Selasa, 16 September 2014

News / Regional

Trembesi, Si Pohon "Die Hard"

Rabu, 27 Juli 2011 | 16:17 WIB

KENDAL, KOMPAS.com - Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, menargetkan menanam 5.000 sampai 9.000 pohon trembesi untuk mempercepat proses rehabilitasi lahan-lahan kritis seperti di Sukorejo dan kawasan dataran tinggi serta pantai di wilayah tersebut. Trembesi dinilai cocok untuk segala medan di wilayah tersebut.

Kepala Kantor Kementerian Lingkungan Hidup Kabupaten Kendal Muryono mengatakan, Kendal sendiri memiliki tiga kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH), yaitu Kali Kreyek, Weleri, dan Kendal Kota. Pada 2012, setiap wilayah di kabupaten tersebut ditargetkan memiliki lima RTH.

"Untuk itu, kami menyambut program penanaman trembesi ini di wilayah kami. Kebetulan kami baru saja melakukan kegiatan penanaman bakau. Trembesi banyak manfaatnya, daya tahannya juga kuat sehingga cocok ditanam di sini," ujar Muryono di sela penanaman trembesi "Djarum Trees for Life" di Jalan Lingkar Kaliwungu, Kendal, Rabu (27/7/2011).

Program Director Djarum Foundation Handoyo Setyo mengatakan, penanaman bersama trembesi di wilayah Kendal ini merupakan lanjutan dari penanaman 7.300 trembesi di sepanjang jalan Semarang-Losari pada Mei 2011 lalu dalam rangkaian program Djarum Trees for Life. Program ini menargetkan penghijauan dengan pohon trembesi di sepanjang 478 kilometer di jalur pantai utara Jawa Tengah hingga 2014, yang dimulai di Losari di perbatasan Jawa Barat sampai Bulu di perbatasan Jawa Timur.

"Trembesi itu die hard, tanaman yang daya tahannya sangat kuat. Di negara asalnya, di Amerika Latin, pohon ini bahkan tumbuh subur di savana. Maka, karakteristik tanah di kawasan Kendal dan Pantura pada umumnya cocok untuk trembesi," kata Handoyo.

Trembesi (Samanea saman) atau pohon hujan dipilih sebagai pohon penghijauan ini karena dinilai mampu menyerap gas CO2 dalam skala besar. Dari sebuah trembesi berdiameter tajuk 15 meter, terserap gas karbon dioksida sebanyak 28,5 ton setiap tahun.

Kendati memiliki ukuran daun yang tak lebih dari besarnya koin Rp 100, trembesi terbilang unggul menyerap CO2 dan punya kemampuan menyerap air tanah dengan kuat. "Tidak merusak tanaman lokal, itu hanya mitos," ujar Handoyo.


Editor : Laksono Hari W