Selasa, 29 Juli 2014

News / Regional

Tanaman Langka

114 Jenis Tumbuhan Langka Dilestarikan

Rabu, 6 April 2011 | 22:21 WIB

MANADO, KOMPAS.com — Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Sulawesi Utara melestarikan 114 jenis tumbuhan langka berusia tua dari ancaman kepunahan. Pelestarian tanaman dilakukan dengan membuat Taman Keanekaragaman Hayati yang didanai Kementerian Lingkungan Hidup.

Kepala BPLH Sulut Olvie Ateng di Manado, Rabu (6/4/2011), mengatakan, konsep dasar pengembangan taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) yakni pelestarian dan penangkaran jenis-jenis tumbuhan langka, dilindungi, asli, dan endemik Sulawesi.

Dikatakan, 114 jenis tum buhan ditemukan di Provinsi Sulawesi Utara telah mendapat kritik dan direvisi dari pakar jenis tumbuhan lokal.

"Sementara itu, kriteria kelangkaan mengacu pada syarat IUCN (International Union for Conservation of Nature) serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999," katanya.

Taman Keanekaragaman Hayati Sulut harus menjadi tempat untuk merepresentasikan kekayaan hayati Sulawesi Utara. Kekayaan hayati yang telah membentuk alam, budaya, dan tradisi Indonesia dari daerah ini.

John Tasirin, pakar lingkungan dan kehutanan di Manado, mengatakan, tumbuhan asli (native) jenis yang asal-muasalnya dari Sulawesi saat ini telah tersebar dan bernaturalisasi di kawasan biogeografi lain di dunia ini.

Jenis endemik Sulawesi yang distribusinya sangat terbatas secara alami hanya ditemukan di Sulawesi. "Contoh jenis tumbuhan endemik Sulawesi Utara, yakni kayu hitam minahasa (Diospyros minahassae), meranti sulawesi (Vatica celebica), pala hutan minahasa (Myristica minahassae), bunga bangkai sulawesi (Amorphopallus plicatus)," katanya.

Menurut dia, terdapat 114 jenis tumbuhan langka dan terancam punah yang bisa ditemukan di Sulawesi Utara yang juga dilindungi oleh peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Jenis-jenis tersebut antara lain kasturi (Mangifera casturi), kibatalia (Kibatali a wigmanii), tiga jenis eboni (salah satunya eboni sulawesi, Diospyros celebica), pala hutan (Myristica kjellbergii), dan tiga jenis pohon penghasil gaharu (salah satunya Aquilaria beccariana).

Jenis yang memiliki nilai etnobotani penting adalah yang memengaruhi budaya dan menjadi bagian penting dalam membentuk tradisi dan lingkungan. Jenis-jenis yang memiliki nilai etnobotani penting di Sulawesi Utara termasuk yang berfungsi untuk obat-obatan seperti karimenga (Acorus calamus), saketa (Jatropha curcas), sesewa nua (Clerodendrum fragrans), dan peling setang (Ixora celebica).

Di samping itu, masih banyak jenis tumbuhan lainnya yang telah diabadikan sebagai nama desa, antara lain Mapanget, Wangurer, Teling, Wanea, dan Bitung.


Editor : Benny N Joewono