Kamis, 28 Agustus 2014

News / Regional

Industri Rakyat

Produksi Bata Merah Merosot Setengahnya

Kamis, 3 Maret 2011 | 11:41 WIB

MOJOKERTO, KOMPAS.com - Cuaca ekstrim yang ditandai dengan tingginya curah hujan, berdampak pada merosotnya produksi bata merah hingga mencapai lima puluh persen, di Sentra Pembuatan Bata Merah, di Desa Ngelinguk, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.  

"Biasanya dalam waktu sepuluh hari kami sudah bisa melakukan proses pembakaran bata merah sebanyak 70.000 biji, tapi sekarang ini dalam kondisi cuaca yang seringkali hujan hanya bisa memproses 50 persennya, karena untuk mengeringkan bata merah butuh waktu lebih lama dari kondisi cuaca normal," kata M Fuad (41), Pemilik Usaha Kecil Pembuatan Bata Merah, di Desa Ngelinguk, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, hari Rabu (2/3/2011).

Ia mengatakan, jika dalam kondisi cuaca normal untuk pengeringan batu bata hanya membutuhkan waktu lima hari, sekarang ini dalam kondisi cuaca yang kerapkali hujan, waktu pengeringan bisa lebih dari satu minggu. Pekerja pencetak bata merah sendiri tidak bisa bekerja maksimal dan hanya bisa mencetak 750 biji bata merah sertiap harinya, karena keburu turun hujan, katanya.

Dikatakan, kemerosotan produksi bata merah ini berdampak kepada kenaikan harga bata merah yang biasanya berkisar Rp 225 perbiji, sekarang naik menjadi Rp 300 perbiji. "Walaupun harganya naik tidak ada pengaruhnya dengan pendapatan saya, karena produksi bata merah merosot tajam," katanya.

Menyoal bahan baku tanah liat untuk pembuatan bata merah, Fuad mengatakan, pihaknya mendatangkannya dari Desa Dinoyo dan Desa Pohjejer, Kecamatan Trowulan, karena tanah sawah di Desa Ngelinguk sudah tidak memungkinkan lagi untuk digali tanahnya untuk bahan baku pembuatan bata merah.

"Untuk bahan bakunya saya harus beli tanah galian sawah di Desa Dinoyo dan Pohjejer yang harganya satu truknya (sekitar 6 ton-red) Rp 180.000 dan seminggu sekali saya mendatangkan bahan baku sebanyak tiga truk," katanya.   

Pangsa pasar hasil produksi bata merah Trowulan, demikian menurut Fuad, tidak hanya para bakul dari Mojokerto, namun dari pelbagai kota dan daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang, Lamongan dan Madura. "Pembelinya langsung datang ke sini dan kalau stok habis, saya tinggal meminta teman-teman pembuat bata merah agar disiapkan bata merah," katanya.

Pasangan suami istrti Solikan (39)-Mut iatin (37), pekerja pencetak bata merah mengatakan, sejak bulan Novemver tahun lalu hingga sekarang ini penghasilannya sebagai pekerja pencetak bata merah ikut merosot drastis, karena tidak bisa mencetak bata merah sebanyak musim kemarau. "Kalau musim kemarau saya bisa mencetak bata merah lebih dari 20.000 biji dalam waktu sebulan, sekarang tidak lebih dari 10.000 biji," katanya.

Ongkos tenaga kerja pencetak bata merah per 1.000 bijinya Rp 60.000. Dengan demikian, setiap bulannya Ia bisa mengantongi penghasilan Rp 1.200.000 (normal). Tapi sekarang dalam kondisi abnormal (cuaca buruk) penghasilannya merosot menjadi Rp 600 .000 perbulan.  

"Ya, cukup untuk makan dan biaya sekolah anak," kata Solikan, bapak dua anak.

Mutiatin, istri Solikan menambahkan, dalam situasi dan kondisi cuaca yang seringkali turun hujan itu membuat pekerjaan tenaga pencetak bata merah bertambah berat. Pasalnya, sewaktu-waktu turun hujan mereka pun harus sigap menutupi deretan bata merah dengan plastik.

Widji (53), Pemilik Usaha Kecil Pembuatan Bata Merah, di Dusun Bendorangkang, Desa Tanggarejo, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang yang berbatasan dengan Desa Ngelinguk, Kecamatan Trowulan, Kabupetan Mojokerto ketika ditemui secara terpisah mengatakan, seringnya hujan deras yang terjadi beberapa bulan terakhir ini menjadi kendala pembuatan bata merah. Alasannya, hasil cetakan bata merah yang masih basah membutuhkan pengeringan sinar matahari.

"Karena jarang ada panas, saya baru bisa membakar 30.000 biji bata merah satu setengah bulan sampai dua bulan, padahal biasanya paling lama 25 hari sudah bisa membakar bata merah," katanya.

Berbeda dengan Fuad yang harus membeli bahan baku tanah sawah untuk pembuatan bata merah, Widji mengaku tidak perlu membeli bahan baku tanah sawah untuk pembuatan bata merah, karena di atas lahan sawah miliknya seluas 0,28 hektar masih tersisa 500 meter persegi yang bisa digali untuk bahan baku pembuatan bata merah.

"Kalau tanah sawah milik saya masih bisa digali sedalam 2,5 meter, kalau yang lainnya sudah habis digali sedalam 1 meter sampai 1,5 meter," katanya. 


Editor : A. Wisnubrata