Kamis, 31 Juli 2014

News / Regional

Lingkungan

Pabrik Olahan Ikan di Muncar Cemari Laut

Senin, 11 April 2011 | 05:52 WIB

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Sejumlah pabrik pengalengan ikan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur saat ini baru dalam proses membuat instalasi pengolahan air limbah atau IPAL. Padahal, pabrik pengolahan di kawasan Muncar itu telah berproduksi belasan tahun.

Air buangan limbah masih dapat ditemui di kompleks perindustrian Muncar, Banyuwangi. Air limbah rata-rata dialirkan lewat pipa ke muara sungai dengan kondisi yang masih keruh dan bau.

Humas PT Sumbar Yala Samudra, Supriyadi, mengatakan, dokumen dan IPAL dari pabriknya sudah mulai diproses. Dalam hitungan bulan, IPAL bisa dibangun jika kepengurusan dokumen selesai.

Supriyadi mengatakan, selama bertahun-tahun, limbah pabrik di perusahaannya diolah dengan cara diendapkan dan diuapkan. Tetapi diakuinya, cara-cara itu memang belum tentu menjamin air limbah menjadi bersih.  

"Kami belum membangun IPAL yang standar karena menunggu rencana pembangunan IPAL terpadu. Ibu Ratna, Bupati Banyuwangi periode yang lalu, menjanjikan akan membangun IPAL terpadu," katanya.

Supriyadi mengaku butuh dukungan pemerintah daerah saat itu, karena selama ini hampir tak ada tanah kosong di kawasan Muncar. Kawasan pelabuhan tersebut padat oleh 39 pabrik dan rumah nelayan.

Pemerintah Banyuwangi pada 2010 memang mendesain adanya IPAL terpadu. Tetapi hingga kini belum terealisasi.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, sebelumnya mengatakan, kawasan IPAL terpadu dan penataan lingkungan akan bertahap dilakukan. Hal itu seiring dengan pembangunan Muncar sebagai Minapolitan.

Pabrik skala kecil

Selain pabrik-pabrik besar, industri skala kecil juga turut mencemari lingkungan. Di Muncar terdapat 100-an lebih pabrik-pabrik kecil yang memproduksi ikan asin, ikan pindang, dan penyimpanan ikan. Pabrik-pabrik tersebut juga membuang limbah mereka langsung ke selokan atau sungai.  

Di pusat pengeringan ikan asin milik ratusan perajin misalnya, limbah hasil pencucian ikan asin, tak proses terlebih dulu. Limbah itu langsung dibuang di selokan dan menimbulkan bau.

Beberapa perajin ikan asin mengatakan proses pembuangan limbah langsung ke selokan yang mengarah ke sungai sudah dilakukan bertahun-tahun. " Hampir semua pabrik besar seperti itu, dan mereka tidak dipersoalkan," kata Maria (40), salah satu perajin ikan asin.

Fauzi (24), salah satu pengusaha cold storage juga belum berpikir membuang limbah di penampungan tertentu, apalagi mengolahnya. Ia berdalih, kalaupun harus ada tempat penampungan, pemerintah harusnya ikut membantu karena kondisi usahanya kembang kempis akibat kekurangan bahan baku.


Editor : yuli