Kamis, 28 Agustus 2014

News /

MENJAGA NUSANTARA

Mencegah Tragedi Lewat HT

Jumat, 8 April 2011 | 03:26 WIB

Mohammad Hilmi Faiq

Pascaletusan Gunung Sinabung di Sumatera Utara, banyak hal sudah dilakukan berkait mitigasi. Pemkab Karo, misalnya, membagikan handy talkie atau HT kepada para kepala desa untuk sarana peringatan dini.

Jumat (27/8/2010), masyarakat lereng Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, dilanda kepanikan lantaran mendengar gemuruh, disusul asap dari puncak itu. Dua hari setelah itu, Sinabung benar-benar meletus dengan ketinggian semburan awan mencapai 2.000 meter dari puncak gunung. Suara letusan dan gemuruh terdengar hingga radius 15 kilometer.

Bisa dimengerti betapa paniknya masyarakat saat itu. Sebab, sudah delapan generasi gunung setinggi 2.451 meter itu seolah mati, setelah meletus pada tahun 1600-an.

Tak kurang dari 18.194 orang dari 32 desa meninggalkan rumah menyerbu Kabanjahe dan Berastagi.

Sebenarnya, letusan itu tidak mematikan, karena hanya disertai asap dan debu vulkanik. Justru kepanikan itulah yang akhirnya menyebabkan dua warga tewas: satu tertabrak kendaraan saat mengungsi, dan seorang lagi karena serangan jantung.

Kepanikan terus meningkat seiring jumlah pengungsi yang mencapai 30.052 jiwa. Pemerintah Kabupaten Karo pun panik dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan menghadapi gelombang pengungsi sekaligus membayangkan yang akan terjadi dengan Sinabung. Mereka sama sekali tidak berpengalaman menghadapi bencana gunung berapi.

Beruntung warga di Kabanjahe dan Berastagi begitu sigap menampung para pengungsi dan menempatkan mereka di beberapa jambur, sejenis pendopo yang biasa digunakan untuk acara adat.

Masih waswas

Kini, delapan bulan kemudian, Gunung Sinabung sudah kembali tenang dan hanya menyemburkan awan sekitar 50-100 meter. Sesekali masih terdengar gemuruh ringan. Warga pun sudah beraktivitas seperti biasa. Namun, kecemasan masih menghantui, karena sewaktu-waktu aktivitas Sinabung bisa meningkat dan meletus.

”Kami menyiapkan dua karung baju dan menghubungi saudara di Kabanjahe untuk menyediakan tempat mengungsi,” kata Sapta Sembiring (53), warga Desa Sukanalu Teran, Kecamatan Naman Teran, dalam perbincangan di akhir Maret lalu. Dia tidak ingin lagi mengungsi tanpa bawa baju ganti seperti waktu itu.

Kaban Karokaro (34), warga Desa Sukameria, Kecamatan Payung, mengatakan, meskipun kondisinya aman, warga desa banyak yang waswas. Mereka tidak bisa lagi hidup setenang sebelum letusan.

Desa Sukameriah merupakan salah satu desa yang berada di bawah rekahan Gunung Sinabung, dan hanya berjarak satu kilometer dari puncak. Desa lainnya, Simacem dan Bekerah, juga hanya berjarak 1,5- 2,5 km dari puncak gunung. Ketiga desa itu dihuni 1.100 jiwa.

Bila aktivitas Sinabung meningkat dan mengeluarkan awan panas atau lahar, tiga desa di lereng gunung inilah yang tersapu lebih dulu. ”Tiga desa ini statusnya sangat berbahaya bila Sinabung meletus, karena sangat dekat dengan rekahan,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Surono.

Idealnya, tiga desa itu harus dikosongkan mengingat tingginya risiko yang membayangi. Namun, warga Karo tidak mungkin meninggalkan tanah kelahirannya. Bagi mereka, tanah kelahiran itu segalanya.

Karena itu, kata Surono, yang terpenting adalah membuat mereka menyadari risiko sekaligus memberinya langkah-langkah penyelamatan dini.

Surono menambahkan, pihaknya bersama peneliti dari Jepang tengah meneliti Gunung Sinabung, karena tergolong unik. Gunung ini lama tidur, dan empat abad kemudian meletus.

Pengawasan dan pemantauan terhadap Sinabung pun disejajarkan dengan pemantauan terhadap Gunung Merapi, yakni dengan membuat pos pantauan seismik di empat titik. Selain itu, PVMBG memasang dua ungkitan, dan setiap hari memantau gas CO2 Sinabung. Itu semua untuk mengetahui aktivitas Sinabung dari waktu ke waktu, sekaligus bahan peringatan dini.

Di samping itu, PVMBG juga berencana membangun pos untuk memantau Sinabung dan Gunung Sibayak. Sayangnya, Pemkab Karo belum bisa menyediakan lahan. ”Padahal lahannya cuma 500 meter per segi, dan kami yang bayar,” kata Surono.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Karo Perdana Sebayang mengatakan, lahan itu sudah ada di Kecamatan Simpang Empat. Namun, kemungkinan baru dibangun pertengahan tahun ini.

Peran HT

Pada dasarnya, kepanikan warga saat Sinabung meletus lebih dipicu oleh ketidaktahuan tentang gunung berapi berikut gejalanya. Pemerintah perlu membekali warga, minimal perangkat desa, tentang mitigasi bencana, sehingga kepanikan bisa ditekan.

Untuk itulah, Pemerintah Kabupaten Karo membagikan 30 HT kepada setiap desa yang berada dalam radius 6 km dari puncak Sinabung. Mereka aktif berkomunikasi dengan sandi Uruk 01 sampai Uruk 30, untuk saling mengabarkan kondisi desa masing-masing. Mereka terhubung juga dengan posko pengamatan Sinabung dan Pemerintah Kabupaten Karo.

Saat Sinabung mengeluarkan asap atau gemuruh, kepala desa terdekat akan meminta kejelasan dari pemerintah dan posko pemantau tentang gejala itu, serta perlu tidaknya mereka mengungsi. ”Dengan adanya HT ini, kami tidak sepanik dulu dan lebih mudah menenangkan warga. Semua informasi yang disampaikan lewat HT bisa dipercaya,” kata Kepala Desa Sukameria.

HT selalu dibawa kepala desa ke mana pun dia pergi. Kepala desa wajib memberitahukan warganya jika terjadi kegentingan terkait Gunung Sinabung. Posko pemantau pun akan segera menyebarkan kabar via HT bila sewaktu- waktu warga harus mengungsi. HT pun lalu menjadi kunci mitigasi.

Komunikasi antarkepala desa itu sangat mudah terbentuk. Ini tak lepas dari keunikkan warga Karo yang hidup berkerabat, apalagi yang semarga.

Kesadaran warga tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana pun tumbuh dan meningkat. Kini, di hampir setiap desa, sekelompok yang terdiri dari delapan sampai 14 orang berjaga-jaga di pos ronda. Jadwal ronda itu dibuat secara bergilir merata untuk laki-laki dewasa. Fungsi utama mereka adalah memberi kabar seandainya sewaktu-waktu Sinabung bergemuruh atau aktivitasnya meningkat.

Pemerintah Kabupaten Karo juga menetapkan beberapa desa sebagai shelter atau tempat pemberhentian pertama sebelum warga mengungsi lebih jauh.

Masing-masing desa shelter menyiapkan lokasi pengungsian awal untuk 1-3 hari.


Editor :