Minggu, 21 Desember 2014

News /

BAHAN BANGUNAN NAIK

Perajin Bata Tak Menikmati Harga, Sejumlah Proyek Ditunda

Kamis, 10 Maret 2011 | 04:33 WIB

Magetan, Kompas - Kalangan perajin bata merah pada sentra industri di Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, tidak menikmati kenaikan harga 30 persen saat ini, karena terjadi penurunan permintaan bata. Sementara di Bandar Lampung, melambungnya harga bahan bangunan, justru berdampak penundaan sejumlah proyek oleh kalangan pengembang.

Para perajin bata, Rabu (9/3), mengatakan, kenaikan harga yang mereka tetapkan karena biaya operasional pembuatan bata juga naik.

Atik (35), perajin asal Desa Dukuh, Kecamatan Bendo, mengatakan, hampir seluruh komponen bahan pembuatan bata naik. Misalnya tanah liat, garam, serta sekam atau kulit padi.

Harga tanah liat satu pikap sebelumnya Rp 380.000, menjadi Rp 420.000. Harga sekam juga melambung dari Rp 340.000 menjadi Rp 420.000 per pikap. Garam dari Rp 30.000 menjadi Rp 74.000 per zak. Produksi bata dari volume tanah satu pikap juga turun dari 1.000 buah jadi 900 buah. Dengan kenaikan seluruh komponen bahan baku itu, perajin terpaksa menaikkan harga jual bata. Apalagi dengan cuaca ekstrem, datangnya hujan terus-menerus menghambat pembuatan bata. Harga bata semula Rp 222 menjadi Rp 300 per buah.

Di sentra pembuatan bata merah di Desa Ngelinguk, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jatim, curah hujan yang tinggi juga menurunkan produksi bata hingga 50 persen. ”Biasanya dalam 10 hari kami sudah bisa memproses pembakaran bata 70.000 buah, tapi sekarang hanya bisa memproses 50 persen karena untuk mengeringkannya butuh waktu lebih lama dibandingkan saat cuaca normal,” kata M Fuad (41), pengusaha batu bata di Ngelinguk, Mojokerto.

Sunarno, perajin lain dari Bendo mengatakan, tahun lalu pembuatan bata bisa menjadi andalan menghidupi keluarga. Sejak tahun ini, Sunarno terpaksa merangkap jadi buruh tani.

”Keuntungan kami habis karena tingginya biaya operasional. Kami harus kerja sampingan jadi buruh panen sawah dan mencari pakan ternak,” ujar Sunarno.

Dalam kondisi cuaca normal pengeringan bata hanya butuh waktu lima hari. Dalam kondisi cuaca yang kerap hujan saat ini, waktu pengeringan bata lebih dari seminggu. ”Pekerja pencetak bata merah sendiri tidak bisa bekerja maksimal dan hanya bisa mencetak 750 bata merah setiap harinya, karena keburu turun hujan,” katanya.

Dikatakan, kemerosotan produksi bata merah ini berdampak pada kenaikan harga bata dari Rp 225 menjadi Rp 300 per buah. ”Walaupun harganya naik, tak ada pengaruhnya dengan pendapatan saya, karena produksi bata merosot tajam,” ujar Fuad.

Pasangan suami istri, Solikan (39)-Mutiatin (37), pekerja pencetak bata merah mengaku, sejak November 2010 penghasilan mereka sebagai pekerja pencetak bata merah merosot drastis, karena tidak bisa mencetak bata merah sebanyak musim hujan. ”Kalau musim kemarau, saya bisa mencetak bata merah lebih dari 20.000 biji dalam waktu sebulan, sekarang tidak lebih dari 10.000 biji,” katanya. Ongkos tenaga kerja setiap 1.000 biji Rp 60.000.

Tunda proyek

Di Bandar Lampung, naiknya harga bahan bangunan seperti besi, cat, batu bata, dan kelangkaan semen membuat sebagian besar pengembang memilih menunda pembangunan proyek perumahan.

”Sebagian tetap berjalan karena dikejar waktu, namun konsekuensinya biaya investasi meningkat. Bisa 30 persen,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) REI Lampung, Gunawan Hendra, di Bandar Lampung.

Menurut dia, kelangkaan semen di awal tahun tidaklah lazim. Sebab, di Lampung saat ini masih minim kegiatan proyek pembangunan yang menyedot sumber daya yang besar, termasuk proyek-proyek pemerintahan.

Harga semen di tingkat pengecer di Lampung terus merangkak naik. Kemarin mencapai Rp 64.000 per zak isi 50 kilogram untuk merek Holcim dan Baturaja. Kenaikan bahan bangunan ikut mendongkrak inflasi di Lampung. (NIK/JON/TIF)


Editor :