Sabtu, 25 Oktober 2014

News /

Apa beda KERA dan MONYET?

Jumat, 20 Mei 2011 | 04:42 WIB

Apa bedanya kera dan monyet? Ayu mengajukan pertanyaan itu kepada para siswa SMKN I Kota Jambi. Hampir semuanya membisu. Tiba-tiba seorang siswa mengacungkan tangan. ”Kera tidak punya ekor, sedangkan monyet punya,” ujarnya.

Ayu tersenyum sambil mengacungkan jempol. Sedangkan teman-temannya menggoda. ”Nenek moyangmu,” canda mereka.

Suasana siang itu terasa santai karena materi yang diberikan Ayu dan Khusnul, selaku guru keliling program mobile education unit (MEU) Frankfurt Zoological Sosiety (FZS), cukup menarik dan diselingi gambar serta video pendek tentang satwa.

Walaupun kerap melihat monyet atau kera, banyak juga siswa yang tak tahu persis perbedaan keduanya. Ayu pun menjelaskan ciri-ciri satwa yang termasuk golongan kera adalah orangutan (Indonesia dan Malaysia), bonobo, gorila, dan simpanse (Afrika). Adapun golongan monyet adalah monyet ekor panjang, simpai, siamang, dan beruk.

Ayu bercerita, orangutan adalah salah satu jenis satwa liar dilindungi yang endemik Indonesia. Orangutan hanya ada di Sumatera dan Kalimantan, dengan sebutan orangutan sumatera (Pongo abelii) dan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus).

Di Sumatera, populasi orangutan hanya sekitar 6.000 ekor. Walau jumlahnya masih ribuan, jika melihat luasnya Sumatera maka keberadaan mereka sebagai satwa liar terancam punah.

Penjelasan itu langsung direspons. ”Kak, kalau memelihara kera di rumah bagaimana?” tanya Fifi, siswa kelas X. Ia bercerita, pamannya baru membawakan monyet ekor panjang ke rumah, sepulang dari hutan. ”Setelah ikut pertemuan ini, saya jadi mikir, jangan-jangan itu dilarang.”

Ayu mengingatkan, satwa dilindungi tak boleh dipelihara. Walaupun kita memelihara orangutan, harimau, atau macan dahan dengan penuh rasa sayang, memberinya makan secara teratur, itu sama dengan membunuh naluri keliarannya.

Padahal, hewan pun punya hak hidup bebas di habitat aslinya. Orangutan misalnya, tentunya tak ingin dikurung dalam kandang 1 x 2 meter. Orangutan berhak bergelayutan bebas dari satu pohon ke pohon lain dalam hutan, menikmati sarang rayap, madu, dan buah-buahan. Macan dahan pun ingin bebas mencari mangsa pada malam hari.

 

Bila hutan rusak

Mencintai satwa liar berarti kita juga harus menjaga lingkungan hidup mereka, yakni hutan. Apabila hutan rusak, satwa liar akan kehilangan rumah dan lambat laun mereka pasti akan punah.

Apa jadinya dengan manusia? Jika kita tidak menjaga lingkungan, bencana alam akan datang dengan sendirinya. Kalau sudah begini, manusia juga yang bakal rugi.

Menurut Ayu, program pengenalan satwa liar dilindungi telah dilaksanakan sejak sekitar setahun terakhir. Semula, program ini hanya menjangkau sekolah dasar yang berlokasi di sekitar hutan.

Program ini bertujuan agar siswa sejak dini mengenal satwa liar di sekitar desa mereka. Program kemudian berlanjut ke sekolah menengah atas di Kota Jambi. Hingga kini, 11 SMA telah dikunjungi tim MEU, yaitu SMA I, SMA 4, SMA 5, SMA 10, SMA Ferdi Ferry Putra, SMA Nusantara, SMA Unggul Ikabama, SMA Adhiyaksa, dan SMKN 1.

Menurut Khusnul, guru keliling lainnya, para siswa yang mereka kunjungi sangat beragam. Ada siswa yang cepat bosan, ada yang cukup serius mendengarkan materi pendidikan cinta satwa. Tetapi, ada pula siswa yang suka menonton film pendek tentang konservasi satwa dan lingkungan.

Bagi sekolah yang siswanya mudah bosan, mereka memilihkan aktivitas permainan. Salah satu permainan yang dipilih adalah Jungle Ball.

Sebelum pendidikan cinta satwa dimulai, siswa lebih dulu diberi tes sederhana akan pengenalan satwa liar. Tes serupa kembali diberikan pada penghujung acara. Tes ini berguna untuk mengukur dampak pendidikan terhadap kesadaran siswa pada konservasi satwa liar dan lingkungan.

Pada tes awal, nilai siswa biasanya hanya 10 atau 20. Namun pada tes akhir, diketahui nilai mereka mencapai di atas 50. Malah ada siswa yang mencapai 90 atau 100, alias semua pertanyaan bisa mereka jawab dengan benar.

Tahun 2009, program mobile education unit FZS, lembaga yang bergerak pada upaya konservasi orangutan sumatera ini, telah diselenggarakan pada semua sekolah dasar di 31 desa penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Jambi dan Riau.

 

Hidup bebas

Ratna Ayu Wulandari, guru keliling MEU FZS, mengatakan, awalnya program ini hanya ditujukan bagi siswa sekolah dasar. Kepedulian manusia untuk menjaga habitat satwa liar diharapkan dapat tertanam sejak mereka masih kecil.

”Sekarang kami ingin menjangkau siswa SMA karena di tangan merekalah kelestarian hutan dan lingkungan dapat terjaga,” katanya.

Tentang program ini, Fitra, siswa kelas X SMKN I Jambi, berkomentar, ”Aku memang suka melihat satwa. Tapi, hari ini aku mendapat banyak pengetahuan baru tentang satwa liar. Ternyata mereka juga ingin hidup bebas seperti kita manusia.”

Siswa kelas X SMKN I lainnya, Phika, berpendapat, program ini membuat pikiran mereka terbuka. ”Kita jadi memahami pentingnya mencintai satwa liar apa adanya, dan mau ikut menjaga lingkungan dari kerusakan. Ngeri juga kalau hutan rusak, pohon-pohon habis, dan tidak ada lagi satwa. Pasti tinggal bencana yang datang,” ujarnya.

Fifi, juga siswa kelas X SMKN I, bercerita, di rumahnya ada sejenis monyet yang dipelihara dalam kandang. ”Monyet itu dibawa pamanku dari hutan,” ucapnya.

Setelah mengikuti program tersebut, ia jadi berpikir, ”Kasihan juga monyet ini. Hidupnya dalam kandang, pasti dia ingin hidup bebas. Aku harus bilang ke orangtua tentang hal ini,” tambahnya. (IRMA TAMBUNAN)

***

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Satwa liar dinyatakan dilindungi karena jumlahnya tinggal sedikit. Begitu banyak satwa liar telah dinyatakan dilindungi atau hampir punah, seperti orangutan, harimau sumatera, macan dahan, gajah sumatera, beruang, dan tapir.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi satwa liar dari kepunahan?

1. Jika kita tersesat dalam hutan dan tiba-tiba bertemu satwa liar seperti orangutan, usahakan untuk tidak panik. Menjauhlah dari hewan itu dengan cara mundur pelan-pelan. Jangan melakukan tindakan yang bisa membuat mereka terkejut, misalnya berteriak histeris. Mereka malah bisa berbalik mengejar kita karena kehadiran dan teriakan kita dirasakan sebagai ancaman.

2. Kita tidak perlu berusaha mengusirnya, menangkap, atau membunuhnya. Orangutan bisa melawan. Lagi pula, satwa liar seperti orangutan termasuk jenis hewan yang dilindungi sehingga kita bisa tersangkut hukuman.

3. Jangan mendekati satwa liar.

Seperti manusia, satwa liar punya sifat yang beragam. Ada hewan yang ramah, tapi ada juga yang pemarah. Salah-salah nanti malah kita yang balik diganggu mereka.


Editor :