Minggu, 26 Oktober 2014

News / Regional

Kesaksian

Detik-detik Jatuhnya Pesawat Latih TNI

Jumat, 29 April 2011 | 08:21 WIB

SLEMAN, KOMPAS.com — Peristiwa jatuhnya pesawat capung glider milik TNI AU di Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (28/4/2011) sore, sangat mengagetkan Sawal (45), warga Dusun Karangmoncol, Sendangtirto, Berbah.

Sawal adalah saksi yang mengetahui langsung detik-detik jatuhnya pesawat tersebut. Saat itu, ia menyapu halaman depan warung soto miliknya. Tak berapa lama ia melihat pesawat Cessna menarik satu pesawat glider kayu melintas di atas rumahnya, dari arah barat menuju timur, di ketinggian kira-kira 300 meter dari permukaan tanah.

Tiba-tiba, sekitar 500 meter di utara warung soto miliknya, pesawat glider itu menukik vertikal ke bawah. Pesawat latih itu jatuh di tengah areal tanaman tebu sekitar 500 meter sebelah utara Jalan Raya Berbah. Itu berarti sekitar 550 meter di timur laut kompleks makam Panembahan Puruboyo dekat Masjid Sultoni Wotgaleh, Karangmoncol, Sendangtirto.

"Bunyinya ciuuutt gedubrak, seperti ada benturan hebat dua mobil," kata Sawal kepada Tribun Jogja, Kamis (28/4/2011) petang. Sebelumnya, Sawal mendengar bunyi bagai tali panjang yang berputar-putar di udara.

Sawal memperkirakan, bunyi itu berasal dari tali yang lepas dari pesawat penarik yang ikut menukik ke bawah bersama pesawat glider. "Setelah bunyi gedubrak, saya melihat debu membubung tinggi sampai terlihat di atas tanaman tebu," kata Sawal yang lantas naik ke lantai dua rumahnya.

Begitu tali itu terlepas, pesawat Cessna sempat terombang-ambing sebentar. Lantas melaju lagi ke arah timur dan berbelok ke arah kiri. Selisih lima menit setelah pesawat glider itu jauh, datang puluhan Polisi Militer (PM) naik sepeda motor dan mobil.

Mereka masuk melalui pintu makam Panembahan Puruboyo, sekitar 15 meter ke arah barat warung soto milik Sawal. Sawal juga melihat beberapa personel naik pagar berduri di areal kebun tebu. "Ada juga empat unit ambulans yang masuk lokasi kecelakaan," terang Sawal.

Saat rombongan PM dan ambulans tadi mendekat lokasi kejadian, pesawat Cessna yang menarik glider itu lantas berbalik arah dari timur menuju barat. Kemudian pesawat itu terbang memutar tepat di atas lokasi kejadian jatuhnya pesawat glider.

"Tadi berputar kira-kira tiga kali, mungkin untuk memberi kode lokasi jatuh pada tim penyelamat," kisah Sawal.

Selang seperempat jam kemudian, dua unit mobil ambulans keluar dari lokasi kejadian. Sawal memperkirakan, dua unit ambulans itu membawa korban meninggal, Instruktur Sersan Satu (Sertu) Ninang Siwiyono dan Sersan Habibun Rahman.

Istri Sawal, Sri Asnah (45), saat kejadian itu sedang di ruang belakang warung sotonya. Ia terkaget saat mendengar pesawat jatuh. "Allahuakbar! Saya kira ada tabrakan di depan rumah," kisahnya.

Sri Asnah pun berlari ke depan rumah dan mendapati suasana di depan rumahnya sudah riuh. Hingga petang, sekitar lokasi kejadian masih dijaga ketat sejumlah personel PM.

Menurut petugas dari Kepolisian Daerah (Polda) DIY, pengamanan di sepanjang jalan di tengah areal kebun tebu itu dijaga empat pos. Tiap pos dijaga dua hingga empat personel PM.

Akses jalan dari arah Kota Yogya, dialihkan oleh PM. Meski demikian sejumlah kendaraan dari arah AAU bisa melintas. Banyak di antara warga ikut menonton meski lokasi tidak terlihat sama sekali karena terhalang tanaman tebu yang lebat. (Adrozen Ahmad)


Editor : yuli