Rabu, 1 Oktober 2014

News / Regional

Prasejarah

Paleo-arkeologi Trinil Kekayaan Penting

Kamis, 26 Mei 2011 | 19:45 WIB

MALANG, KOMPAS.com - Kepala Museum Trinil, Hendro Waluyo, mengingatkan bahwa  museum yang ia pimpin menyimpan jejak situs penting penemuan manusia berdiri tegak (Pithecantropus erectus) sebagai kekayaan intelektual. Lokasi ini menunjukkan Jawa dan Indonesia punya peran bertaraf internasional dalam studi paleo-arkeologi masa Pleistosen, dan pernah terlibat dalam perdebatan keras kontroversi Teori Darwin berupa pencarian rantai yang hilang (missing link) pada akhir abad ke-19.

Museum Trinil yang berada di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur ini, bersama Museum Sangiran di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, adalah keunggulan komparatif penting. "Bisa dalam studut pandang studi pra sejarah, dan tak kalah penting dalam sudut pandang pariwisata juga," kata Hendro di sela pameran museum-museum Jawa Timur di Malang, Kamis (26/5/2011).

Tahun 1893, dokter militer Belanda, Eugene Dubois yang meminati arkeologi melakukan penggalian di tiga desa, di bekas Sungai Bengawan Solo purba, sekitar 12 kilometer dari Kota Ngawi sekarang. Dubois mempekerjakan para tahanan militer dalam penggalian itu.

"Tidak ada nama desa Trinil di sana. Nama itu diberikan pada tiga desa lokasi ekskavasi, yakni Kawu, Ngancar, dan Gemarang oleh Dubois sendiri," jelas Hendro.

Penemuan langit-langit tengkorak dan tulang paha atas manusia Jawa itu terjadi di tengah perdebatan keras di Eropa membahas kebenaran Teori Darwin, bahwa manusia bernenek moyangkan kera. Dubois dengan penemuan Pithecantropus erectus, yang artinya manusia cerdas berjalan tegak, diklaim sebagai mata rantai yang hilang yang membuktikan bahwa Teori Darwin salah, dan bahwa nenek moyang manusia bukan kera melainkan manusia juga.

Dasar Dubois adalah volume otak manusia Jawa asal Trinil itu sebesar 900 cc, yakni pertengahan antara volume otak kera modern 600 cc dan manusia modern 1.200 - 1.500 cc. Temuan Dubois ini menggemparkan Eropa pada zamannya ketika Eropa diterpa kontroversi Darwin. Kini tapak ekskavasinya masih dirawat dengan baik, di antaranya didasarkan dari tugu yang dibuat Dubois, yang berisi petunjuk lokasi penemuan.

Trinil penting, karena dibandingkan temuan sejenis di Wajak, Kabupaten Tulungangung, Jawa Timur, yang kini tak bisa ditemukan lokasi ekskavasi, lokasi temuan Dubois tersebut masih tercatat dan terbuktikan dengan baik. Kemudian sejak 1991 Pemprov Jawa Timur telah mendirikan bangunan Museum Trinil di dekat lokasi tapak. Pengelolaan instansinya dikerjasamakan antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi dan Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3), Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Menurut Hendro, pihaknya dan Pemkab Ngawi serta Pemprov Jawa Timur tengah gencar mengampanyekan pentingnya Trinil. Sebab Trinil bukan hanya milik Ngawi, melainkan milik Indonesia di mata internasional. "Promosi dihubungkan dengan kepariwisataan. Apalagi letak Trinil berada di garis rute wisata domestik dan mancanegara, Yogyakarta-Solo-Ngawi-Malang- Denpasar," ungkapnya.

Hendro menjelaskan, saat ini kunjungan ke Trinil sudah meliputi kunjungan turis mancanegara juga. Rata-rata kunjungan total masih sekitar 300 orang per bulan. "Kami bekerja dengan 19 karyawan, dan bersama Pemkab Ngawi sedang membangun rangkaian daya tarik wisata, yakni lokasi di dekat hutan setempat, demi mempromosikan Trinil sebagai lokasi tapak arkeologis penting," ungkapnya.


Editor : Nasru Alam Aziz