Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 07:59 WIB
Bali Kembali "Hidup"
| Jimmy Hitipeuw | Minggu, 6 Maret 2011 | 06:11 WIB
|
Share:
K1-11 (Muhammad Hasanudin) Seluruh aktivitas warga lumpuh total pada saat Nyepi, Sabtu (05/03/2011), tampak hanya pecalang yang berjaga-jaga.

DENPASAR, KOMPAS.com - Memasuki "Ngembak Geni", Minggu ( atau sehari setelah Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1933, Pulau Bali kembali "hidup" yang ditandai dengan dimulainya aktivitas masyarakat karena selama 24 jam sebelumnya tidak ada kegiatan.

Pulau Bali yang berpenduduk 3,89 juta jiwa itu pada Sabtu (5/3/2011) pagi hingga Minggu dinihari bagaikan pulau mati tanpa penghuni, karena sunyi senyap di siang hari dan gelap gulita pada malam hari.

Meskipun denyut kehidupan pada hari pertama memasuki Tahun Baru Saka 1933 sudah mulai normal, namun masyarakat setempat belum melakukan aktivitas secara maksimal.

Toko-toko sepanjang jalan sebagaimana tahun-tahun belum seluruhnya buka, namun sejumlah pasar tradisional mulai ramai dikunjungi masyarakat, meskipun jalan-jalan masih belum seramai hari-hari sebelumnya.

Suasana hari raya masih terlihat di Bali yang kebetulan bertepatan hari libur Minggu sehingga perkantoran pemerintah dan swasta di Bali masih tutup. Pada Nyepi ini, Gubernur Bali Made Mangku Pastika memberikan dispensasi kepada karyawan seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD), baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota libur selama tiga hari berturut-turut mulai Jumat (4/3/2011) hingga hari ini.

Pada "Ngembak Geni" ini masyarakat umumnya saling berkunjung ke keluarga atau kerabat dekat untuk silaturahim atau rekreasi dengan mengunjungi objek-objek wisata. Sebagian masyarakat lainnya mulai melakukan aktivitas, terlihat dari kehidupan pasar, seperti pasar Badung dan pasar Kumbasari yang sejak pagi hari itu sudah cukup ramai.

Sementara itu, kesibukan "ekstra" dilakukan oleh tenaga kebersihan kota Denpasar yang membersihkan dan mengangkut sampah yang menumpuk di pemukiman penduduk maupun tepi jalan. Puluhan truk mengangkut sampah sudah beroperasi sejak pagi hari dari tempat-tempat pengumpulan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di kawasan Suwung, pinggiran kota Denpasar.

Dalam rangkaian perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1933, umat Hindu melakukan berbagai kegiatan ritual yang banyak memproduksi sampah dari bekas sesajen serta aneka bungkus makanan-minuman ketika warga melakukan malam "pengerupukan" dengan mengarak ogoh-ogoh, boneka raksasa berwajah menyeramkan.

Sumber :