menarik, para ibu-ibu begiliran bertanya. Sangking antusiasnya, pertanyaan yang dilontarkan bertubi-tubi. Bukan hanya kepada Jeff, tapi kepada dr David W yang merupakan paramedis International SOS Indonesia.  

Misalnya soal penanganan luka bakar. Dr David menjelaskan, setelah penanganan pertama, sebaiknya korban luka bakar segera dibawa ke fasilitas medis terdekat. Semakin cepat dibawa, semakin baik.  Usai workshop PT Berau Coal membagikan secara gratis  100 tabung apar (alat pemadam api ringan) kepada semua peserta.   Istri Bupati Berau, Ny Sri Marawiyah Makmur tampil impresif saat membuka Workshop Safety at Home, Jumat (16/9).

Safety di bawah bantal

Sebelum memberikan kata sambutan, Ketua Penggerak PKK Kabupaten Berau itu memohon ijin untuk berdiri.  Ia mengatakan, kontak mata dengan para undangan akan lebih baik jika dilakukan dengan posisi berdiri. “Mohon izin saya berdiri, karena segala sesuatu lebih baik  dikomunikasikan melalui komunikasi mata. Cinta juga karena komunikasi kata,” ujarnya berfilosofi. Walaupun tanpa podium, Ny Sri dengan lancar memberikan sambutan. Ia mengawali sambutan dengan memohon maaf lahir batin kepada seluruh undangan, panitia 14thIFRC  dan manajemen PT Berau Coal.

Bahasanya mudah dicerna dan memiliki kedalaman intelektual. Bahkan sebelum memasuki substansi kegiatan workshop, Maruwiyah sedikit bercanda dengan narasumber asal Amerika Mr Jeff Simskin. Dia menyebut, Jeff merupakan narasumber paling ganteng. “Pasti ibu-ibu dari tadi memperhatikan nara sumber paling ganteng yang duduk di  samping saya,” ujarnya disambut  tawa seisi ruangan.  

Jeff Simskin pun tersenyum setelah mendapat penjelasan tentang apa yang disampaikan Marawiyah melalui Secretary of BOD IFRC Irwan Hakim. Sebelum menyampaikan ilmu yang dimilikinya, Jeff Simskin membalas pujian Marawiyah.

Jeff mengatakan, Ibu Bupati Berau adalah perempuan yang anggun dan seluruh peserta workshop merupakan wanita Indonesia yang cantik. Tepuk tangan  membahana. Ketua Penggerak PKK Kabupaten Berau, Ny Sri Marawiyah Makmur mengucapkan rasa terima kasihnya kepada PT Berau Coal, selaku tuan rumah 'workshop safety at home'. Acara ini merupakan rangkaian Indonesian Fire & Rescue Challenge ke 14 yang diadakan di Berau 16-26 September 2011.

“Kami berterima kasih sebesar-besarnya kepada Berau Coal yang memberdayakan para ibu. Kami sambut baik workshop safety at home,” ujarnya di Hotel Bumi Segah, Berau, Jumat (16/9). Menurutnya, keselamatan di rumah akan menjadi masalah serius.  Apalagi setelah munculnya berbagai macam kasus kebakaran, terutama yang terkait dengan tabung gas 3 Kg. Masalah itu bukan hanya dihadapi  para ibu yang setiap hari berhadapan dengan tabung gas, tetapi hal ini menjadi masalah pemerintah.

Secara umum Marawiyah menegaskan, kebakaran  yang terjadi di rumah-rumah penduduk, kerap terjadi karena kelalaian atau perilaku yang kurang awas.  Disisi lain, kejadian kebakaran tidak bisa dipungkiri sebagai musibah. “Kalau dibilang musibah, kita sepertinya tidak ikhtiar. Kadang ibu rumah tangga begitu terbuka mata, mereka langsung ke dapur. Karena gegabah, anak mau pergi ke sekolah. Ke dapur langsung maknyos...,” ujar Ny Sri Marawiyah Makmur, istri Bupati Berau.

Selama ini keamanan di skala rumah tangga, menggunakan metode ‘safety di bawah bantal’. Artinya, tidak memperhatikan keamanan dapur, baik bahan pokok dan ketika melakukan aktifitas di dapur.  Karena itu, ia berharap peserta workshop banyak menimba ilmu dari narasumber mumpuni yang dihadirkan panitia. “Bertanyalah... Karena pepatah bilang: 'Malu bertanya sesat di jalan'. Pengalaman adalah guru yang hebat. Dari pengalaman kita bisa hebat. Kita tangguh,” ujarnya.

Marawiyah menyinggung soal posisi perempuan dalam adat ketimuran. Perempuan dianggap lemah lembut. Terbentuklah lembaga pemberdayaan perempuan agar tidak diperdaya. Dalam kesempatan itu, Marawiyah juga menjelaskan prinsip kesetaraan gender yang menempatkan perempuan setara dengan laki-laki. Menurutnya,  ada beberapa perbedaan yang jelas secara fisik antara perempuan dan laki-laki.

Karena itulah Tuhan kata Marawiyah, menciptakan dunia dengan berpasang-pasangan untuk saling melengkapi. Untuk kesekian kali, Marawiyah mengucapkan rasa syukurnya dan ucapan terima kasih kepada panitia IFRC ke-14 dan PT Berau Coal sebagai tuan rumah IFRC. Menurutnya, informasi tentang keselamatan di skala rumah tangga itu perlu disampaikan kepada keluarga dan tetangga sebagai bentuk perhatian. Dia berharap ilmu dari para nara sumber dan praktek pemadaman yang telah diajarkan dapat diimplementasikan oleh para peserta karena 70 persen aktifitas mereka berada di dapur yang rawan menimbulkan kebakaran.

"Berau coal, ini perlu dimasyarakatkan. Kami harap info ini dapat disampaikan kepada anggota keluarga dan tetangga. Kepada narasumber, bisa memberi pemahaman dan praktek langsung. Wanita itu 70 persen aktivitasnya di dapur. “Terima kasih kepada Mr Jeff. Semoga ini bukan yang pertama kali. Tapi sering kali. Tetap sukses Berau Coal, tetap kerja sama menjaga dan memelihara lingkungan Berau,” ujarnya.

Tips Menekan Dada Korban

Tak hanya peserta workshop yang antusias mendengar penjelasan para nara sumber. Nara sumber Jeff Simskin dan dr David juga sangat antusias memberikan pengetahuan. Bahkan, Jeff tanpa direncanakan mencontohkan penanganan korban pingsan. Dia naik ke atas panggung lalu berbaring di karpet panggung dan berpura-pura pingsan.

Kemudian, dr David mencontohkan cara pena-nganan korban pingsan dengan bantuan pernafasan. Namun bantuan pernafasan tidak dilakukan langsung dari mulut ke mulut.   Dr David hanya menunjukkan posisi kepala yang tepat saat memberikan bantuan pernafasan agar  efektif menyadarkan korban.

Selain itu, dr David menunjukkan cara menekan dada korban agar efektif mendorong kesadaran. Dalam sesi tersebut ada yang menanyakan tentang penggunaan minyak dengan aroma menyengat atau wewangian agar korban cepat sadar. Dr David mengatakan, penggunaan aroma menyengat untuk menyadarkan korban merupakan persepsi keliru, karena pada saat pingsan, korban tidak bisa merasakan apa-apa. (wik/asi)


Editor : Achmad Subechi