Minggu, 23 November 2014

News / Regional

KESEHATAN

Malaria Merugikan Pariwisata Flores

Minggu, 26 Juni 2011 | 21:19 WIB

MAUMERE, KOMPAS.com — Kasus penyakit menular malaria yang masih tinggi tak dapat dimungkiri banyak menimbulkan kerugian ekonomi, salah satunya juga merugikan pariwisata di wilayah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, NTT bersama Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, dan Sumatera Utara merupakan daerah kategori endemis tinggi malaria, yakni dengan angka annual parasite incidence (API), penderita positif malaria, lebih dari 50/1.000 penduduk.

Tingginya kasus malaria dapat berdampak pada penurunan pendapatan asli daerah karena seperti di wilayah Flores, wisatawan asing menjadi takut untuk tinggal terlalu lama di daerah ini. Hal ini disebabkan adanya momok malaria.

"Mereka memilih lebih lama tinggal di Bali," kata Direktris Yayasan Sosial Pembangunan Masyarakat Maumere, Trix Mali, Minggu (26/6/2011), yang dihubungi dari Ende, Flores.

Yaspem merupakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang didirikan tahun 1974 di Kabupaten Sikka, yang menaruh perhatian dalam bidang pemberdayaan masyarakat.

Di antaranya pengembangan sumber daya manusia (SDM) di sektor pertanian dan perkebunan, gizi masyarakat, serta penanganan kasus demam berdarah dan malaria. Selain itu, Trix Mali juga menjabat Manager Seaworldclub Hotel Maumere.

Trix mencontohkan, di hotel yang dikelolanya, yang banyak dikunjungi wisatawan asing seperti dari Jerman, sering kali mereka yang awalnya mengagendakan sekitar 1 minggu di Flores akhirnya mempercepat kunjungan menjadi 2-3 hari saja.

Alasannya, mereka khawatir tertular malaria, yang dianggap sebagai penyakit berbahaya dan mematikan itu. Mereka juga memikirkan risiko lever dan ginjal karena selama di Flores harus minum obat malaria secara rutin sebagai tindakan profilaksis, pemeliharaan kesehatan, dan pencegahan penyakit.

Hal itu tentu saja amat disayangkan sebab Flores mempunyai banyak potensi besar daerah kunjungan wisata, di antaranya Pulau Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Danau Ranamese di Manggarai Timur, Danau Kelimutu di Ende, kemudian Taman Wisata Alam Laut 17 Pulau Riung di Kabupaten Ngada, dan Taman Wisata Alam Gugus Pulau Teluk Maumere di Sikka. Itu belum potensi lainnya seperti kekayaan wisata budaya.

Trix berpendapat, seluruh kepala daerah di Flores mesti menaruh perhatian serius pada pemberantasan malaria karena penanganan penyakit ini mesti dilakukan secara komprehensif (lintas sektoral), sebagaimana yang dilakukan Yaspem, yang didukung sponsor dari lembaga Misereor Jerman pada tahun 2005-2008, juga bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sikka.

Mereka dapat menekan secara signifikan kasus penderita malaria klinis (gejala) di Sikka, yakni dari angka annual malaria incidence (AMI) Kabupaten Sikka tahun 2007 sebesar 350/1.000 menjadi 64/1.000 pada tahun 2011.

Kegiatan dimulai dari kontrol sarang vektor malaria, nyamuk Anopheles, dan penyemprotan Bacillus thuringiensis israelensis (BTi) , sejenis bakteri yang dapat memusnakan jentik nyamuk di tempat-tempat perindukan nyamuk.

Selain itu, juga dilakukan pemeriksaan daerah massal (mikroskopis) mencapai 71.000 orang, di enam kecamatan di Sikka. Pemeriksaan darah massal penting dilakukan untuk dapat mengetahui secara pasti penderita positif malaria sehingga dapat ditangani secara tuntas dengan tepat, yakni dengan metode ACT (Artemisinin based Combination Therapy), terapi kombinasi.

Namun, yang perlu menjadi perhatian adalah untuk pemeriksaan darah massal, apakah semua puskesmas di Flores sudah memiliki peralatan standar, begitu pula SDM-nya?

Masyarakat juga perlu disosialisasikan dulu soal epidemiologi dan patogenesis malaria supaya benar-benar memahami amat bahayanya penyakit ini sehingga mau diperiksa darahnya sekaligus diobati.

"Sering kali karena malaria sudah endemis, lalu dianggap penyakit yang biasa, sehingga soal sosialisasi (penganggaran) dianggap kurang penting oleh pemda," kata Trix.

Direktris Yaspem Maumere itu mencontohkan, tahun 2009 ketika Pemkab Sikka tak lagi gencar melakukan intervensi, pada tahun 2010 terjadi kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD), yakni mencuat 856 kasus DBD dan 9 orang meninggal.

Kegiatan pemberantasan sarang jentik malaria ternyata juga berdampak positif pada penurunan sarang vektor utama DBD, Aedes aegypti.

Akibat KLB DBD itu, Pemkab Sikka lalu menganggarkan lagi kegiatan pemantauan jentik dan sosialisasi tahun 2010. Dan dari Januari 2011 sampai saat ini kasus DBD berkurang menjadi 46 kasus dan ada 2 korban meninggal, tapi korban bukan dari Sikka, melainkan dari Ende.

"Rupanya ada kerawanan di Ende, dan Pemkab Ende perlu melakukan penanggulangan secara komprehensif pula," kata Trix.

Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Ende Martina Dorkas Banda secara terpisah mengatakan, pemda sudah memprogramkan pemeriksaan darah massal meski hal itu tak dapat dilakukan secara menyeluruh di Ende karena minimnya alokasi dana.

"Pada bidang kami ada 24 penyakit yang mesti ditangani termasuk malaria, dan tahun 2011 dari APBD hanya dianggarkan Rp 85 juta, dan untuk pemeriksaan darah massal cuma dianggarkan Rp 14 juta. "Sehingga kegiatan ini harus kami prioritaskan di daerah yang memiliki angka malaria tinggi," kata Dorkas.

Sementara itu, Community Development Program Officer Swisscontact Baban Hamdan, yang bergerak dalam pengembangan pariwisata Flores, mengatakan bahwa terkait kasus malaria dan DBD di Flores yang menjadi momok wisatawan asing, para pelaku pariwisata di daerah ini harus mampu memberikan layanan informasi yang ideal tentang kondisi riil di lapangan, sekaligus informasi pencegahan untuk membantu wisatawan.

Pengembangan pariwisata bukan hanya tugas dinas pariwisata, melainkan lintas sektoral sehingga dinas kesehatan juga perlu terlibat, terutama dalam penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai untuk penanganan malaria ataupun DBD supaya tidak menimbulkan kekhawatiran berlebihan para turis asing.

"Sebab, dalam buku panduan pariwisata internasional, rumah sakit yang menjadi rujukan di Flores saat ini hanya dua, yaitu di Manggarai dan Maumere, itu pun rumah sakit swasta, bukan pemerintah," kata Baban.


Editor : Benny N Joewono