Kamis, 17 April 2014

News /

Jalan Rusak Merugikan Sopir

Jumat, 14 Januari 2011 | 02:44 WIB

Baca juga

Kudus, Kompas - Jalan pantai utara Jawa yang rusak berat di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dan Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, merugikan banyak pihak, termasuk sopir dan pengusaha bus serta truk. Pengusaha bus bahkan mengurangi armada yang beroperasi hingga setengahnya.

Kerugian itu, misalnya, dialami pengusaha bus jurusan Pati-Semarang dan Rembang-Semarang. Kerusakan jalan pantai utara (pantura) di Jekulo, Kudus, sejak Desember 2011 menyebabkan sopir bus rugi.

Sopir bus PO Nusantara yang melayani trayek Semarang-Pati, Handoyo (48), menyebutkan, sejak jalan di Jekulo rusak, ia mengubah trayek menjadi Semarang-Kudus. Penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan hingga Pati atau Rembang harus menggunakan bus lain dari Terminal Jati, Kudus. ”Kalau terus sampai Pati, waktu habis di jalan,” kata Handoyo.

Ali Kusyadi (58), sopir truk gandeng pengangkut jagung dari Anyer, Banten, dengan tujuan Jember, Jawa Timur, mengemukakan, kemacetan menyebabkan pemakaian solar bertambah dari 550 liter menjadi 600 liter sekali jalan. Biaya makan membengkak karena waktu perjalanan Anyer-Jember bertambah sehari menjadi empat hari.

Tambahan biaya solar sebesar Rp 225.000 dan biaya makan Rp 60.000 berasal dari kantong pribadi sopir. ”Semula saya dapat Rp 800.000 sekali jalan, tetapi kini jadi Rp 575.000. Perusahaan tak mau tahu, yang penting barang sampai tepat waktu,” kata Ali.

Suyadi (48), sopir truk pengangkut sepeda motor rute Jakarta-Surabaya, bernasib sama. Ia harus menanggung biaya tambahan solar dan pernah menanggung biaya perbaikan as roda truk yang patah, senilai Rp 1 juta. Padahal, penghasilan dia sekali jalan adalah Rp 250.000. ”Pendapatan saya harus dipotong Rp 100.000 setiap kali jalan untuk mengangsur pembayaran biaya kerusakan truk,” katanya.

Di Brebes, Jawa Tengah, kerusakan jalan antara lain terlihat di Jalan Gajah Mada dan di jalur pantura Kaligangsa, Brebes. Di Kabupaten Tegal, kerusakan di jalur pantura antara lain di Dampyak, Larangan, dan Maribaya.

Kerusakan jalan di pantura juga terjadi di Jawa Barat. Jalan bergelombang dan berlubang-lubang terdapat di sepanjang jalur Cirebon hingga Karawang. Kerusakan yang mendominasi ruas Cirebon-Indramayu adalah jalan berlubang dan lokasinya menyebar, seperti di daerah Arjawinangun, Kertasemaya, Widasari, dan Losarang.

Di Karawang, kerusakan jalur pantura terlihat di dua titik, yakni di Cikampek dan Purwasari.

Jalur pantura Jawa Timur antara Situbondo dan Banyuwangi sepanjang 4 kilometer di Kecamatan Jangkar, Situbondo, juga rusak berat. Selama musim hujan, lubang yang menganga di jalan digenangi air sehingga merepotkan para pengguna jalan.

Jalan rusak, menurut Fatah Yasin, tokoh masyarakat di Kecamatan Jangkar, kadang-kadang menyebabkan kecelakaan lalu lintas, yang terutama dialami pengendara sepeda motor.

Agar persoalan jalan rusak memperoleh perhatian pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, ujar Fatah Yasin, pihaknya menggelar aksi damai sambil melakukan doa bersama, Rabu (12/1).

(HEN/DEN/WIE/THT/MKN/SIR)


Editor :