GRESIK, KOMPAS.com — Mahasiswa asing asal Jerman, Australia, Norwegia, dan Brasil mengagumi budaya Indonesia, termasuk Gresik, Jawa Timur. Mereka tidak segan-segan untuk belajar tari remo, seni hadrah, dan gamelan.
Mereka juga mengamati pola perilaku masyarakat, termasuk cara makan, jenis makanan yang disantap, serta alat makan yang digunakan. Hal itu setidaknya dirasakan mahasiswa yang didatangkan dalam Internship Program di SMP Islam Manbaul Ulum Kebomas, Gresik.
Kepala SMP Islam Manbaul Ulum Mudairin, Minggu (11/9/2011), menyebutkan, setidaknya hingga saat ini sekolahnya telah lima kali mendatangkan mahasiswa luar negeri. Selain berinteraksi dengan siswa dan guru, mereka juga dikenalkan dengan sejumlah budaya di Gresik, termasuk tradisi kemanten (pengantin) pesisiran di Gresik.
"Bahkan, saat Ramadhan, ada yang ikut puasa karena ingin merasakan suasana puasa," kata Mudairin. Internship Program sudah lima kali dilaksanakan di sekolahnya. Juliane Hess dari Ludwig Maximilians University (LMU), Jerman, yang pertama kali didatangkan pada 9 Agustus-3 Oktober 2010.
Selanjutnya, Martine Scheine, dari Norwegian Technical and Natural Science University pada 27 September-3 Oktober 2010. Amelie Quack dari Jerman juga pernah datang pada 1-11 Januari 2011, lalu saat ini datang lagi bersama Daniel J Mort dari Australia.
Sementara Gabriella Gumaraes Figeredo dari Brasil datang pada 20 Juni-31 Juli 2011. Setelah dari Indonesia, para mahasiswa itu bercerita kepada mahasiswa lain di kampus sehingga mereka tertarik untuk datang juga.
"Mereka semacam melakukan kuliah kerja nyata sambil melakukan pertukaran budaya. Ini kesempatan bagi siswa dan guru kami belajar bahasa Inggris langsung sekaligus mendapatkan informasi tentang luar negeri dari orang sana langsung. Ini sekaligus mengenalkan budaya kita," kata Mudairin.
Bagi Amelie, mahasiswa Psikologi Universitas Munich, atau dikenal dengan LMU, ke Indonesia yang kedua kalinya memberikan kesan mendalam. "Saya juga kagum melihat siswa di sini selalu bersalaman dengan guru saat masuk dan mau pulang dengan mencium tangan," kata Amelie.
Dia terkesan menikmati tempe goreng (mendoan) dan makan bubur dengan daun pisang (suru). Amelie sempat bingung cara makannya karena tidak ada sendok. "Saya juga menikmati pudak (makanan khas Gresik)," katanya.
Kali ini, kedatangannya kembali ke Indonesia bersama Daniel semakin berkesan. Apalagi, Sabtu lalu, keduanya membuat ketupat bersama siswa dan guru. Amelie merupakan mahasiswa Jurusan Psikologi LMU dan Daniel merupakan mahasiswa Jurusan Teknologi Informasi dan Bahasa Universitas Queensland, Australia.
Setelah membuat ketupat, kedua mahasiswa itu juga mencicipi ketupat, lepet, dipadu dengan sayur lodeh nangka muda, telur puyuh, dan ayam. Daniel dan Amelie baru kali ini menikmati ketupat sekaligus membuatnya.
Menurut mereka, rasa ketupat dipadu dengan sayur nangka muda dan ayam terasa nikmat. Mereka juga senang bisa turut belajar membuat ketupat meskipun sulit. Bahkan, untuk bisa membuat cangkang ketupat dari janur, keduanya harus beberapa kali mengulang mulai awal.
Siswa pun memperagakan cara membuatnya, dan akhirnya Amelie berhasil membuat cangkang ketupat dalam waktu sekitar 1,5 jam. "Awalnya susah saat melipat janur, tapi saya bisa," katanya.
