Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 03:03 WIB
Waduk Cirata Tercemar
| Rabu, 23 Februari 2011 | 03:47 WIB
|
Share:

Bandung, Kompas - Budidaya keramba jaring apung di Waduk Cirata, Jawa Barat, kini tak terkendali sehingga menimbulkan pencemaran dan sedimentasi tinggi. Kondisi ini sangat merugikan para pihak, baik pusat listrik tenaga air untuk interkoneksi Jawa-Bali, pengguna transportasi, maupun puluhan ribu petani pembudidaya ikan.

Menurut catatan Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC), di danau ini terdapat lebih dari 50.000 keramba jaring apung (tahun 2007). Nilai investasi setiap keramba jaring apung, menurut Ketua Asosiasi Petani Ikan Danau Cirata (Aspindac) Sundaya (39), rata-rata Rp 50 juta per unit sehingga totalnya Rp 2,5 triliun.

”Malah, berdasarkan informasi terakhir dari lapangan, di waduk ini terdapat 70.000 keramba jaring apung,” ujar Ketua Komisi Anggota Penasihat Perhimpunan Pembudidaya Ikan Cirata (Perpic) Muhamad Husen, Selasa (22/2). Padahal, berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat tahun 2002, keramba jaring apung di Cirata hanya diizinkan sampai 12.000 petak. Satu unit rata-rata terdiri atas 4 petak keramba jaring apung.

Selain mengganggu operasional pusat turbin karena peralatannya mudah berkarat, tingginya sedimentasi juga mengancam kelestarian waduk yang terletak di perbatasan Kabupaten Cianjur, Purwakarta, dan Bandung Barat itu.

Di danau seluas 6.334 hektar itu, menurut pemantauan Kompas, Selasa (22/2), bertebaran keramba jaring apung yang posisinya tidak beraturan. Kondisi ini menyusahkan perahu-perahu angkutan orang ataupun ikan karena harus berputar-putar mengitari ruang-ruang yang kosong. ”Ini sangat berbahaya karena tidak jarang perahu bertabrakan, terutama pada malam hari,” ujar Sundaya.

Tiap bulan, Waduk Cirata ditaburi 6.000 ton pakan ikan, 3.000 ton di antaranya terbuang ke dasar waduk karena ikan hanya memakan setengahnya. Sedimentasi dari pembuangan pakan ini terhitung lebih besar daripada faktor alami pendangkalan di waduk itu.

”Penelitian tahun 2007, sedimentasi di Cirata 7,41 juta meter kubik per tahun, sebelumnya hanya 5,5 juta meter kubik,” ujar Asisten Analis Hidrologi dan Sedimentasi BPWC Tuarso.

Berdasarkan perhitungan BPWC, degan sedimentasi setinggi itu, waduk yang didesain berusia 100 tahun itu akan berkurang usianya 20 tahun. Listrik yang dihasilkan 1.008 megawatt.

Waduk Cirata merupakan salah satu dari tiga waduk yang memanfaatkan aliran Sungai Citarum. Waduk ini terletak di tengah antara Waduk Saguling di hulu dan Waduk Jatiluhur di hilir.

Sedimentasi yang tinggi ditambah kepadatan keramba jaring apung ini mengancam investasi petani. Pasalnya, kandungan oksigen di bawah permukaan sangat rendah sehingga ikan rentan mati.

Jika terjadi arus air bawah naik ke atas (upwelling), menurut Sundaya, biasanya membawa limbah dan mematikan seluruh ikan yang ada di atasnya. Peristiwa ini biasanya berlangsung setiap awal musim hujan, di mana arus air deras terjadi di bawah permukaan. Padatnya kolam jaring terapung juga mempercepat penyebaran penyakit herves yang hingga saat ini belum teratasi.

Seorang petani ikan Cirata di Desa Margalaksana, Kecamatan Cipicung, Kabupaten Bandung Barat, Uyo (48), menjelaskan, satu petak rata-rata membutuhkan pakan ikan 1,5 ton setiap siklus budidaya selama 3-4 bulan.

Saat ini sudah ada larangan untuk membangun keramba jaring apung baru.

(dmu)