Kamis, 24 April 2014

News / Regional

794 Perempuan Meninggal Saat Melahirkan

Senin, 7 Maret 2011 | 17:37 WIB

Baca juga

BANDUNG, KOMPAS.com — Sebanyak 794 perempuan di Jawa Barat tewas saat melahirkan akibat pendarahan dan mengidap hipertensi.

"Meski angka kematian itu menurun dibandingkan 2009, tapi tetap menjadi pekerjaan rumah karena masih tinggi," kata Kabid Pelayanan Masyarakat Dinas Kesehatan Jabar Niken Budisastuti, Senin (7/3/2011).

Niken menyebutkan, jumlah ibu yang melahirkan pada 2010 di Jabar sebanyak 685.274 orang, sebanyak 794 orang di antaranya meninggal dunia, baik saat kehamilan, melahirkan, ataupun  masa nifas.

Kematian ibu saat melahirkan pada 2009 sebanyak 814 orang. Penyebab utamanya adalah pendarahan dan hipertensi.

Selain itu terdapat pula kasus akibat penanganan yang tidak melibatkan tenaga medis. "Kelahiran hanya dengan paraji atau dukun beranak sangat berisiko, dan sebagian besar menjadi pemicu lambatnya pertolongan kepada ibu melahirkan pada saat masa kritis," kata Niken.

Pemicu kerawanan saat melahirkan juga akibat hamil usia muda atau terlalu tua, jarak kelahiran terlalu pendek, dan kurangnya pemeriksaan kondisi kehamilan.

Untuk menekan angka kematian ibu, Dinas Kesehatan Jabar membangun 87 Puskesmas Poned atau yang dilengkapi dengan fasilitas penanganan persalinan.

"Persalinan wajib didampingi oleh petugas medis, salah satunya melengkapi dengan Puskesmas Poned di daerah, termasuk menempatkan bidan di puskesmas desa," kata Niken.

Terkait pemberdayaan paraji atau dukun beranak, kata Niken, sebagai pendamping bidan saat proses kelahiran.

Pemprov Jabar telah berupaya mencetak 2.000 bidan desa sejak 2009 yang selanjutnya akan disebar ke daerah asal masing-masing.

"Paraji dilibatkan, terutama pasca-kelahiran, mereka terus diberi pengetahuan tentang kebersihan dan standar penanganan kelahiran yang aman. Kelahiran tetap harus dilakukan oleh bidan," kata Kepala Bidang Pelayanan Masyarakat Dinkes Jabar itu.


Editor : Benny N Joewono
Sumber: