Jumat, 28 November 2014

News /

MENJAGA NUSANTARA

Normalisasi Kali Lamong Ditunggu

Jumat, 18 Februari 2011 | 04:13 WIB

Kali Lamong dalam beberapa tahun terakhir menjadi populer. Sungai sepanjang 131 kilometer itu setiap tahun membuat sengsara puluhan ribu warga di sepanjang alirannya, dari Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, Gresik, hingga Surabaya.

Seperti di daerah lain, banjir selalu diakibatkan oleh ulah manusia, baik itu di hulu, hilir, maupun daerah bantarannya. Oleh sebab itu, upaya penertiban daerah bantaran, pengerukan, normalisasi, dan tentu rehabilitasi hutan haruslah menjadi prioritas penanggulangannya.

Kali Lamong berhulu di gunung kapur perbatasan Desa Gedog, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, dan Sukorame, Kecamatan Ngimbang, di Kabupaten Lamongan dan bermuara di Laut Jawa wilayah Gresik. Dalam perjalanannya, kali ini juga sempat mampir di sejumlah kelurahan di Kota Surabaya, seperti di Kecamatan Pakal dan Benowo.

Di Gresik bagian selatan, luapan Kali Lamong setiap tahun menggenangi dan bahkan merendam wilayah Kecamatan Balongpanggang, Benjeng, Cerme, Menganti, Wringinanom, dan Kedamean. Juga di kawasan perkotaan Gresik, seperti Sukorejo, Kedanyang, dan Prambangan di Kecamatan Kebomas.

Banjir paling parah memang di wilayah Gresik karena dari 131 kilometer (km) alirannya, sepanjang 54 km di antaranya di wilayah Gresik. Selain pendangkalan dan penyempitan badan sungai, bantaran sepanjang 6 km dari Sedapurklagen hingga Munggugianti; 1 km di Desa Gluranploso di Kecamatan Benjeng; dan 1 km di Morowudi, Kecamatan Cerme, bahkan tanpa tanggul.

Sejumlah tanggul juga kritis karena rusak dan berubah fungsi menjadi permukiman atau tempat usaha.

Apalagi, waduk-waduk di sekitar Kali Lamong yang mestinya berfungsi sebagai retensi atau tempat penampungan sementara air kini sebagian disewakan untuk memelihara ikan atau ditanami.

Permukiman dan industri

Sebelum tahun 1980-an, kondisi Kali Lamong masih normal. Fungsi Kali Lamong berubah seiring perkembangan penduduk dan industri, dengan ditandai banyaknya bangunan di tepi sungai.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Gresik Tugas Husni Syarwanto menyebutkan, di bantaran Kali Lamong yang melintasi Gresik kini terdapat 1.300-an bangunan dan 17 unit industri. Pendangkalan terjadi terus-menerus dengan laju sedimentasi (pengendapan) 12 sentimeter per tahun. Kini pendangkalan bahkan mencapai lebih dari 4 meter.

”Alur Kali Lamong di Morowudi dan Cerme rusak parah. Pengerukan terakhir pada 2008 sudah tak mampu lagi mencegah luapan air,” katanya.

Secara topografis, badan Kali Lamong di Gresik sangat landai sehingga tidak cepat mengalirkan air ke laut lepas. Jika turun hujan deras dan laut pasang, permukaan air Kali Lamong naik melebihi bibir sungai dan meluber menggenangi sawah dan permukiman.

Aktivis Lumbung Informasi Rakyat Gresik, Khoirul Anam, menuturkan, pembuangan limbah, perusakan kawasan mangrove di pesisir, dan pembangunan pelabuhan mini di muara Kali Lamong menghambat aliran air ke laut. Akibatnya, sedimentasi Kali Lamong bertambah parah.

Aktivitas tujuh industri di Desa Sukorejo serta lima industri di Segoromadu dan Karangkiring, Kecamatan Kebomas, berkontribusi merusak fungsi Kali Lamong. Ke depan, dampaknya bisa lebih parah dengan proyek besar Waterfront City, terminal peti kemas, dan perluasan Pelabuhan Tanjung Perak.

Berdasarkan catatan Kompas, sepanjang 2010, Kali Lamong meluap 14 kali, menerjang wilayah Balongpanggang, Benjeng, dan Cerme. Di awal 2011, tepatnya 30 Januari, Kali Lamong kembali meluap.

Genangan air di Desa Morowudi dan Iker-iker Geger, Kecamatan Cerme, serta Cermen Lerek di Kecamatan Kedamean berlangsung lima hari. Di seluruh Gresik, banjir menerjang 51 desa di enam kecamatan dan menggenangi 7.157 rumah, 2.273 hektar sawah, dan 620 hektar tambak.

Air merendam 64,35 km jalan desa, 7,95 km jalan kabupaten, dan 8,35 km jalan poros desa. Dua orang meninggal, satu anak balita kritis tercebur di genangan air.

Banjir datang lagi pada Minggu (13/2), menggenangi sawah di Bulangwetan, Bulangkulon, Deliksumber, dan Kedungrukem, Kecamatan Benjeng, tetapi cepat surut.

Luapan Kali Lamong menyebabkan lahan pertanian hancur. Petani harus tambal sulam tanaman dan gagal panen. Produksi padi turun 30 persen, dari normalnya 6 ton per hektar menjadi 4 ton per hektar. Banjir juga mengganggu produksi dan distribusi industri camilan di Dusun Ngebret, Desa Morowudi.

Upaya penanganan

Meski berkali-kali terjadi banjir, upaya penanganan serius tampaknya belum terlihat, kecuali upaya darurat. Itu pun inisiatif warga lebih menonjol dengan bergotong royong menutup tanggul jebol sepanjang 7 meter di Desa Cermenlerek, Kecamatan Kedamean; 5 meter di Desa Gluranpolso, Kecamatan Benjeng; dan 5 meter di Desa Jono, Kecamatan Cerme.

Mereka menutup tanggul dengan sesek (anyaman bambu), bongkotan (tunggul atau batang pohon bagian bawah), bambu, dan glangsing (karung plastik) yang diisi tanah.

Menurut Tugas, skenario mengatasi banjir Kali Lamong bisa dengan pengerukan, penanggulan, dan pembuatan embung, serta memfungsikan kembali waduk di sekitar Kali Lamong. Tahun ini ada rencana pengerukan Kali Lamong.

Tugas menjelaskan, pascabanjir 2004, di Morowudi dilakukan penanggulan. Tahun berikutnya banjir bergeser ke Ngering dan Sukorejo di Kecamatan Cerme. Setelah dilakukan penanggulan di wilayah itu, tahun 2006 giliran Munggugianti dan Benjeng tergenang. Tanggul di Cermenlerek yang jebol, dan pada 2005 ditutup, ternyata awal Februari jebolan bergeser.

Agar tepat, penanganan Kali Lamong perlu dilakukan secara terpadu dengan koordinasi lintas wilayah dan sektoral, termasuk melibatkan jasa tirta dan industri di sekitar Kali Lamong.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Graita Soetadi menjelaskan, solusi praktis adalah normalisasi, tetapi masyarakat harus merelakan lahannya untuk pelebaran alur sungai.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo Pudjo Buntoro menambahkan, pengelolaan Kali Lamong masuk Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo. Balai akan menormalisasi sungai pada daerah kritis penyebab meluapnya Kali Lamong.

Bagi masyarakat, solusi apa yang akan dipilih silakan saja. Yang penting, banjir setiap tahun tak lagi terjadi.

(ADI SUCIPTO KISSWARA)


Editor :