Jumat, 24 Oktober 2014

News / Regional

Industri Rokok Kecil

Pengusaha Keluhkan Harga Cengkeh Naik

Rabu, 25 Mei 2011 | 18:29 WIB

KUDUS, KOMPAS.com - Sejumlah pengusaha rokok kecil di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengeluhkan kenaikan harga cengkeh yang mencapai dua kali lipat dari harga normal.

Selain pengusaha rokok harus menambah modal hingga puluhan juta rupiah, kenaikan harga cengkeh juga membuat jadwal beroperasinya Lingkungan Industri Kecil Industri Hasil Tembakau mundur.

Dari informasi, kenaikan harga cengkeh beragam. Cengkeh dari J awa naik dari Rp 54.000 per kilogram menjadi Rp 94.000 per kilogram, adapun cengkeh dari Manado dari Rp 60.000 per kilogram menjadi Rp 120.000 per kilogram. Kenaikan yang terjadi sejak sebulan lalu diduga terjadi karena gagal panen cengkeh di beberapa daerah akibat anomali cuaca.

Pengusaha Rokok "Menara" Imam Syafii, Rabu (25/5/2011), mengaku, kenaikan harga cengkeh sangat me mberatkan pengusaha rokok kecil, karena mereka harus menambah modal usaha yang cukup besar untuk membeli cengkeh.  

 

Dia mencontohkan, untuk membuat 30 bal (720.000 batang rokok) membutuhkan 600 kilogram cengkeh . Sebelum kenaikan harga cengkeh, biaya pembelian cengkeh yang dikeluarkan Rp 32,4 juta.

"Namun, setelah harga naik, saya mengeluarkan Rp 56,4 juta. Jadi, setiap bulan atau pas ada pesanan, saya harus menambah modal Rp 24 juta" kata Imam.

Menurut Imam, salah satu cara menyiasati kenaikan harga cengkeh adalah menaikkan harga rokok. Namun, kalau harga cengkeh kian melambung, pengusaha tidak mungkin lagi menaikkan harga rokok.

"Kalau harga rokok naik terus, pembeli pasti tidak mau. Jika harga tidak dinaikkan, lama-lama pengusaha kecil bisa gulung tikar," kata Imam yang mempunyai 20 buruh.

LIK

Kenaikan harga cengkeh tidak hanya berdampak pada perusahaan kecil. Kenaikan tersebut juga menyebabkan Lingkungan Industri Kecil (LIK) Industri Hasil Tembakau (IHT) di Kecamatan Mejobo, mundur beroperasi. Padahal LIK IHT diharapkan mampu mempercepat penyerapan 1.100 tenaga kerja.

Ketua Forum Masyarakat Industri Rokok Indonesia (Formasi) Wilayah Jawa Tengah, Ahmad Guntur, mengatakan, LIK IHT merupakan kawasan industri rokok kecil yang dikelola Koperasi Serba Usaha (KSU) Kudus Sejahtera Tobacco. Jika bahan baku rokok naik, KSU penye dia bahan baku rokok itu membutuhkan sokongan dana sebagai modal awal.

"Kami membutuhkan Rp 3 miliar untuk menjalankannya. Pasalnya, untuk membeli salah satu bahan baku saja, cengkeh , dibutuhkan dana Rp 1,2 miliar per bulan dengan harga cengkeh Rp 120.000 dan kebutuhan cengkeh 10 ton per bulan," kata dia.


Editor : Benny N Joewono