Senin, 21 April 2014

News / Regional

Harga Beras Naik, Petani Simpan Gabah

Senin, 2 Mei 2011 | 20:04 WIB

Baca juga

BANDA ACEH, KOMPAS.com — Meskipun saat ini masa panen padi di beberapa wilayah di Aceh masih terjadi, harga beras dalam beberapa hari terakhir mulai beranjak naik. Harga beras di tingkat pedagang eceran di Banda Aceh berkisar antara Rp 8.000 dan Rp 10.000 per kilogram. Banyak petani enggan menjual gabahnya karena hasil jual gabah tidak sepadan untuk membeli beras.

Usman (45), pedagang beras di Jalan Teuku Umar, Banda Aceh, mengungkapkan, seminggu terakhir harga beras cenderung naik. Satu kan tong beras berisi 10 kilogram dijual Rp 90.000, atau per kilogramnya lebih dari Rp 9.000. Padahal, sebelumnya masih sekitar Rp 80.000 per kantong.

Dia tidak tahu pasti sebabnya. Namun, dari penjelasan distributor dari Pidie, hal itu karena stok dari petani tidak terlalu banyak. Sebagian besar stok diserap pedagang dari Medan dan banyak petani yang tidak menjual gabahnya.

"Beras sekarang cepat sekali naiknya. Februari-Maret lalu sempat turun Rp 7.000 per kilogram, sekarang sudah naik lagi," kata Usman.

Di Pasar Atjeh, harga beras medium dalam kantong berisi 25 kilogram dijual Rp 140.000, atau naik Rp 5.000 dibandingkan dengan sepekan sebelumnya. "Mungkin karena cuaca tak bagus akhir-akhir ini sehingg harga naik pada waktu panen," kata Salim (35), pedagang beras di Pasar Atjeh.

Namun, menurut Salim, penyebab tingginya harga beras di Aceh sebenarnya masalah lama. Dari dulu beras asal Aceh, terutama dari Pidie dan Bireun, yang merupakan daerah penghasil utama beras, sebagian besar dibeli pedagang dari Medan. Beras-beras itu kemudian dijual lagi ke Aceh setelah dikemas dan diberi merek dengan harga yang mahal. Padahal, mereka membeli dari petani di Aceh dengan harga yang murah.

Tina Hidayah (28), petani di Desa Lampeneurut, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, memilih tidak menjual gabah hasil panennya akhir April lalu. Menurut dia, hasil jual gabah tidak cukup untuk membeli beras guna keperluan makan keluarga sebulan.

"Harga gabah sekarang cuma Rp 5.000 per kilogram. Kadang tidak sampai. Padahal, beras harganya lebih dari Rp 9.000 per kilogram. Lebih baik dimakan sendiri. Kalau dijual, tak cukup buat beli beras," kata Tina.

Hal yang sama dilakukan sebagian petani di Darul Imarah. Hanya petani-petani dengan luas lahan lebih dari 1 hektar yang berani menjual gabahnya. Dengan tanaman yang luas, hasil panen pun lebih besar sehingga hasil jualnya signifikan.


Editor : Benny N Joewono