Jumat, 31 Oktober 2014

News /

Dampak Perceraian pada Anak

Minggu, 17 Juli 2011 | 04:42 WIB

AGUSTINE DWIPUTRI/PSIKOLOG 

Menuntaskan pembahasan terdahulu mengenai dampak perceraian orangtua bagi anak balita, pada kesempatan ini akan dibicarakan dampak pada anak-anak yang sudah lebih besar. Masih menggunakan acuan dari Anthony Wolf (1998) dalam bukunya, Why Did You Have to Get a Divorce? And When Can I Get a Hamster?, ternyata kebutuhan dan kondisi anak usia sekolah dan remaja berbeda lagi, sesuai dengan tahapan perkembangan psikologis masing-masing. Anak usia sekolah (6-12 tahun)

Begitu anak mencapai usia sekolah, masalah terbesar yang biasa mengemuka akibat perceraian pada anak-anak dari setiap usia, yaitu shock, kehilangan, dan ketidakpastian, sudah lebih meluas. Pada usia enam tahun, karena kesadaran anak makin meningkat, isu-isu baru, seperti rasa bersalah, menyalahkan, mencemaskan kesejahteraan salah satu orangtua, khawatir tentang keuangan, atau merasa terperangkap di tengah kedua orangtua yang masih bermusuhan, dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Anak menemukan diri mereka berada tepat di tengah ”sinetron” mereka sendiri serta sangat menyadari semua hal yang telah terjadi dan akan terus terjadi. Mereka juga memiliki berbagai pemikiran tentang semua peristiwa ini. Masalah menonjol untuk anak usia sekolah adalah bahwa mereka rentan terhadap hal yang muncul dari konflik kesetiaan kepada orangtua yang bercerai, akan membela dan ikut ayah atau ibu. Mereka memiliki kerapuhan ganda tentang kepedulian untuk mencintai dan dicintai oleh kedua orangtua karena mereka memiliki tanggung jawab baru atas semua yang berlangsung di sekitar mereka.

Karena itu, orangtua harus peka terhadap semua masalah dan konflik yang mungkin memengaruhi mereka. Begitu anak-anak mencapai usia ini, orangtua tidak bisa lagi dengan tenang berasumsi, ”Oh, mereka masih terlalu muda untuk memahami atau mengkhawatirkan tentang itu.” Justru orangtua harus menjaga agar tidak meminta pembelaan pada anak dengan menceritakan keburukan pihak orangtua lain untuk membenarkan perilaku masing-masing.

Anak remaja

Bagi kebanyakan remaja, perceraian orangtua membuat mereka kaget sekaligus terganggu. Kehidupan mereka sendiri berkisar pada berbagai masalah khas remaja yang sangat nyata, seperti bagaimana menyesuaikan diri dengan teman sebaya, apa yang harus dilakukan dengan seks atau narkoba, ataupun isu-isu kecil tetapi sangat penting, seperti jerawat, baju yang akan dikenakan, atau guru yang tidak disenangi. Remaja sudah merasa cukup sulit mengendalikan kehidupan mereka sendiri sehingga pasti tidak ingin diganggu dengan kehidupan orangtua yang mengungkapkan perceraian. Mereka tidak memiliki ruang atau waktu lagi terhadap gangguan perceraian orangtua dalam kehidupan mereka.

Selain itu, remaja secara psikologis sudah berbeda dari sebelumnya. Meskipun masih bergantung pada orangtua, saat ini mereka memiliki suara batin kuat yang memberitahu mereka untuk menjadi mandiri dan mulai membuat kehidupan mereka sendiri. Tetap bergantung tidak sesuai lagi untuk rasa aman dan kesejahteraan diri mereka.

Paradoks remaja

Remaja sesungguhnya tidak mandiri. Mereka hanya merasa bahwa mereka harus mandiri. Di sinilah letak masalah utama perceraian bagi remaja. Meskipun menjauh dari orangtua, mencari lebih banyak kemandirian dan kebebasan, remaja tetap ingin mengetahui bahwa orangtua masih ada jika mereka membutuhkan. Mereka membutuhkan dan memerlukan sebuah rumah yang dapat mereka andalkan meskipun faktanya pada saat tertentu mereka mungkin membenci rumah dan perlakuan orangtua di dalamnya, bahkan kadang kabur dari sana. Perceraian merongrong semuanya, mengganggu landasan rasa aman yang mereka butuhkan untuk menghadapi semua isu remaja. Kondisi ini menghasilkan kemandirian yang dipaksakan dan perkembangan nyata yang sungguh tak pernah remaja inginkan.

Semua isu perceraian mungkin jauh lebih mudah berubah pada remaja karena masa remaja adalah juga masa ketika mereka terlibat dalam ”pertempuran” serius dengan salah satu atau kedua orangtua. Akibatnya, perceraian dapat menambah dan mempersulit masalah mereka.

Mereka dapat berkata, ”Aku tidak peduli jika mereka bercerai. Aku benci mereka berdua. Semua yang mereka lakukan akhir-akhir ini membuat hidupku sengsara. Mereka tidak akan membiarkan aku melakukan apa pun yang aku inginkan. Mereka terus mendesak aku untuk hal-hal yang benar-benar bodoh. Aku sungguh tidak peduli pada apa yang mereka lakukan.”

Namun, sebenarnya mereka peduli dan akibatnya, perasaan mereka bisa menjadi sangat rumit karena jika dia membenci orangtuanya, mengapa menjadi begitu marah pada perceraian, bukan?

Seperti pada anak yang lebih kecil, remaja juga dapat dan akan mengejar berbagai masalah perceraian yang lebih kompleks serta dapat dipengaruhi oleh apa yang dikatakan salah satu orangtua. Bagaimanapun, mereka juga lebih mandiri dalam berpikir dan sering membentuk opini mereka sendiri tentang apa yang telah terjadi. Pendapat ini bisa sangat intens, mungkin picik, serta sangat moralistik dan menghukum, terutama kepada pihak orangtua yang mereka anggap bersalah dan sangat menimbulkan rasa sakit hati.

Orangtua perlu menjaga pikiran secara jernih bahwa apa pun yang terjadi antara mereka dan anak remajanya atau antara mantan mereka dan anak remaja acap kali akan menghilang dengan berakhirnya masa remaja sang anak. Masa remaja adalah suatu tahapan yang datang dan akan pergi. Banyak nafsu yang bersifat sementara. Remaja dapat membenci orangtua dan kemudian tidak lagi membenci sama sekali. Perasaan mereka tentang masalah-masalah yang tampak begitu hitam dan putih, begitu mutlak, bagaimanapun, akan berubah.


Editor :