Rabu, 23 April 2014

News / Regional

Mengintip Dunia Malam Bandung

Jumat, 8 April 2011 | 12:02 WIB

Baca juga

KOMPAS.com- Hanya ada satu meja resepsionis, tanpa petugas yang berjaga dalam ruangan sederhana berlampu remang-remang. Tengah pekan pada akhir Januari lalu, saat malam masih muda, ruang tamu sebuah lokasi hiburan di pusat Kota Bandung itu dihangatkan beberapa penerima tamu berbaju seksi yang siap mengantar tamu ke etalase perempuan penghibur. Itulah secuplik dunia malam Kota Bandung, yang gelegaknya terus berdenyut hingga dini hari, dan tiap hari pula.

“Silakan, pak… Mari kita lihat,” tutur salah seorang dari penerima tamu, sembari mengajak menyusuri lorong remang-remang, yang lebarnya hanya sekitar satu meter. Perjalanan berakhir di luar sebuah kamar terang benderang, dengan belasan perempuan berbaju seronok, berikut nomor di dada.

Di sinilah pasar hiburan malam Kota Kembang, yang menyediakan hiburan bagi hasrat lelaki. Para tamu, tentu saja pria, mengintip para perempuan lewat jendela nako. Para perempuan yang berdandan secantik dan seseksi mungkin itu pun siap ”bertugas” jika nomornya terpilih dan dipanggil si penerima tamu.

Sembari menggaet tangan si tamu, perempuan penerima tamu itu gesit mencarikan kamar, atau lebih tepat dinamai bilik. Luasnya hanya 2 x 2 meter berikut kamar mandi di dalamnya. Dindingnya tripleks yang dicat kuning, selaras dengan lampu remang-remang, satu-satunya lampu di situ, yang juga berwarna kuning. Hanya ada satu kasur sederhana, serta meja di ujung kamar, plus kaca rias.

Di kamar apa adanya itulah transaksi tiap malam berputar. Ris, sebut saja demikian, adalah salah satu perempuan di rumah hiburan itu. “Saya sudah enam bulan di sini. Sudah termasuk senior, karena yang lain kebanyakan baru beberapa minggu,” kata wanita asal Cirebon berusia 36 tahun itu.

Sekali diservis, lanjut Ris, tamu dipungut Rp 250.000. Itu biaya untuk sewa bilik beserta pelayanan si penghibur. Ris keberatan menyebut berapa rupiah yang ia peroleh dari Rp 250.000 itu. Yang pasti, selain mendapat uang dari biaya resmi, ia kerap menerima tip dari tamu yang puas dengan pelayanannya. Nilainya, bervariasi antara Rp 100.000 hingga Rp 300.000, tergantung belas kasih si tamu.

Selain ruang berkaca “etalase” itu, tersedia pula sebuah kafe sederhana yang bisa berfungsi sebagai arena transaksi. Di kafe yang juga remang-remang itu, pria yang datang, segera disambut perempuan yang siap menemani minum. Percakapan apa yang terjadi selama minum? Bisa ke mana-mana. Termasuk, bisa berakhir dengan kesesuaian harga, dan semuanya selesai di bilik mini itu.

Pusat hiburan ini tanpa embel-embel, apakah dia panti pijat, spa, atau karaoke. “Kalau menyebut panti pijat, kan memang di sini tidak menawarkan pijat,” tutur Ris. Semua aktivitas di pusat hiburan itu berakhir pukul 02.00 dini hari, dan dimulai pukul 12.00. Saat dimulai tengah hari itu, tutur Ris, hanya satu-dua penghibur yang berjaga. “Maklum, di sini makin malam makin ramai,” tambahnya lagi.

Pemandu lagu

Hiburan malam versi lain di Bandung, persis juga dengan di Jakarta, berupa arena karaoke plus. Kata “plus” di sini mengacu pada istilah perempuan pemandu lagu, biasa disingkat PL. Lagi-lagi, di tempat karaoke plus seperti ini, tamu yang datang melulu pria. Itu tak lain karena semua pemandu lagu adalah wanita. Kebanyakan tamu datang berombongan, tiga hingga lima orang. 

Heri J, seorang karyawan swasta di Bandung, misalnya, kala itu datang di karaoke plus “B” di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, bersama dua teman kerjanya. “Sebelumnya sudah pernah sekali datang ke sini, jadi ini yang kedua. Ya, sekadar melepas stres setelah berminggu-minggu bekerja. Wajar kan,” ujar pria berkaca mata itu.

Mirip dengan arena hiburan di pusat kota yang telah disinggung di muka, arena karaoke ini juga menyediakan “akuarium” PL yang segera ditawarkan untuk dilihat para tamu. “Sekarang ini yang datang memang cuma sedikit. Tetapi semuanya kualitas top,” kata seorang pria kenes mempromosikan delapan perempuan di dalam kamar berkaca lebar itu. Setelah masing-masing memilih pemandu lagu, mereka lalu masuk ke ruang karaoke, disusul pemandu yang sudah dipilih.

Bertukar nomor telepon genggam antara pemandu lagu dengan para tamu, sudah biasa. Setidaknya itulah yang dituturkan Vire, salah seorang pemandu lagu di arena karaoke "B." "Kalau sudah cocok dan enjoy dengan tamu, kami bisa saja janjian ketemu setelah di ruang karaoke. Apa pun bisa terjadi," tutur Vire, yang baru berusia 26 tahun, dan sudah berstatus janda beranak satu.

Kisah sehari-hari seorang pemandu lagu juga diungkapkan Ativ. “Dua malam berturut-turut saya mabuk, karena tamu banyak, dan mereka buka botol juga. Eh, sekarang mabuk lagi,” kata Ativ, sambil menuangkan minuman berkadar alkohol hampir 40 persen ke gelas tamu-tamunya. “Kalau mau minum, emang pasnya sama saya. Dijamin asyik deh,” janji perempuan yang juga berusia 20-an tahun itu.

Ativ dan teman-temannya tidak hanya berkesempatan meminum minuman yang sama dengan tamunya. Dia bebas memesan apa pun tanpa persetujuan tamu. Biasanya, mereka memesan sebungkus rokok dan air mineral. Nanti-nanti, tambah lagi lainnya. Sang tamu pun cuma bisa menandatangani bon pesanan Ativ tanpa tahu perkiraan harganya. Selain itu, mereka juga bisa menyanyi lagu pilihan sendiri.

Dengan honor PL ditetapkan Rp 240.000,00 per orang, rombongan tamu bisa merogoh koceknya hingga Rp 2 juta lebih untuk menyanyi bersama PL selama 3 jam. Hitung saja harga minuman yang biasa ditawarkan dan disajikan di pusat karaoke “B.” Misalnya, paket 2 Chivas seharga Rp 900.000, yang setelah ditambah pajak dan biaya servis Rp 180.000, menjadi Rp 1.080.000,00. Satu pitcher Coca Cola? Siapkan Rp 226.000.

Seiring dengan makin larutnya malam, perbincangan menghangat. Bermacam pengakuan pun meluncur, baik dari tamu maupun PL. Ativ, misalnya, sempat menuturkan betapa ia sedih mengingat hancurnya cita-cita masa kecil. “Sejak kecil cita-cita saya sebenarnya ingin jadi dokter. Sampai sekarang pun masih memendam cita-cita itu. Makanya, setelah adik saya diterima di Fakultas Kedokteran, saya semangat membiayai. Ibu dan adik saya nggak tahu saya kerja di sini,” katanya sembari mengusap air mata yang tiba-tiba menetes di pipi.

Saat siang

Bagaimana jika siang hari? Ada saja hiburan. Salah satunya berupa servis di panti pijat eksklusif. Tarifnya? Tidak mahal-mahal amat. Untuk kamar standar, atau yang termurah misalnya, cukup Rp 150.000. Bila sedang beruntung, Anda bisa mendapat potongan harga Rp 50.000. Ada dua kelas kamar lagi yang lebih mahal, yakni deluxe dan VIP. Kedua kamar ini “terisolir”, tidak berjajar seperti kamar stándar, yang memungkinkan bisa mendengar suara percakapan kamar sébelah.

Kamar stándar itu hanya 4 x 1 meter dengan suasana cukup privat, seperti lampu remang-remang dan korden tertutup rapat. Setelah menunggu beberapa saat di kasur pijat, gadis pemijat akan datang. Mengenakan rok mini dan blus ketat, si gadis akan memperkenalkan diri dengan suara lembut plus manja, sebelum memijat seluruh tubuh.

Seperti dituturkan Tin, bukan nama sebenarnya, pemijat asal Sukabumi yang usianya belum menginjak 25 tahun. Ia bekerja di panti pijat eksklusif itu sudah tiga bulan, bersamaan dengan pembukaan panti tersebut. “Waktu itu ada saudara yang menginformasikan adanya lowongan di sini,” tutur Tin.

Setelah dilatih, Tin pun bekerja melayani tamu-tamu panti. “Enak nggak enak sih,” ujar Tin yang berambut sebahu. Enaknya, jika si tamu mau diajak ngobrol sehingga sembari ia memijat, tidak merasa bosan. Yang membuatnya malas, bila tamunya hanya nyenyak tertidur. Jika itu yang terjadi, Tin akan jenuh, karena selama dia memijat, total butuh 90 menit, ia hanya akan mendengar dengkur si tamu.

Bandung, yang berhawa sejuk dan dikenal punya banyak aset wisata, mulai dari wisata alam, ilmu pengetahuan, belanja, dan kuliner, juga mengandalkan kawasan-kawasan hiburan untuk menggenjot pendapatan daerahnya. Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Bandung mengklasifikan kawasan hiburan dengan 15 kategori, antara lain meliputi bioskop, diskotek, karaoke, klab malam, panti pijat, kolam renang, dan insidental kesenian (termasuk di dalamnya konser musik).

Menurut Sekretaris Dispenda Kota Bandung, Hendar, realisasi penerimaan daerah dari bisnis hiburan pada 2010, melebihi target. “Semula, penerimaan dari hiburan pada 2010 kami targetkan Rp 25 miliar. Tetapi realisasinya mencapai Rp 25,32 miliar. Makanya 2011 ini target dinaikkan menjadi Rp 30 miliar,” tutur Hendar.

Yang menarik, di antara beberapa pusat hiburan yang penghasilannya melebihi target, dua di antaranya adalah karaoke dan panti pijat. Karaoke yang ditargetkan menggaet Rp 7,9 miliar, ternyata meraih Rp 8,4 miliar. Sedangkan panti pijat, dari target awal Rp 2,2 miliar, menerima Rp 2,3 miliar. Ini Bandung, bung. Kota dengan turis yang terus berdatangan, dan mereka nyata-nyata ingin terus dihibur. (Herlambang Jaluardi/Adi Prinantyo)


Editor : Marcus Suprihadi