Sabtu, 5 September 2015

Regional

Perjalanan SRI Sultan Hamengkubuwono IX

Sabtu, 18 Juni 2011 | 13:45 WIB

Judul Buku     : Hamangkubuwono IX

Penulis            : K. Tino

Penerbit         : Navila Idea

Cetakan          : I, 2011

Tebal              : 198 Halaman

Peresensi       : Romel Masykuri*

Peranan Hamangkubuwono IX dalam Serangan Umum 1 Maret sudah banyak diketahui. Pun, perlawanannya terhadap Suharto ketika menjadi Wakil Presiden sudah banyak diuraikan. Namun peranan Hamangkobuwono IX sebagai agen CIA masih misteri, dan seringkali menjadi desas-desus semata. Konon ada tiga tokoh yang disebut-sebut sebagai agen CIA untuk menghancurkan PKI. Mereka adalah Suharto, Adam Malik dan Hamangkubuwono IX. Baik Suharto dan Adam Malik sudah banyak dikupas oleh para ahli sejarah. Akan tetapi, buku yang mengupas keterlibatan Hamangkubuwono IX masih belum ada.

Buku ini mencoba menelusuri semua misteri dan desah-desus itu, mulai dari pengumpulan data-data yang membuktikan tidaknya Hamangkubuwono IX sebagai agen resmi CIA. Kita akan terperangah dengan penemuan-penemuan yang ada di dalamnya. Satu titik sejarah negeri ini akan terurai dengan gamplang.

Pada bagian pertama buku ini menceritkan tentang masa muda Hamangkubuwono IX dan posisi penting yang di lakukan oleh Hamangkubuwono di masa awal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). SRI Sultan Hamangkubuwono IX lahir di Sompilan Ngasem, Yogyakarta, 12 April 1912 dan meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat, 2 Oktober 1988 pada umur 76 tahun. Ia adalah seorang raja yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta dan Gubernur DIY. Tahun 1973-1978 ia pernah menjadi Wakil Presiden Indonesia, lebih dari itu ia juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Masa awal kemerdekaan Indonesia ia merupakan tokoh yang cukup berperan dalam fase Indonesia berkembang dan upaya menghapus puing-pung kolonialisme. Salah satu bukti sejarah yang tidak bisa di lupakan adalah masa di mana awal kemerdekaan Indonesia ditandai dengan suasana mencekam yang disebabkan keganasan NICA (Belanda). Pada bulan Oktober, November dan Desember 1945, Jakarta menjadi ajang kekerasan dan teror sehingga menyebabkan penduduk menutup pintu sejak senja hari. Tentara NICA melakukan provokasi dan memancing insiden dimana-dimana sehingga ribuan warga tak berosa menjadi korban.

Pada saat kondisi Ibu Kota Jakarta sedang tidak aman dan penuh konflik, maka sultan HB IX meminta agar Sukarno-Hatta dan seluruh pemimpin Republik pindah ke Yogyakarta, dengan pertimbangan Belanda lewat NICA sudah membonceng Sekutu dan akan menjadikan Jakarta sebagai pusat pertempuran. Dan memang betul prediksi dan nalar pemikiran HB IX tidak meleset, garis Jakarta-Bandung merupakan pusat kekuatan militer NICA, apalagi di Jakarta ada Batalyon X yang terkenal kejam. Akhirya, tanggal 3 Januari 1946 diambil keputusan untuk memindahkan pusat pemerintahan Indonesia ke Yogyakarta. Saking baiknya Sultan demi pengorbanan bagi ibu pertiwi, seluruh pembiayaan para  Penggede RI ditanggung sepenuhnya oleh pihak kesultanan. Sungguh pemimpin arif nan bijaksana.

 Berbeda lagi peran HB IX pada masa Orde Baru. Setelah keluarnya Surat Perintah 11 maret 1966 (Supersemer) yang kemudian dikukuhkan oleh ketetapan MPRRS No. IX/MPRS/1966, maka Indonesia memasuki zaman baru. Kepemimpinan Presiden Sukarno beralih ke triumvirat (Tiga Serangkai) yakni Suharto, Adam Malik, dan Sultan HB IX yang kesemuanya pro Amerika. Kepemimpinan mereka menghadapi berbagai permasalahan yang berat, khsusnya di bidang ekonomi. Angka inflasi sudah mencapai 600 persen dan sudah mengarah pada Hiper-inflasi.

Kemerosotan ekonomi Indonesia tersebut disebabkan pengelolaan ekonomi yang kurang berhasil, seperti tidak ada kemantapan hasil ekspor dan adanya fluktuasi harga di pasaran bagi bahan mentah Indonesia serta seretnya pemasukan pajak. Selain itu, Indonesia harus membayar utang luar negeri sebesar 2,6 miliyar doalr Amerika (termasuk utang warisan Belanda dari tahun 1896-1949). Disinilah peran Sultan HB IX berperan pada saat Indonesia berada dalam ke krisisisan. Sebagai Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin) Kabinet Ampera, Sultan HB IX telah meletakkan rumusan dasar bagi program rehabilitasi dan stabilitasi Orde Baru dalam bidang ekonomi, moneter dan infrastruktur.

Program kerja yang dilakukan oleh Sultanpun mulai terasa dan memberikan pemulihan bagi Orde baru secara perlahan-lahan, mulai dari kembalinya kepercayaan luar negeri terhadap Indonesia, mengatur kembali perrundingan dengan negara pemberi pinjaman di masa lalu guna mengatur jadwal pembayarannya. Dalam usaha ini, HB IX juga bertindak aktif dengan mengadakan perjalanan ke mana-mana, seperti menghadiri pertemuan luar negeri yang orientasinya untuk menarik penanaman odal asing dan investasi  di Indonesia.

Berbagi rintisan perbaikan ekonomi pada masa awal Orde baru (1966-1968) di mana Sultan HB IX memegang peranan utama telah banyak membuahkan hasil. Bantuan dari luar negeri mengalir dari berbagai penjuru dalam bentuk bantuan kredit devisa, bantuan pangan, bantuan teknik dan proyek dan melaksanakan pembangunan di Indonesia. Namun di balik keberhasilan Sultan HB IX dalam menarik modal asing juga memicu eksploitasi sumber daya alam Indonesia oleh perusahaan-perusahaan multi-nasional yanng dikendalikan oleh Amerika. Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, kemudian hasil tangkapannya dibagi. The Time Life Corporation mensponsori konfrensi istimiwa di Jenawa yang dalam waktu tiga hari  merancang pengambil alihan Indonesia. Para pesertanya meliputi kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti david Rockefeller.

Singkat kata, buku ini telah berhasil menberikan fakta-fakta sejarah langka tentang peran penting Sri Sultan Hamangkubuwono IX dalam pemerintahan Indonesia masa awal kemerdekaan, Orde Lama dan Orde Baru, baik perannya di wilayah ekonomi, politik dan kemasyarakatan.

*)Romel Masykuri, Kader Muda Ashram Bangsa Jogjakarta

Editor : Jodhi Yudono