Jumat, 19 September 2014

News /

Sulsel Siap Ekspor Beras

Jumat, 24 Juni 2011 | 04:52 WIB

MAKASSAR, KOMPAS - Di tengah polemik tentang kebijakan impor beras, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan justru bersiap mengekspor 200.000 ton beras ke Malaysia, Singapura, dan Filipina. Langkah ini diambil karena produksi padi di Sulsel pada 2010 naik 15 persen daripada produksi tahun sebelumnya yang mencapai 4.324.193 ton.

Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sulsel Muhammad Aris, Kamis (23/6), mengatakan, pihaknya tengah menunggu izin dari Kementerian Perdagangan untuk pengiriman beras menuju ketiga negara itu.

”Kalau Kementerian Pertanian sudah mengizinkan karena selain Sulsel menyangga kebutuhan beras 17 provinsi, beras yang diekspor juga hanya jenis unggulan,” ungkap Aris.

Jenis beras yang akan diekspor terdiri dari beras kristal celebes 1, kepala super, dan kepala spesial.

Beras berkualitas terbaik itu menarik minat perusahaan penggilingan padi di sejumlah negara ASEAN, seperti Kilang Beras Seri Merbok Malaysia dan Mitra PTE Ltd Singapura yang selama ini mengimpor beras dari Thailand. ”Mereka meminta 200.000 ton beras dikirim secara bertahap selama setahun dengan harga Rp 9.500-Rp 10.500 per kilogram,” ujar Aris.

Ia menambahkan, setelah izin diberikan oleh Kementerian Perdagangan, Dinas Pertanian Sulsel akan meminta perwakilan importir bernegosiasi dengan PT Pertani sebagai badan usaha milik negara yang berwenang mengekspor beras kualitas medium ke atas.

Musim hujan berkepanjangan selama ini ternyata tidak mengganggu produksi padi di Sulsel. Berdasarkan data Dinas Pertanian Sulsel, produksi padi selama lima tahun terakhir tumbuh 11,07 persen. Produksi tahun 2006 tercatat 3.365.507 ton dan tahun berikutnya terus meningkat hingga 4.324.193 ton (2009).

Peningkatan produksi ini didukung kondisi geografis Sulsel yang memungkinkan terjadinya musim hujan secara bergantian di pesisir pantai barat dan pantai timur dalam setahun. ”Hal itu membuat petani di Sulsel pada umumnya bisa menanam padi sepanjang tahun,” kata Aris.

Kepala Dinas Pertanian Sulsel Lutfi Halide mengatakan, produksi selama lima tahun terakhir jauh di atas kebutuhan beras Sulsel sebanyak 900.000 ton per tahun. Surplus beras didistribusikan ke 12 provinsi di wilayah Indonesia timur. Sejak 2009, pasokan beras Sulsel turut menopang kebutuhan lima provinsi di Sumatera dan Kalimantan.

Khusus beras kualitas premium, penanamannya akan diperbanyak di kabupaten yang memiliki pengairan teknis memadai, seperti Sidrap dan Pinrang.

Ekspor kopi perlu dipacu

Sementara itu, ekspor kopi arabika dan robusta asal Sulsel yang saat ini masih kurang dari 20 persen juga perlu dipacu. Kerja sama dengan Vietnam sebagai pengekspor kopi terbesar di Asia Tenggara dianggap mampu menggenjot pemasaran kopi secara lebih luas.

Demikian dikemukakan analis Lembaga Kebijakan dan Pembangunan Kementerian Luar Negeri, Hazairin Pohan, di Makassar, Sulsel, Kamis. ”Indonesia harus mengubah cara pandang terhadap sesama anggota ASEAN. Vietnam jangan lagi dilihat sebagai kompetitor, tetapi digandeng sebagai partner dalam pemasaran kopi,” ungkapnya.

Bentuk kerja sama yang dapat dilakukan, antara lain, membangun jaringan pemasaran secara bersama-sama dan pengembangan varietas unggul.

Di Jember, Jawa Timur, harga kopi di tingkat petani naik hingga Rp 21.000-Rp 21.500 per kilogram. Meski begitu, penerimaan petani tak sebanding dengan hasil tahun lalu. (RIZ/SIR)


Editor :