Senin, 1 September 2014

News / Regional

Cuaca Buruk

Musim Paceklik Masih Menghantui Nelayan

Selasa, 5 April 2011 | 21:50 WIB

JEMBER, KOMPAS.com - Musim paceklik berkepanjangan membuat nelayan dan pedagang ikan menghentikan aktivitas kerja. Ini akibat perubahan iklim yang sangat ekstrim sehingga bagi orang tua di masyarakat nelayan disebut sebagai tahun rendeng kembar, ibarat alami musim barat berkepanjangan atau dua kali lebih lama.

Untuk memenuhi kebutuhan pemindang karena kesulitan bahan baku , pedagang mendatangkan ikan jenis benggol atau layang dari luar daerah. Antara lain, ikan hasil tangkapan nelayan di Probolinggo, Situbondo, dan Muncar.

Sekali waktu saya pernah mendatangkan ikan dari pabrik di Surabaya guna memenuhi pemindang. Itu ikan i mport asal Korea, kata Yoyok W , pedagang ikan, warga Desa Puger Kulon Kecamatan Puger, Jember, Selasa (5/4/2011).

Hampir dua tahun ini nelayan mengalami musim paceklik dan tidak mencapai produksi optimal. Selain ombak dan gelombang pasang relative cukup besar sehingga nelayan tidak berani pergi melaut, hasil tangkapan ikan pun tidak maksimal.

Menurut Yoyok W, jika musim ikan sudah tiba maka setiap hari bisa kirim ikan tuna ukuran antara 50 100 kg per-ekor ke Benoa, Bali sebanyak 1 hingga 2 ton. Sedang ikan jenis layur bisa setiap truk ke Muncar dan Surabaya. Namun, belakangan sudah tidak ada ikan yang bisa dikirim ke sana.

Untuk memenuhi permintaan pemindang di Puger, kata Yoyok W, mereka terpaksa mendatangkan ikan jenis benggol atau layang dari Probolinggo, Situbondo dan Surabaya. "Kalau didatangkan dari Surabaya, jelas ikan asal pabrik yang diimpor dari Korea," katanya.

Gelombang disertai angin cukup besar sepanjang tahun 2010 membuat nelayan khawatir pergi melaut. "Namun, masih ada nelayan yang memberanikan diri tetapi hasil yang diperoleh paling banyak. Seperti perahu itu," kata Syamsul Hadi, sambil menunjuk perahu milik Siswadi yang membawa 20 orang awak perahu, pulang hanya membawa 3 geronjong ikan tongkol.

Setiap geronjong isinya 75 kg, harga ikan per kilogram Rp 1.300 dari nelayan sehingga hanya dapat Rp 292.500. "Untuk operasional telah menghabiskan bahan bakar sebanyak 40-50 liter. Ini belum dipotong ongkos manol yang membawa dari dermaga ke pasar," kata Syamsul Hadi.

Namun demikian, ada juga perahu nelayan yang hari itu berhasil membawa pulang ikan tongkol hampir satu ton. Ini tergantung dari rejeki kelompok nelayan tersebut.

Camat Puger Wahyudi Abdullah mengatakan, musim paceklik masih membuat nelayan belum memperoleh hasil yang optimal. "Padahal ponetnsi ikan di persairan Puger, besar sekali. H asil tangkapan nelayan ini masih merupakan ikan permukaaan," katanya.

Yoyok W dan Wahyudi Abdullah sepakat bila ada perubahan dari prilaku nelayan agar bisa menangkap ikan di laut lepas. Hanya saja kemampuan armada di laut itu sangat terbatas.

"Sekitar 100 mil dari pantai, tidak sedikit kapal ikan dari Bali, wira-wiri menangkap ikan di perairtan itu, dan hasilnya banyak," kata Yoyok W.


Editor : Benny N Joewono