Sabtu, 30 Agustus 2014

News / Regional

Kenakalan Remaja

7 ABG Pesta "Ngelem" Digerebek Warga

Senin, 6 Juni 2011 | 09:50 WIB

PAREPARE, KOMPAS.com — Warga Jalan Andi Mangkau, Kecamatan Ujung, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, ramai-ramai menghukum tujuh remaja dengan cara menyuruh mereka lompat kodok.

Warga jengkel karena Fajri (13), Herul (10), Aswar (15), Dicki (15), Yayang (15), Rifal (12), dan Ani (14) selama hampir hampir sepekan berkumpul di salah satu rumah kosong di kawasan permukiman padat penduduk tersebut untuk berpesta mengisap lem.

"Aneh saja karena baru kali ini ada kejadian seperti ini. Makanya kami jengkel. Kami menghukum supaya anak-anak seusianya yang ada di sini tidak ikut-ikutan," kata Kumar, warga setempat, kepada Kompas.com, Minggu (5/6/2011) sore.

Terungkapnya pesta ngelem tujuh remaja tersebut berawal saat salah satu di antara mereka yang bernama Ani, yang sudah mabuk berat, tiba-tiba bertingkah seperti kesurupan. Karena panik, dengan keadaan sempoyongan, keenam temannya berhamburan keluar dari rumah kosong dan meminta bantuan warga setempat.

Warga menemukan bungkusan kecil berisi lem kuning yang mulai kering dan sejumlah bungkus sisa lem. "Anak itu bukan orang sini. Karena salah satunya kerasukan itulah, kami tahu, mereka suka mengisap lem rame-rame. Karena saat masuk ke rumah itu, bau lem memang sangat menyengat. Saat kami dapatkan, mereka masih dalam keadaan mabuk. Bicaranya tidak jelas," ujarnya.

Bahkan, salah seorang warga bernama Bahtiar, yang anaknya ikut ngelem, langsung memukuli anaknya dengan kayu hingga akhirnya dihentikan oleh warga setempat. "Itu pelajaran untuk anak saya, supaya tidak mengulang perbuatannya. Bikin malu," katanya geram.

Aswar, salah seorang remaja, kepada Kompas.com, dengan bicara merancu mengaku membeli lem dari hasil patungan dengan enam temannya. Dua buah lem Castol dibagi ke dalam empat plastik kecil, untuk selanjutnya mereka hirup. "Saya baru satu minggu coba-coba, Kak. Diajari anak-anak dari Jembatan Merah," kilahnya.

Selain dihukum dengan lompat kodok, kelompok remaja yang rata-rata masih duduk di bangku SMP tersebut juga dipaksa memperagakan cara mereka saat "mengelem". Setelah itu ketujuhnya dikembalikan ke orangtua masing-masing.


Editor : Glori K. Wadrianto