CIPEUNDEUY, KOMPAS.com — Sekitar 150 ton ikan di Waduk Cirata, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, mati pada rentang waktu dari Desember 2010 sampai bulan ini.
Ikan yang didominasi jenis mas dan nila itu mati akibat aboiling atau adanya arus bawah air yang naik dan membawa kotoran. Akibat matinya ratusan ton ikan itu, petani ikan merugi sekitar Rp 2,25 miliar.
Seorang petani dan distributor ikan di Cipeucung, Yono Suyono, mengatakan, aboiling terjadi hampir setiap tahun, khususnya pada cuaca mendung yang sering terjadi akhir-akhir ini.
"Aboiling terjadi karena sinar matahari tidak ada. Akibatnya, ada dorongan panas dari bumi. Kerugian dikalikan saja harga Rp 15.000 per kilogram dengan sekitar 150 ton. Ikan-ikan yang mati itu milik 60 petani ikan. Ikan saya yang mati mencapai 20 ton," ujarnya saat ditemui di Waduk Cirata, Jumat (14/1/2011).
Yono menambahkan, sampai saat ini belum ada solusi untuk menghindari aboiling, apalagi pada saat musim hujan karena sinar matahari jarang terlihat. Pada tahun ini, jumlah ikan yang mati tergolong sedikit. Biasanya, ikan yang mati akibat aboiling mencapai ribuan ton.
"Hampir setiap tahun memang terjadi aboiling. Kami juga khawatir, apalagi saat ini musim ekstrem dan sulit diprediksi. Belum ada solusi untuk mencegahnya. Kadang kami jual ikan yang mati dengan harga yang jauh dari normal. Itu untuk mengurangi kerugian kami," ujar pria berusia 45 tahun ini.
Yono mengatakan, setiap hari dia mampu memanen sebanyak tujuh ton ikan. Ikan itu kemudian dikirim ke Jakarta, Bogor, Tasikmalaya, dan Bandung. Dia mengeluhkan soal peningkatan produksi ikan setiap tahun yang tidak diimbangi dengan naiknya konsumsi ikan.
Distributor pakan ikan, H Juanda, mengatakan, harga pakan ikan terus naik. Pada pekan lalu harga pakan ikan Rp 5.500 atau naik 100 persen dari pekan sebelumnya. Namun, jumlah perputaran uang untuk pakan ikan dalam satu hari bisa mencapai 2.000 ton per bulan. (Agung Yulianto)
