Kamis, 17 April 2014

News /

Polisi Lakukan Tes DNA Pelaku dan Keluarga

Minggu, 17 April 2011 | 03:15 WIB

Baca juga

Jakarta, Kompas - Kepolisian Negara RI masih berupaya memastikan identitas pelaku bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro di Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon pada Jumat (15/4). Tes deoxyribonucleic acid (DNA) dilakukan untuk mencocokkan data genetika dan golongan darah pelaku dengan pihak yang diduga orangtua dan keluarga pelaku. Polisi telah mencurigai pelaku aksi bom adalah warga Cirebon berinisial MS.

Hingga Sabtu (16/4) sore, dari 28 korban luka, 13 korban masih dirawat di rumah sakit. Sisanya diperbolehkan pulang menjalani rawat jalan.

”Kami memerlukan waktu 1 x 24 jam untuk memastikan meskipun sudah ada 80 persen keyakinan. Apabila cocok, orangtuanya akan diizinkan melihat jenazah pelaku,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam di Jakarta kemarin.

Dalam identifikasi awal, menurut Anton, pelaku diketahui bergolongan darah O. Pengecekan sampel darah dan DNA diperkirakan selesai pada Minggu (17/4) pagi.

Sementara itu, Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Brigadir Jenderal Musaddeq Ishak mengungkapkan, polisi masih mencocokkan sidik jari dan data gigi pelaku dengan basis data yang dimiliki.

Pelaku yang berjenis kelamin lelaki ini diperkirakan berusia 25-35 tahun, dengan tinggi badan 181 cm, berat badan 70 kilogram, ukuran sepatu 43 (10 inci), dan berkulit kuning langsat. Selain berasal dari ras Mongoloid, pelaku memiliki tanda seperti bekas luka yang sudah sembuh di dahi kiri, gigi seri atas yang pernah patah, bekas luka akibat jamur di kuku ibu jari tangan kiri, dan tanda lahir di paha kanan.

Pelaku, lanjut Anton, mengenakan celana lima lapis—2 celana pendek dan 3 celana panjang—ketika beraksi. Ini menyeimbangkan bom yang dilekatkan semacam tas ke dada dan perut.

Di tubuh pelaku tidak ditemukan identitas apa pun, kata Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Irjen Mathius Salempang, kecuali kertas tanda pembayaran makan bertanggal hari Jumat itu. Mathius menolak menyebutkan lokasi tempat tersebut.

Pukul 12.17 menjelang shalat berjemaah, setelah khatib turun dari mimbar, pelaku menerobos ke depan, ke barisan nomor dua tengah, dan meledakkan diri. Korban luka pun berjatuhan di sekitar pelaku.

Menurut Anton, korban luka ringan mencapai 24 orang, dengan 8 di antaranya menjalani rawat jalan. Korban luka berat 6 orang (bukan 28 orang seperti diberitakan kemarin). Korban meninggal hanya 1 orang, yakni sang pelaku. Seorang di antara para korban luka adalah warga sipil, yakni Ustaz Abas.

Terkait bom yang digunakan, Mathius mengatakan, bom masih dicoba dirakit supaya diketahui karakternya. Dari olah tempat kejadian perkara, bahan yang digunakan paku, mur, dan baterai.

Tentang bahan peledak yang digunakan, Mathius menyatakan belum dapat memastikan jenisnya. Juga belum dapat dipastikan pelaku bom bunuh diri dari kelompok teroris mana kendati dari cara kerja, modus, dan bom yang digunakan bisa diperkirakan. ”Dugaan polisi, pelaku adalah rekrutan baru sebab terkesan belum ahli dalam merakit bom. Pelaku mendapat doktrin bahwa pemerintah dan polisi sebagai tentara setan. Apalagi, polisi memang banyak menangkap teroris,” ujar Anton, sambil menambahkan, jajaran kepolisian diminta meningkatkan kewaspadaan.

Dicurigai

Dari Cirebon, polisi mencurigai bahwa pelaku peledakan bom yang tewas dalam insiden bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro, kompleks Mapolresta Cirebon, Jumat (15/4) pukul 12.20, adalah warga Cirebon.

Kepala Bagian Perencanaan Polres Kota Cirebon Komisaris Sutisna kemarin menjelaskan kepada pers, warga yang dicurigai dan tewas di lokasi kejadian itu berinisial MS, warga Kelurahan Pekalipan, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, yang diketahui hilang sejak ledakan bom terjadi Jumat, siang. Untuk memastikan keterlibatan MS, polisi telah meminta keterangan kepada tiga anggota keluarga MS, yaitu kedua orangtuanya, Gofur (60) ayahnya dan ibunya, Ratu Srimulat (57), serta adik kandung MS bernama Toni (20).

Menurut Sutisna, keterlibatan MS masih belum bisa dipastikan karena ada berbagai tahapan yang harus dilalui, termasuk rangkaian tes DNA pada orangtua dan akan dicocokkan dengan DNA korban tewas tersebut. Setidaknya perlu waktu 3-4 hari.

Sebaliknya, keluarga MS juga belum memberikan kepastian apakah anaknya, MS, adalah benar pelaku bom bunuh diri itu.

Elang Rasid (62), paman MS yang ditemui di Cirebon, mengatakan, keponakannya memang tidak ada lagi di rumah saat ini. Polisi juga telah membawa kedua orangtua dan adik MS ke Jakarta pada Jumat malam, sekitar pukul 22.00. Sebelumnya mereka diperiksa di Hotel Prima di Cirebon.

”Saat polisi menunjukkan foto korban bom bunuh diri yang juga diduga sebagai pelaku, Ratu Srimulat langsung menangis. Mungkin wajah dalam foto itu mirip dengan anaknya,” kata Rasid, Sabtu (16/4). Ratu Srimulat adalah adik kandung Rasid.

Kurang komunikasi

Rasid menggambarkan bahwa keluarga Gofur-Ratu Srimulat memang kurang berkomunikasi dengan keluarganya.

Rasid menjelaskan, baru pada Jumat malam, setelah peristiwa bom bunuh diri terjadi, ia mengenal istri MS yang tinggal di Majalengka. ”Itu pertama kali saya mengetahui istrinya. Saat menikah, dia (MS) pun tidak bercerita atau mengundang saya,” ujar Rasid.

Menurut Rasid, keponakannya itu jarang ditemuinya sejak masih kanak-kanak. ”Saya terakhir kali bertemu dia Lebaran tahun lalu. Bukan hanya dengan MS, saya juga jarang berkomunikasi dengan kedua orangtua dan saudara MS yang lain,” kata Rasid.

Rasid juga tidak paham aktivitas keseharian MS. Selama bertahun-tahun keduanya tidak bertemu.

MS yang diperkirakan berusia 30 tahun itu, menurut Rasid, tinggal bersama istrinya di Majalengka. Namun, Rasid mengaku tidak tahu lokasi rumah mereka.

Istri MS diketahui sedang hamil sembilan bulan. Awalnya, istri MS itu akan dibawa serta ke Jakarta untuk dimintai keterangan. ”Namun, tidak jadi. Mungkin pertimbangannya karena sedang hamil tua,” ujar Rasid.

Perawatan

Hingga Sabtu sore, 11 korban ledakan bom masih dirawat di RS Pelabuhan serta 2 korban di RS Pertamina Cirebon, yakni Kepala Polres Kota Cirebon Ajun Komisaris Besar Herukoco dan Kepala Bagian Administrasi Polres Kota Cirebon Komisaris Suhadi.

Menurut Kepala Humas RS Pelabuhan Yeni Rahmawati, Sabtu siang, tiga korban dioperasi ulang di RS Pelabuhan karena belum semua material bom yang masuk ke dalam tubuh korban bisa diambil.

Staf Humas dan Pemasaran RSU Pertamina Cirebon, Muhammad Nur, mengungkapkan, dokter memeriksa ulang Kepala Polres Kota Cirebon Herukoco. Sampai dengan pukul 02.00, dokter bisa mengeluarkan 31 serpihan logam, paku, dan mur dari tubuh Herukoco. Logam masuk di punggung dan lengan korban.

Selain Herukoco, kini RSU Pertamina Cirebon juga merawat Kepala Bagian Administrasi Polres Kota Cirebon Komisaris Suhadi. Suhadi sebelumnya dirawat di RS Pelabuhan Cirebon. Karena memerlukan penanganan lebih intensif, ia dipindahkan ke RSU Pertamina Cirebon. Dokter menemukan 14 lempengan logam di tubuh Suhadi, tersebar di lengan dan punggung.

Teror bom di Manado

Sabtu (16/4) pagi aksi teror bom juga terjadi di Kantor Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Penduduk sekitar panik setelah ditemukan bungkusan tas plastik warna hitam berisi rangkaian elektronik dan kabel hitam serta kardus menyerupai bom di depan pintu masuk kantor sinode.

Bungkusan plastik ditemukan Benny Tular, petugas keamanan Kantor Sinode GMIM, pukul 05.30. Benny yang curiga bungkusan itu berbahaya langsung melapor kepada Ketua Sinode GMIM Dr Pdt Piet Tampi MTh.

Tampi kemudian lapor ke Polres Kota Tomohon. Dia curiga bungkusan itu bom setelah melihat rangkaian kabel menjulur keluar kardus.

Kapolres Kota Tomohon Ajun Komisaris Besar Suyanto minta bantuan tim penjinak bom dari Kepolisian Daerah Sulawesi Utara dan pukul 09.30 benda itu diledakkan. ”Saat diledakkan tak terdapat bahan peledak seperti serbuk mesiu,” kata Suyanto.

Peledakan dilakukan di lokasi untuk meyakinkan masyarakat bahwa benda itu bukan bom.

Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Utara Ajun Komisaris Besar Benny Bela menambahkan, di dalam bungkusan plastik hitam terdapat juga pengatur waktu (timer) warna biru dan papan kecil. ”Tapi, ini bom main-mainan saja,” kata dia.

Pdt Piet Tampi menilai teror bom merupakan aksi provokasi. Ia berharap masyarakat tidak terpancing. (INA/REK/WIE/ELD/ZAL)


Editor :