Kamis, 27 November 2014

News / Regional

Revitalisasi Jaringan KA di Semarang

Rabu, 27 April 2011 | 20:12 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com — Kota Semarang, Jawa Tengah, tercatat sebagai kota yang memiliki sejarah pertama beroperasinya kereta api. Kota ini memiliki jaringan kereta api yang dapat menjadi sarana transportasi massal. Jika jaringan kereta api tersebut direvitalisasi, akan menghubungkan simpul-simpul kegiatan mulai bandar udara, terminal bus, sampai Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.

Demikian benang merah yang muncul dalam forum diskusi "Membangun KA di Jawa Tengah" yang digelar Pusat Studi Eko-Pemukiman (PSEP) Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, yang berlangsung di Gedung B Kompleks Lawang Sewu, Semarang, Rabu (27/4/2011).

Diskusi menghadirkan peneliti transportasi Djoko Setijowarno, Istijab dari Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Semarang, Heri Widodo (Dishubkominfo Jateng), Setiyono (Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jateng), Arief Zayyin (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), Amalia (Yayasan Bintari), serta para aktivis penggemar kereta api.

Djoko Setijowarno mengatakan, tonggak sejarah jalur kereta api pertama di Indonesia dimulai 10 Agustus 1867 ketika jurusan Semarang menuju Tanggung (Kabupaten Grobogan) beroperasi sekitar 25 kilometer. Sejak itu, hampir semua kota-kota penting di Jateng memiliki jaringan rel kereta api, termasuk jaringan rel KA di Semarang juga paling lengkap.

"Apabila upaya revitalisasi jalur rel KA mau dihidupkan kembali, sebaiknya dimulai dari jalur regional yang menghubungkan kota Semarang dengan daerah tetangga lebih dulu," ujarnya.

Jalur potensial yang layak dihidupkan adalah Semarang-Kedungjati-Tuntang. Jejak jalur rel kereta api masih dapat terlacak. Bangunan stasiun dan jalur rel kereta api juga masih utuh. Meski begitu, ada beberapa ruas rel kereta yang sudah berubah fungsi karena berdiri rumah penduduk di atas jalurnya.

Bila jalur kereta api ini dihidupkan, akan memiliki fungsi ganda, yakni sarana transportasi massal. Kereta api ini juga menghidupkan kegiatan wisata berbasis Danau Rawapening yang akan berakhir di Museum Kereta Api Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Direktur Eksekutif Walhi Jateng Arief Zayyin mengemukakan, pembangunan transportasi ke depan harus berbasisi dua hal, yakni ketersediaan bahan bakar dan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Transportasi kereta api jadi pilihan utama sebagai transportasi massal tidak hanya bebas polusi, tetapi juga mampu mengangkut penumpang lebih banyak dibanding angkutan darat.

Heri Widodo dari Dishubkominfo Jateng menjelaskan, perkembangan Kota Semarang memang pesat. Tapi perkembangan itu masih memungkinkan menghidupkan kembali jalur-jalur rel kereta api ke simpul-simpul kegiatan kota, yakni Terminal Mangkang, Pelabuhan Tanjung Emas, Bandara Ahmad Yani, dan kawasan bisnis lain di kota bawah.


Editor : I Made Asdhiana